Ilmu sharf, atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Ilmu Shorof, dalam Tata Bahasa Arab, bak seorang ibu dalam sebuah keluarga. Namun, betapa pun pentingnya ilmu ini, bagi para santri yang pernah belajar Bahasa Arab, Ilmu Shorof pada dasarnya merupakan sebuah ilmu alat yang tidak terlalu sulit untuk dipelajari.

Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu alat lainnya, Ilmu Shorof cenderung lebih sederhana dan mampu dikuasai hampir seluruhnya pada jenjang pendidikan dasar. Seorang ustaz saat saya mondok dulu bahkan bisa merangkum keseluruhan pola-pola (wazn-wazn) shorof dalam selembar poster berukuran 1×1 meter.

Pada dasarnya, Ilmu Shorof membahas tentang bentuk-bentuk morfologis kata-kata secara individu dan terisolasi tanpa memperhatikan konteks kalimat di mana kata-kata tersebut berada, karena yang demikian adalah urusannya Ilmu Nahwu—bapaknya Tata Bahasa Arab.

Ilmu Shorof ini menjadi heboh ketika ada ulama yang menduduki jabatan tinggi di MUI dan dikenal telah mengisi acara pengajian di hampir seluruh pelosok negeri melakukan kekeliruan shorof yang paling mendasar. Jangankan ahli Bahasa Arab, murid-murid Madrasah Ibditdaiyah pun bisa jadi tertawa prihatin melihat kekeliruan tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, kita dihebohkan oleh dua orang tokoh agama yang membuat kekeliruan shorof yang bisa dikatakan fatal.

Ketika Ustaz Tengku Zulkarnain gagal memahami bentuk-bentuk morfologis dari kata kafara, bentuk dasar dari kata kafir, ia telah melakukan sebuah kekeliruan shorof yang serius sekaligus konyol karena pembahasan mengenai morfologi kata-kata semacam kafara terdapat pada halaman-halaman paling awal dari buku Ilmu Shorof yang dipelajari oleh murid-murid jenjang sekolah dasar.

Selanjutnya adalah Ustaz Haikal Hassan yang gagal membedakan kata kafir dari kata kuffar. Menurutnya, kata kafir dan kuffar adalah dua kata yang berdiri sendiri dengan makna yang berbeda. Padahal dalam Ilmu Tata Bahasa Arab, kata kuffar adalah bentuk jamak dari kata kafir.

Betapa pun konyol kedua kekeliruan tersebut, akan lebih konyol jika kita hanya berhenti pada tahap merendahkan dan memaki-maki mereka, apalagi menggunakan makian tersebut sebagai aset kampanye. 

Betapa pun konyol dan fatal sebuah kesalahan, kesalahan tersebut sangat mungkin memberi kita pencerahan. Seseorang yang bijak selalu belajar dari kesalahan, termasuk kesalahan orang lain.

Pada kasus Ustaz Tengku Zulkarnain, kekeliruan yang ia lakukan adalah menunjukkan bentuk mudhari’ (bentuk masa sekarang dan masa depan) dari bentuk madhi (bentuk masa lampau) kata kafara. Alih-alih menunjukkan bahwa bentuk mudhari’ tersebut adalah yakfuru, ia menyebutkan kata yukaffiru, yang sebenarnya adalah bentuk mudhari’ dari kata kaffara dan bukan kafara.

Kekeliruan ini sebenarnya bisa dikatakan serius tidak hanya dari segi morfologis, tapi juga dari segi semasiologis atau makna. Kata kafara yang berbentuk mudhari’ yakfuru bermakna menutup atau menjadi kafir, sementara kata kaffara yang berbentuk mudhari’ yukaffiru bisa bermakna menutup, menghapus, atau mengkafirkan. 

Bentuk nomina verbal (mashdar) dari dari kafara-yakfuru adalah kufr, sementara bentuk nomina verbal dari kata kaffara-yukaffiru adalah takfir. Anda tentu sudah sering mendengar tentang kata yang terakhir ini.

Kekeliruan yang dilakukan oleh Ustaz Tengku Zulkarnain adalah menyandingkan kafara dengan yukaffiru, lalu mengakhirinya dengan bentuk nomina verbal kufr

Karena ia menyandingkan kata-kata yang secara maknawi juga berbeda, kita dengan sedikit bercanda bisa menyimpulkan bahwa Ustaz Tengku Zulkarnain ini, karena sudah menutup hatinya (kafara), ia akan cenderung mengkafirkan orang lain sekarang dan selamanya (yukaffiru).

Hal lain yang bisa direnungkan dari kekeliruan pelibatan kata yukaffiru ini adalah menjadi semakin meluasnya cakupan pihak-pihak yang bisa disebut kafir. 

Jika Ustaz Tengku Zulkarnain tidak melakukan kekeliruan ini dan secara tepat menyandingkan kata kafara dengan yakfuru, cakupan pihak-pihak yang bisa dikatakan kafir hanyalah orang-orang muslim dan non-muslim yang kebetulan memiliki sifat kufr (menutup (iman, rasa syukur, sifat kedermawanan, atau apa pun)).

Namun, karena Ustaz Tengku Zulkarnain melibatkan kata yukaffiru, cakupannya menjadi lebih luas karena yang melakukan yukaffiru bisa siapa pun, termasuk pelaku terorisme yang mengkafirkan siapa pun dan bahkan juga termasuk Allah. Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran yang menyebutkan bahwa Allah juga melakukan yukaffiru (menutup dan melupakan dosa-dosa manusia yang berbuat saleh.).

Pertanyaannya, jika ism fa’il (subyek, pelaku atau nomina agen) dari kata kafara yang Ustaz Tengku Zulkarnain sandingkan dengan kata yukaffiru adalah kaafir, beranikah ia mengatakan bahwa Allah juga kafir?

Ternyata reperkusi atau dampak dari kekeliruan shorof yang paling dasar pun bisa begitu serius dan berbuntut panjang.

Kalau kekeliruan yang dilakukan Ustaz Tengku Zulkarnain bisa dikatakan murni konyol, kekeliruan yang dilakukan oleh Ustaz Haikal Hassan sebenarnya tidak begitu serius, bahkan bisa jadi mencerahkan, terutama bagi pihak-pihak yang penasaran dengan makna kata kafir yang sebenarnya.

Kekeliruan Ustaz Haikal Hassan adalah menyebut bahwa kata kafir dan kuffar adalah dua kata yang bermakna berbeda, alih-alih mengatakan bahwa kata kuffar adalah bentuk jamak dari kata kafir, terlepas dari variasi makna kedua kata tersebut.

Pernyataan tersebut tidak akan menjadi sebuah kekeliruan dan bahkan akan menjadi sebuah pernyataan yang mencerahkan jika yang diperbandingkan adalah kata kafirun dan kuffar. Karena keduanya adalah bentuk jamak dari kata kafir. 

Orang-orang yang menyimak pernyataan Ustaz Haikal Hassan tersebut akan lebih fokus pada arti kata-kata tersebut yang dijelaskan oleh Ustaz Haikal Hassan ketimbang menyalahkan dan mengkritisi sisi morfologis dari pernyataannya.

Dan jika yang diperbandingkan adalah kata kafirun dan kata kuffar, pernyataan Ustaz Haikal Hassan tentang makna kedua kata tersebut akan cenderung tepat. Kata kafirun memang merujuk pada sekelompok orang yang menolak ajaran Nabi Muhammad karena ketidaktahuan mereka akan ajaran tersebut atau karena meyakini bahwa penyembahan mereka terhadap berhala adalah sesuatu yang benar.

Inilah mengapa istilah ini digunakan dalam Surat al-Kafirun, sebuah surat yang sering disebut sebagai surat yang menegaskan toleransi umat Islam karena menegaskan identitas keimanan umat Islam tanpa tendensi merendahkan identitas keimanan umat lain.

Istilah kuffar, seperti dijelaskan oleh Ustaz Haikal Hassan, merujuk pada kelompok ekstremis yang menyerang Nabi dan umat Islam. Dan hal ini memang sejalan dengan arti dasar dari kata tersebut. 

Penanda tasydid atau tadh’if (penekanan yang ditandai dengan penggandaan huruf f) pada kata kuffar memang merujuk pada sifat melebih-lebihkan (mubalaghah), seperti halnya penggandaan huruf s dalam nama Haikal Hassan, yang membedakan kata hassan (orang yang sangat senang berbuat baik) dari kata hasan (orang baik). 

Inilah mengapa ada anggapan bahwa kata kuffar lebih tepat merupakan bentuk jamak dari kata tunggal kaffar (kafir ekstremis) daripada kata tunggal kafir.

Seperti halnya kata kafir, kata kaffar juga tidak selalu merujuk pada seseorang non-Muslim. Karena orang Muslim, khususnya yang memberikan utang dengan bunga yang mencekik, juga disebut seorang kaffar dan pendosa.

Asosiasi kata kuffar dengan ekstremisme menjadi alasan mengapa dalam ayat terakhir Surat al-Fath, para pengikut Nabi Muhammad disebutkan sebagai orang-orang yang bersikap keras terhadap kaum kuffar, dan bukan kafirun ataupun alladziina kafaruu.

Intinya, jika kita mau merenung sedikit, ada sisi yang mencerahkan mengenai definisi kata kafir dari kekeliruan yang dibuat oleh Ustaz Haikal Hassan.

Bagi kita orang Indonesia, kita harus jujur bahwa istilah kafir yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari tidak seberagam dan seberwarna-warni seperti ditunjukkan oleh definisi kata kafir yang muncul dari berbagai kekeliruan di atas. Bagi kebanyakan dari kita, kafirnya kaum kafirun sama saja dengan kafirnya kuffar.

Hal inilah yang mungkin menjadi sebuah dasar rasional mengapa kata kafir sebaiknya dihilangkan saja dari percakapan sehari-hari kita.

Apakah penghilangan kata kafir dari percakapan sehari-hari kita berbahaya bagi keimanan kita? Apakah penghilangan tersebut berdampak revisi terhadap Alquran dengan menghapus kata kafir dari kitab suci tersebut? Tentu saja tidak.

Di tempat di mana saya tinggal, ada seorang mubalig yang terkenal dengan ceramahnya yang jenaka, mencerahkan, dan menyejukkan hati. Salah satu dari ceramahnya membahas tentang ayat terakhir dari Surat al-Fath, yang sering dianggap sebagai ayat paling galak terhadap kaum kafir. 

Anda dapat menyimak ceramah tersebut yang kebetulan sudah di unggah di YouTube melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=HU8zcQfOojQ

Uniknya, dalam ceramah tersebut, kata kuffar tetap disebutkan dalam ayat yang dibahas. Namun ketika diterjemahkan dan diterangkan di hadapan jemaah, tidak sekalipun istilah kafir dan semua turunannya disebutkan.

Jadi cukup jelas: kita tidak perlu melakukan revisi terhadap Alquran untuk meminimalisasi penggunaan istilah-istilah yang bertendensi merusak kerukunan dalam masyarakat kita.

Juga cukup jelas bahwa untuk memahami secara menyeluruh tentang istilah-istilah dalam Alquran dan untuk menentukan kelayakan penerapannya dalam percakapan sehari-hari, dibutuhkan pemahaman yang matang akan ilmu-ilmu alat.

Ketika kita membuat kesalahan sekecil apa pun ketika membuat pernyataan yang terkait dengan ilmu-ilmu alat di hadapan publik, kita tidak hanya akan membahayakan orang-orang yang menyimak pernyataan tersebut, tetapi juga membahayakan martabat dan kredibilitas kita sendiri, terlebih lagi jika kita memposisikan diri kita sebagai seorang tokoh.