Sudah merupakan kebiasaan, ketika siang hari, saya dan teman-teman berada di kafe kampus. 

Seusai menyelesaikan urusan kuliah masing-masing, kita memang selalu menyempatkan diri datang ke kafe ini. Sekadar untuk ngopi, makan, ngobrol, mengerjakan tugas ataupun skripsi, dan berbagai aktivitas lainnya. 

Alasannya, kafe ini memiliki tempat yang luas dan suasana yang nyaman, serta harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa. Bahkan, kita juga sering mengadakan diskusi komunitas di kafe ini.

Entah kenapa, siang ini, saya mendadak memikirkan sesuatu. Saya merasakan ada perubahan di kafe ini. 

Saya mulai menyadari bahwa kafe makin ramai. Pengunjungnya makin banyak. Semua kursi dan lesehan terisi penuh oleh pelanggan yang mayoritas mahasiswa. Tidak hanya saat jam makan siang, tetapi sepanjang hari ramainya tidak berubah.

Padahal, dulu kafe ini tidak seramai sekarang. Hanya beberapa mahasiswa dan dosen saja yang datang. Ramainya pun paling hanya saat jam makan siang. Selebihnya, kafe ini sepi lagi.

Perubahan ini membuat saya berpikir, ramainya kafe ini adalah buah dari makin bertambahnya jumlah mahasiswa di kampus ini. Setiap tahunnya jumlah mahasiswa yang diterima di kampus ini selalu meningkat. Kondisi ini membikin kampus jadi sesak.

Meningkatnya jumlah mahasiswa ini bukan hanya terjadi di kampus saya, tetapi terjadi di hampir semua kampus di Indonesia. Beberapa pihak menyebut, peningkatan jumlah mahasiswa ini adalah cerminan dari makin baiknya kualitas kampus. 

Karena kampus makin baik, maka jumlah peminatnya pun makin banyak. Dalam lingkup yang lebih luas, makin banyaknya jumlah mahasiswa dinilai sebagai makin tingginya kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Pertanyaannya, benarkah demikian?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kiranya kita perlu menelusuri dasar pemikiran seseorang untuk masuk ke perguruan tinggi. Faktanya, motif mayoritas orang menempuh pendidikan ke tingkat perguruan tinggi adalah agar memperoleh pekerjaan yang lebih layak. 

Gelar sarjana yang mereka peroleh dari perguruan tinggi dianggap mampu meningkatkan nilai tawar dalam persaingan dunia kerja. Pola pikir seperti ini telah menumbuhkan obsesi masyarakat luas terhadap gelar akademik. 

Pendidikan disempitkan menjadi semata pengejaran gelar. Beragam informasi dihafalkan, lalu dimuntahkan ulang dalam berbagai ujian supaya bisa mendapatkan gelar. Gelar akademik ini lalu dianggap jalan satu-satunya untuk mendapat pekerjaan yang layak serta karier yang gemilang.

Padahal beragam penelitian dan data menunjukkan bahwa gelar akademik tidak menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang yang berimplikasi langsung pada peningkatan kemakmuran suatu bangsa.

Barangkali kita perlu menilik apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dalam jurnal yang ditulis oleh Reza A.A Wattimena yang berjudul Pendidikan Gila Gelar?, ia mengurai persoalan mendasar dari sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Uni Eropa serta kesesuaianya dalam pendidikan di Indonesia.

Dalam jurnal tersebut, Reza menjabarkan beberapa argumen penting dari Julian Nida-Rumelin terkait dengan ‘kegilaan akademisasi’ yang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Menurut Nida-Rumelin, yang menjadi masalah dalam pendidikan bukanlah institusi maupun praktik dunia pendikan itu sendiri, melainkan ideologi pendidikan yang tidak manusiawi. 

Dalam arti ini, Nida menjelaskan, yang dimaksud dengan ideologi ialah cara pandang terhadap dunia. Ideologi semacam ini telah bercokol di perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Uni Eropa selama bertahun-tahun.

Di dalam sistem pendidikan di AS dan Inggris, sebagaimana dijelaskan Nida-Rumelin, jika orang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat college, maka ia hanya memiliki satu ijazah, yaitu ijazah SMU. 

Tidak ada pendidikan lebih jauh yang memberikan keterampilan padanya, sehingga ia bisa bekerja dengan pendapatan yang layak. Jika mereka dipaksa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat college, maka itu akan membutuhkan biaya amat tinggi. 

Pendidikan di tingkat ini juga membutuhkan kemampuan berpikir abstrak dan melakukan penelitian ilmiah yang cukup tinggi. Tidak semua orang memilikinya. Banyak orang terampil di dalam berbagai bidang, namun tak memiliki kemampuan berpikir abstrak maupun melakukan penelitian ilmiah.

Lebih lanjut, sebagaimana ditulis Reza dalam jurnal tersebut, di dalam dunia pendidikan sekarang ini, terutama yang terkena dampak langsung dari globalisasi, ada sebuah kesalahan berpikir mendasar. Nida-Rumelin menyebutnya: “kesalahan berpikir ekonomi pendidikan”.  

Sederhananya, ketika seseorang yang bergelar sarjana lulusan perguruan tinggi memiliki pendapatan yang lebih tinggi daripada yang tidak bergelar, maka dianggap bahwa mereka memiliki sumbangan lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. 

Juga, jika gelar akademik diangap lebih gampang dapat pekerjaan, maka orang-orang bergelar akademik dianggap berperan lebih penting di dalam perkembangan ekonomi daripada orang-orang yang tidak bergelar.

Anggapan dasarnya adalah bahwa makin banyak orang bergelar akademik di suatu negara, maka makin tinggi pertumbuhan ekonomi tersebut. Faktanya tidak seperti itu.

Ketika jumlah sarjana bertambah, sementara uang untuk menggaji mereka makin berkurang, maka lapangan kerja pun makin sempit. Ketika lapangan kerja berkurang, maka pengangguran juga bertambah, terutama penganguran yang berpendidikan, yakni pengangguran lulusan universitas. 

“Kesalahan berpikir ekonomi pendidikan” ini menunjukkan dengan jelas bahwa bertambahnya orang yang bergelar akademik tidak berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi masyarakat. Sebaliknya, peningkatan jumlah orang yang bergelar akademik bisa mendorong terciptanya pengangguran.

Ironisnya, sistem pendidikan semacam ini telah menjadi tren internasional, tak terkecuali di Indonesia.

Melampaui Paradigma

Dari uraian di atas, kiranya cukup memberi gambaran bahwa membanjirnya jumlah mahasiswa tidaklah merupakan indikator tingginya mutu pendidikan. Terlebih, jika paradigma pendidikan yang dianut hanya semata untuk pengejaran gelar akademik. Sistem pendidikan semacam ini juga terbukti tidak secara langsung menciptakan kesejahteraan ekonomi di tingkat nasional.

Tidak bisa dimungkiri, perguruan tinggi telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan wacana keilmuwan. Namun, paradigma pendidikan yang menjadikan gelar akademik sebagai jalan satu-satunya untuk meraih kesuksesan yang berimplikasi secara langsung dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi tingkat nasional sungguh merupakan sebuah kegilaan yang tidak memiliki faedah.

Kesalahan dalam paradigma pendidikan perlu disadari bersama. Tidak hanya sebatas itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia secara luas membutuhkan perubahan pemahaman yang mendasar tentang pendidikan dari berbagai segi.

Dalam hal ini, Reza A.A Wattimena mengajukan tawaran menarik. Guna melampaui ideologi pendidikan tersebut, maka diperlukan sebuah paradigma yang baru. Di dalamnya terdapat pemahaman bahwa pendidikan akademik dan non-akademik sejatinya setara. 

Pemahaman ini lalu diterjemahkan ke dalam pengakuan resmi dari pemerintah dan masyarakat luas terhadap kesetaraan pendidikan ini. Pengakuan ini akan berdampak luas, tidak hanya bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi mutu keseluruhan dari hidup warga negara tersebut.