Bumi kita semakin tua, krisis lingkungan hidup dimana hal ini berdampak pada adanya kerusakan lingkungan. Isu-isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi pembicaraan pada dunia global. 

Hal ini membawa kita terhadap adanya konservasi lingkungan. Adanya permasalahan lingkungan dapat berdampak pada bencana bagi para penghuni bumi. 

Salah satu permasalahan lingkungan yang paling penting saat ini adalah adanya perubahan iklim. Suhu bumi yang semakin naik akibat dari pemanasan global menyebabkan iklim yang berubah-ubah secara drastis. 

Pemanasan global menjadi ancaman bagi manusia, faktor penyebabnya adalah efek rumah kaca akibat dari aktivitas manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar fosil batubara, gas, dan minyak bumi.

Isu lingkungan terkait perubahan iklim menjadi ancaman bagi seluruh manusia di bumi dan mendorong negara dunia untuk mengantisipasinya. Dalam menjaga keberlangsungan hidup umat manusia inilah yang disebut sebagai human security. 

Dalam menghadapi permasalahan isu perubahan iklim tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, melainkan beberapa negara atau bahkan seluruh negara untuk berjasama dalam mengatasi, mencegah, dan menangani permasalahan tersebut.

Permasalahan perubahan iklim perlu mendapat dukungan dari berbagai negara. Dalam menghadapi permasalahan isu perubahan iklim tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, melainkan beberapa negara atau bahkan seluruh negara untuk berjasama dalam mengatasi, mencegah, dan menangani permasalahan tersebut.

Salah satunya adalah Indonesia, politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Namun kebijakan luar negeri indonesia harus adaptif dengan segala kepentingan dan persoalan yang terjadi. 

Indonesia merupakan negara yang mendukung penuh dan komitmen dalam menangani isu lingkungan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kontribusi Indonesia dalam United Nations Framework Convention on Climate Change UNFCCC, Protokol Kyoto, Paris Agreement, dll. Pada kali ini saya akan menulis bagaimana peran Indonesia dalam menangani isu lingkungan global pada era pemerintahan joko widodo.

Kontribusi Indonesia dalam menangani isu lingkungan global pada era pemerintahan Joko Widodo dapat kita lihat pada komitmen Indonesia dalam Paris Agreement. Indonesia ikut meratifikasi kesepakatan Paris tersebut di New York pada 22 April tahun 2016 lalu. 

Dapat diketahui sebelumnya Paris Agreement pertama kali dibentuk pada Desember 2015. Indonesia ikut meratifikasi perjanjian tersebut. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengurangi efek Gas Rumah Kaca GRK dan aktif turut serta menjaga perubahan iklim. 

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia sangat serius dalam upaya menangani isu lingkungan perubahan iklim dan mengajak negara-negara dunia untuk turut serta melakukan aksi nyata. Penanganan masalah perubahan iklim merupakan salah satu kepentingan nasional Indonesia. 

Hal ini karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dan memiliki banyak hutan tropis. Melalui kebijakan, pemberdayaan, dan adanya penegakkan hukum, dalam 20 tahun terakhir laju deforestasi di Indonesia saat ini menjadi turun terendah.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomer 16 Tahun 2016 tentang ratifikasi perjanjian Paris. Dimana pemerintah Indonesia berkomitmen melalui 9 point aksi prioritas pembangunan Indonesia yang dituangkan dalam Nawa Cita. 

Hal ini merupakan komitmen nasional menuju ke arah pembangunan yang mengurangi emisi gas karbon dan memiliki ketahanan iklim, melalui adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebagai hal prioritas yang terintegrasi dan lintas-sektoral dalam agenda pembangunan nasional. 

Pada November 2016 dalam UNFCCC, Indonesia menyampaikan komitmennya dalam Nawa Cita ini, yang menjadi dasar bagi penyusunan dokumen the First Nationally Determined Contribution atau dikenal dengan NDC. 

Dalam dokumen tersebut menjelaskan terkait menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah emisi gas karbon, meningkatkan kapsistas adaptasi, dan berketahanan iklim .

Presiden Joko Widodo mengajak negara di dunia untuk memajukan pembangunan hijau. Indonesia memberikan respon baiknya terhadap Konvensi Kerangka Perubahan Iklim ke-26 yang diselenggarakan di Inggris untuk hasil yang implementatif dan seimbang. 

Selain itu, Indonesia juga menyambut baik negara-negara yang menargetkan program untuk mencapai net zero emission tahun 2050. Namun, komitmen tersebut harus dilaksanakan berdasarkan pemenuhan komitmen dalam Nationally Determined Contribution NDC tahun 2030.

Selain itu Indonesia pada pemerintahan Joko Widodo menjadi ketua dalam G-20. Pada pertemuan oktober 2021 lalu di Roma membahas terkait perubahan iklim. Untuk menyikapi masalah tersebut, presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim ke-26 di Glasgow, Skotlandia. 

Indonesia pada pemerintahan Joko Widodo menunjukkan sikap komitmennya terhadap masalah perubahan iklim. Dalam pertemuan tersebut Joko Widodo memberikan pernyataan bahwa Indonesia tidak hanya sekedar beretorika terkait masalah perubahan iklim, tetapi Indonesia sudah menyusun langkah konkret dalam menangani masalah tersebut. 

Untuk pilot percontohan net zero emission Indonesia sedang mempercepat pembangunan Indonesia Green Industrial Park di Kalimantan Utara yang dinilai akan menjadi terbesar di dunia dengan luas 12.500 hektare. 

Presiden Indonesia Joko Widodo menegaskan akan memperioritaskan kerjasama dalam perubahan iklim dan pembangunan yang berkelanjutan dalam KTT G-20, yang diselenggarakan pada November 2022 kemarin.

Dalam pembukaan Climate Adaptation Summit pada Februari 2021 lalu, Joko Widodo menyampaikan bahwa Indonesia mengeluarkan program Kampung Iklim melalui Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Program tersebut memiliki target 20.000 kampung iklim pada 2024 mendatang. 

Dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia pada pemerintahan Joko Widodo turut serta memberikan komitmennya dalam menangani isu lingkungan perubahan iklim.