Siang itu, untuk mengisi sedikit kebosanan, saya biasa membuka Instagram untuk sekadar melihat update dan apa yang sedang viral. Dan saat saya menekan menu pencarian, beberapa informasi update, viral, fakta, hoaks, semua bermunculan. 

Dari sekian banyak informasi yang bermunculan, hanya beberapa yang membikin saya cukup tertarik. Apa itu? Adalah sebuah gambar/foto anak bertelanjang dada, hanya mengenakan celana bokser mini dan tampak dia memakai sebuah kacamata renang berwarna hijau.

Gambar/foto anak itu berlatarkan laut/pantai dengan hiasan sampah (plastik, kain) yang mengambang di permukaan air. Anak itu tampak sedang melakukan aktivitas mengumpulkan barang plastik yang dia simpan di karung tepat berada di sebelahya. Tampak karung itu telah terisi dengan beberpa barang. 

Dan saya cukup takjub dengan ekspresi si anak dari foto itu. Dia tersenyum riang, entah kerena merespons si pengambil gambar ataukah karena wujud dari kebahagiaan atas apa yang dia lakukan. Entah.

Foto anak itu mendapat 4.000 like dari para nitizen pada akun @free_from_plastic. Dan tenang, dari apa yang saya sebutkan di atas, tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Manila, Filipina.

Lain Filipina lain Indonesia, tepatnya di Wakotobi, Sulawesi Tenggara. Melalui akun media Instagram @wwf_id, melaporkan klasifikasi sampah yang menghiasi pesisir laut wakatobi.

@wwf_id melaporkan, terdapat beberapa jenis sampah yang mendiami 4 titik pesisir Wakatobi. Dengan presentase 24,73% plastik lunak, 10,34% busa, 7,2% kaca, 6,08% lain-lain (logam, kayu, kail), 4,79% karet, 20,16% plastik keras, 7,21% tali plastik, 5,56% kain, 3,92% kertas kardus. 

Dan rincian plastik lunak yang mendominasi secara keseluruhan pada 4 titik pesisir Wakatobi adalah 39,95% gelas, 33,85% pembungkus makanan, 9,98% kantong plastik besar, 7,08% katong plastik kecil, 4,61% terpal, dan 4,52% sedotan.

Proses identifikasi ini sayangnya tidak dapat sampai pada sumber dari sampah-sampah ini. Walaupun begitu, menjadi sangat mengagumkan adalah komitmen pemerintah daerah dengan mengeluarkan PERPU No. 12 Tahun 2018 sebagai upaya meminimalisasi jumlah sampah di pesisir laut.

Dukungan pemerintah sangatlah penting jika ditinjau dari kekuatan dan daya pressure-nya, baik bagi pelaku produsen plastik, pelaku usaha, dan masyarakat sebagai pengguna. Maka langkah yang ditempuh oleh Pemda Wakatobi adalah kritik atas pemerintah sejajarannya dan pemerintah negara. Bahwa menjaga keberlangsungan lingkungan hidup tidak akan tercapai jika hanya dilakukan melalui wacana dan janji saja.

Sebelum Pilpres 2019, pada Pilpres 2014 dan terpilihnya Pak Jokowi sebagai presiden, mengusunug 9 Nawacita sebagai Grand Program selama masa pemerintahannya. Nawacita ini sebagai spirit membangun Indonesia tentunya adalah ikhtiar yang luhur. Namun sayang, isu tentang keberlangsungan lingkugan hidup tidak disentuh secara langsung.

Sektor lingkugan hidup yang merupakan penjaminan keberlangsungan hidup manusia Indonesia dan manusia bumi tidak menjadi perhatian khusus. Padahal isu dan fakta tentang lingkungan, mulai dari hipotesis para peneliti, data riset penelitian dan fenomena yang sudah ada menggambarkan jelas kondisi kritis yang dialami oleh bumi kita. 

Fanomena lain yang mungkin cukup mengiris hati, yaitu dari aktivitas penambangan batu bara. Dan lagi-lagi dari akun Instagram @greenpeaceid, mengungkapkan lubang bekas tambang batu bara yang ditinggalkan begitu saja tanpa direklamasi jumlahnya sangat banyak. Dan lubang yang ditinggalkan terdapat air bekas limbah galian tambang batu bara, tentunya limbah cair ini akan mencemari sungai dan tanah di sekitarnya.

Dari sini, kemudian apa dampak langsung yang dirasakan manusia dan makhluk hidup lainnya? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban dari tinjauan para ahli atau riset terlebih dahulu. Cukup masyarakat sendiri yang menjawab karena merekalah yang paling tahu dan merasakan secara langsung dampaknya.

Permasalahan keberlangsungan lingkungan hidup, jika dilihat sepintas, maka faktor ekonomi menjadi variabel yang ikut berperan. Dan menjadi solusi dari kerusakan lingkungan, pemanasan, dan perubahan iklim.

Adalah wacana Green Ekonomi, KTT Rio+20 di Rio de Janeiro pada 20 Juni 2012, Presiden SBY secara lantang mengajak para pemimpin dunia untuk beralih dari greed economy ke green economy (perilaku ekonomi yang ramah lingkungan) (dikutip dari Green Ekonomi Lako Andre).

Namun, Strategi Menghijaukan Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi, apakah dapat menjadi solusi dari keberlangsungan lingkungan hidup dengan keselarasan pertumbuhan ekonomi? Jika dilihat dari awal pewacanaannya sampai saat ini, sudah seberapa jauh Green Ekonomi menjadi pengawal keberlangsungan lingkungan hidup?

Berharap pemerintah sebagai institusi pemegang kekuasaan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan hidup, maka kita harus bersiap dengan kenyataan. Bahwa kebijakan pemerintah akan berubah seiring pergantian tampuh kepemimpinan. 

Maka, persoalan solusi terkait keberlangsungan lingkungan hidup adalah persoalan kesadaran menempatkan sampah yang kita hasilkan pada tempatnya, merupakan solusi yang kita kubur ke dalam alam ketidaksadaran.