Sejarah adalah modal sebuah semangat juang. Agaknya hal itu bisa menjadi acuan semangat kita untuk senantiasa mencintai dan menghayati sejarah, termasuk sejarah sastra Indonesia. 

Setidaknya Indonesia mengenal sejarah sastra sebagai sebuah fenomena penuh lika-liku. Walaupun akhirnya pergerakan sastra berhasil mewariskan kekayaan budaya yang tak kunjung mati.  

Salah satu pergerakan sastra yang terus membudaya hingga kini adalah seni teater. Seni ini mewadahi kehidupan berlakon sekaligus bersastra yang harumnya selalu mengundang decak takjub. Eksistensinya seakan tak pernah padam hingga kini. 

Namun, sayangnya tak banyak orang sadar akan pentingnya menghayati peran tokoh-tokoh di balik harumnya sebuah karya. Karena realitanya, masyarakat mulai memandang samar terhadap dramawan-dramawan tanah air yang dulu tersohor sebagai perintis membuminya seni teater Indonesia. 

Untuk itu, penulis ingin mencoba mengangkat gairah bersastra pembaca dengan mengulas salah satu sastrawan, sekaligus pegiat teater dan drama di Indonesia, yaitu Wisran Hadi.  

Wisran Hadi, seorang sastrawan asal Padang yang menghabiskan separuh hidupnya di dunia seni kepengarangan dan seni peran. Ia adalah seniman dan budayawan Indonesia yang cukup berpengaruh, terutama di bidang teater. 

Dunia teater dan drama telah menghantarkannya sebagai sastrawan yang terpandang, di samping sumbangsinya dalam kepengarangan cerpen, novel, dan puisi yang juga tak sedikit jumlahnya.  

Walau aktif dan mahir dalam banyak bidang seni, ia lebih dikenal sebagai pegiat seni teater. Terutama karena dari tangannya telah lahir sebuah kelompok teater besar yang dikenal dengan nama Bumi Teater.

Kelompok teater yang berdiri sejak 45 tahun silam (1976) ini merupakan salah satu warisan seni sekaligus dapur yang melahirkan banyak seniman berbakat Indonesia. Dari sana pula kemudian banyak aktor, hingga sutradara yang mendirikan kelompok-kelompok teater baru di berbagai wilayah Indonesia.

Satu hal yang jarang diketahui, bahwa Bumi Teater sebenarnya tak lahir sebagai sebuah kelompok teater. Ia justru lahir dalam wujud kelompok seni rupa. Cabang seni yang menjadi keahlian awal seorang Wisran Hadi. Yang mana ia adalah alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI),Yogyakarta.

Bumi teater berdiri pada masa pasca kemerdekaan. Masa di mana kesenian Indonesia tengah menggeliat, menuju pembaharuan yang sebelumnya memiliki ruang gerak yang ketat. Oleh karenanya, Bumi Teater menjadi kelompok kesenian yang menawarkan dimensi dan wajah baru, terutama di wilayah Sumatera Barat.

Kebaruan yang ditawarkan salah satunya adalah adanya sajian tradisional dengan sentuhan modern yang apik di setiap pementasannya. Wisran Hadi begitu handal menyulap berbagai mitos tradisional Sumatra Barat menjadi sesuatu yang mungkin sebelumnya tak pernah terpikir oleh masyarakat awam.

Sayangnya pembaruan yang ditawarkan tersebut terkadang justru mengundang kontroversi di kalangan masyarakat. Sebagai sebuah kelompok yang mewadahi banyak kepala, serta bergerak di tengah masyarakat, geliat Bumi Teater pun berjalan bukan tanpa hambatan.

Pasalnya, selain dikenal dengan drama-dramanya yang puitis dan berbentuk parodi, pertunjukan-pertunjukan yang dimotori oleh Wisran sering kali dianggap tabu. Hal ini tidak lain karena pemikiran Wisran yang cenderung mengalihkan pikiran tradisional masyarakat yang kuno.

Misalnya saja pementasan Malin Kundang yang dianggap janggal karena mengubah citra Malin sebagai anak durhaka. Atau pertunjukan Imam Bonjol yang juga membuat sosok tokoh utama menjadi tak apik di mata publik. 

Terlepas dari semua itu, hal baik yang bisa dipetik adalah, Wisran justru dianggap sebagai seniman yang memberikan warna baru dalam dunia teater Indonesia. Darinya dapat terlihat pembaruan yang sangat menonjol,  terutama dalam memberikan pemahaman terhadap pikiran-pikiran awam masyarakat.

Selain itu, dapat digaris bawahi, bahwa atas asuhan Wisran Hadi, Bumi Teater tampil sebagai kelompok seni yang sangat berpengaruh, termasuk dalam memprakarsai seni teater modern di Sumatra Barat.

Di tangannya, seni teater yang sebelumnya terkesan begitu tradisional, disulap menjadi sesuatu yang lebih baru dan menarik. Walaupun terdapat proses olah warna yang sedemikian rupa hingga dianggap menjungkirbalikkan apa yang telah menatap dalam pikiran masyarakat.

Perjalanan panjang Wisran pada akhirnya mendapat balasan setimpal. Hal ini dibuktikan dengan banyak penghargaan yang dianugerahkan kepadanya. Di antaranya yaitu penghargaan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ yang diperolehnya sejak tahun 1975—1981, 1984, 1985, dan 1998.

Selain itu, Wisran juga pernah mendapat penghargaan SEA Write Award (2000), International Writing Program di The University of LowaAmerika Serikat (1977-1978), dan masih banyak lagi.  

Capaian gemilang Bumi Teater sebagai sebuah kelompok seni dan Wisran Hadi sebagai sosok dibaliknya, memang patut dihargai. 

Namun, prestasi  yang sesungguhnya adalah konsistensi kelompok Bumi Teater dalam mempertahankan posisinya, di tengah gesekan budaya modern yang semakin sengit. 

Selain itu, yang dapat dicermati adalah, melalui Bumi Teater, Wisran Hadi telah menyumbangkan cenderamata yang sangat berharga bagi dunia teater Indonesia. Namanya akan selalu ada, bersama dengan abadinya setiap karya yang tergurat.