Inong mematung di depan pintu kaca sebuah toko kue besar di pusat kota sembari memandang sekeliling. Toko kue  itu mirip seperti yang dilihatnya bersama Emak di sebuah film barat ketika menumpang nonton di rumah tetangga. Bangunannya sangat tinggi beratap kerucut dengan cat merah bata.

Saat ini mata gadis itu terfokus pada jejeran potongan kue merah nan elegan yang ditata dalam etalase melengkung. 

Kue merah itu tampak paling mencuat diantara kue-kue lainnya dalam etalase melengkung itu. Seolah-olah dialah sang primadona.

Inong memperhatikan lekat-lekat. Si merah itu berbentuk segitiga,  berlapis tiga dengan selingan krim putih. Di atasnya bertabur coklat parut berwarna putih dan hitam. Di atas taburan coklat parut itu ditumpuk lagi krim putih lembut ditemani sebuah ceri segar bertangkai. Sungguh menggoda mata dan tentu saja lidah.

Menurut Inong, Kue merah itu pasti terlihat sempurna apabila dilengkapi lilin ulang tahun yang menyala. memandangnya lama-lama membuat air liur Inong terbit seketika.

Mendadak Inong merasa iri dengan Emak. Dulu sekali, Emak pernah mencicipi kue merah itu di rumah pelanggannya. Emak sungguh  beruntung karena pernah mencicipi sepotong kue merah itu.

Red velvet, begitu nama kue itu menurut Emak. Namanya pun terkesan hebat.

"Kalau diterjemahkan Nong, artinya kue beludru merah. Itu kue keberuntungan yang selalu jadi makanan favorit tentara- tentara pada masa perang dunia II. Karena kue itu, mereka memperoleh kemenangan demi kemenangan,  Nong" begitu penjelasan Emak. Inong tersenyum tulus, dalam hati bertanya-tanya darimana Emak mengetahui sejarah si kue merah.

"Pasti kue seperti itu mahal Nong, dan tidak sembarang toko kue yg menjualnya."

"Iya Mak, nanti kalau ada uang, kita beli ya Mak. Siapa tahu kita bisa beruntung seperti tentara-tentara itu" Balas Inong waktu itu.

Namun hari-hari berlalu, mereka  disibukkan rutinitas. Uang selalu pas-pasan untuk hidup sehari-hari. Perlahan si merah red velvet terlupakan.

Sudah sebulan ini, Emak sakit. Tidak lagi bekerja mencuci baju pelanggan dan hanya berbaring saja di tempat tidur. Mau tak mau Inong terpaksa bekerja lebih giat. Pergi lebih pagi, kemudian pulang lebih larut menawarkan jasa semir sepatu seperti biasanya.

Tas lusuh beserta seperangkat alat semir selalu setia menemaninya menyusuri keramaian kota. Tak jarang, Ia ikut bergabung menemani teman mengamen di malam hari. Hasilnya cukup lumayan untuk tambahan biaya hidup sehari-hari.

Kata Emak, Inong boleh melakukan pekerjaan apa saja asal itu halal dan tidak jadi peminta-minta. Menjadi peminta-minta berarti mengobral kesedihan demi selembar rupiah belas kasihan orang. Meskipun terkesan mudah dan tanpa usaha, Inong tidak ingin minta-minta karena itu akan membuat emak murka.

Sudah satu jam Inong berdiri di toko kue itu. Pandangan karyawan toko di dalam toko kue pun perlahan berubah menjadi pandangan curiga. Inong mencoba tak peduli, karena tiba-tiba saja kesedihan mencuat di hatinya. Kesedihan yang disebabkan sebaris angka yang tertera dekat barisan si kue merah. Rp. 75.000,-

Beberapa hari lagi Emak berulangtahun. Ditengah ujian sakit yang dialaminya, ingin sekali Inong membelikan sepotong kue merah itu untuk Emak. Kalau benar perkataan emak, jika si merah itu membawa keberuntungan,  mungkin saja setelah mencicipinya lagi, Emak akan berangsur sembuh dan bisa kembali bekerja.

Beberapa hari terakhir Inong tak pernah absen mengunjungi toko kue ini. Hanya untuk melipur laranya, menguatkan semangatnya untuk lebih giat bekerja. Demi sepotong red velvet untuk Emak.

Inong sudah memperhitungkan simpanan dari hasil bekerja. Tujuh puluh lima ribu rupiah red veved bisa dibeli tepat di hari ulang tahun emak besok, jika Ia berhasil mengumpulkan sepuluh ribu rupiah hari ini.

Tanpa terasa matahari mulai surut, hari beranjak gelap. Inong undur diri dari toko kue itu, bergegas kembali bekerja demi kekurangan sepuluh ribu rupiah.

Esoknya, dengan riang gembira inong mendatangi toko kue. Senyum tidak juga surut dari wajahnya. Simpanannya bertambah menjadi tujuh puluh sembilan ribu. Bahkan lebih empat ribu rupiah.

Inong bersemangat sekali memasuki toko kue itu, sama sekali tak menghiraukan pandangan orang-orang di dalam toko kue. Namun alangkah terkejutnya Inong,  sebaris angka yang menunjukkan harga si merah sudah berubah. Rp. 100.000,-

Jelas sekali simpanannya tak cukup untuk mempertemukan si kue merah dengan Emak. Tanggal ulang tahun Emak barang tentu sudah paten, tidak bisa diundur. Mendadak kesedihan kembali mengudara.

Buru-buru Inong keluar toko sambil mencengkeram erat tas lusuh berisi seperangkat alat semirnya. Bergegas menuju keramaian pusat kota demi kekurangan dua puluh satu ribu rupiah.

Masih tersisa enam jam lagi menjelang ulang tahun Emak berakhir. Inong lelah, namun menyerah tidak pernah menjadi pilihan dalam hidupnya.

Detik ini Inong menyadari satu hal, betapa mahalnya sebuah keberuntungan yang tersimpan pada sepotong red velvet.

Awal maret yang masih diguyur hujan