“Kebencian adalah kekuatan. Kemarahan adalah tenaga,” tulis Goenawan Mohamad dalam Majalah Tempo edisi 11-17 Januari 2016.

GM juga mengutip ungkapan Darth Vader kepada Luke Skywalker dalam Return of the Jedi, “Luapkan kemarahanmu. Hanya kebencianmu yang dapat menghancurkan aku.”

Kemarahan dan kebencian menjadi ideologi ekstrem bersama bagi pelaku kekerasan nan bengis. Rangkaian antara kemarahan, kebencian, dan kekerasan menjadi asas tunggal yang berlaku bagi setiap perusak tatanan dunia. Sejarah kehidupan manusia membuktikan. Betapa sering sebuah peradaban yang damai nan permai tiba-tiba runtuh oleh sebab kebencian dan kemarahan.

Bahkan sejak awal mula kehadiran manusia di muka bumi. Di masa nabi Adam, kebencian Qabil kepada Habil–karena keputusan Adam dalam memilihkan istri bagi keduanya, menjadikan Qabil diliputi kemarahan hingga ke ubun-ubun. Lalu dia melakukan pembunuhan pertama di dunia.

Kebencian semacam ini direproduksi di sepanjang sejarah manusia. Menjadi sumber konflik. Meluruhkan nilai-nilai manusiawi. Sebagai pemicunya, bertautan banyak hal. Mulai dari persoalan keyakinan agama yang ekslusif, rebutan kekuasaan, saling berbanyak materi, keinginan pada wanita jelita, hingga pertikaian atas nama marwah dan ego diri.

Dari mana datangnya benci? Adalah dari dalam diri. Bukan dari agama. Bukan dari negara. Bukan dari alam semesta. Bukan dari sifat manusia yang sebenarnya. Manusia pada dasarnya memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang menjadikannya berbeda dengan binatang.

Pada tingkatan tertentu, manusia menjadi sangat humanis. Di saat berbeda, juga akan menjadi sangat tidak manusiawi dan bahkan melebihi naluri hewani. Ketika manusia menihilkan kasih sayang dan empati, di situlah rasa kemanusiaannya yang hakiki telah terkikis, bahkan hilang, tergantikan oleh kebencian dan kemarahan.

Perilaku kebencian terbentuk oleh sebuah ideologi. Dalam KBBI offline V 0.2.0 Beta, ideologi memiliki tiga arti, yaitu sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; cara berpikir seseorang atau suatu golongan; paham, teori, dan tujuan yang merupakan program sosial politik.

Dalam melakukan segala sesuatu, seseorang tidak bisa terbebas dari ideologi yang dianutnya. Dari ideologi itu, perilaku yang lahir bisa berupa sesuatu yang paling baik hingga paling buruk. Dari pandangan hidup yang diyakini, tumbuh etika moral yang menuntun manusia dalam setiap gerak lakunya.

Immanuel Kant menyebut bahwa postulat moral ditegakkan atas tiga dasar. Pertama, otonomi atau kebebasan memilih dan melakukan suatu dengan tanpa paksaan.

Kedua, unsur keabadian atau adanya keyakinan hidup setelah mati yang menjadikannya tidak semena-mena. Bahwa setiap perilaku manusia akan berbalas nanti. Bahwa kebaikan dan keburukan tidak akan sia-sia adanya.

Ketiga, Tuhan sebagai sumber moralitas dan pengadil di hidup setelah mati.

Pada mereka yang menganut ideologi kebencian, hal itu menjadi hilang. Ketika merasa terzalimi dan tersakiti, ingin langsung menerabas norma dan nilai demi balas dendam. Bahwa kesakitannya harus segera dibayar lunas olehnya. Keadilan harus ditegakkan tuntas dengan caranya. Tak ada habisnya, lalu menyeruak kebencian dan saling lempar keji.

Menurut Fahrudin Faiz, kebencian didasari oleh sikap menilai rendah pada mereka yang dibenci dan oleh ideologi. Sehingga, kebencian bisa bermuka dua: kebencian yang ditindas pada yang menindas dan kebencian yang menindas pada yang ditindas. Kebencian jenis kedua inilah biasanya bermula pada ideologi yang dianut.

Kebencian bermuara pada sikap manusia yang sering mengalami kecelakaan berpikir. Subjektivitas mendorong salah menalar tentang orang lain. Memikirkan tentang orang lain berdasarkan pikiran kita, lalu menginterpretasi apa yang kita lihat dan dengar berdasarkan horison pengalaman, pra pemahaman, dan timbunan pengetahuan kita sebelumnya. Padahal semua itu subjektif adanya pada masing-masing orang.

Fenomenologi kebencian juga terjadi karena adanya pertarungan saling berebut untuk mengobjekkan diri sendiri dan kelompoknya. Ketika semua ingin menjadi objek, maka akan terjadi ketidakstabilan. Keberadaan orang atau pihak lain dianggap menjadi ancaman bagi eksistensinya. Sementara ia ingin menjadi objek tunggal tanpa diganggu dengan keberadaan orang lain.

Kebencian yang bermula dari sikap dan perasaan terancam ini bisa terjadi dalam banyak konteks. Terancam secara politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya. Dalam kasus lain, ketakutan itu melebar pada perasaan takut terhadap sesuatu yang baru atau inovasi yang dianggap berbeda dan dikhawatirkan mengancam kestabilan status quo.

Jika diruntutkan dalam sebuah piramida, ungkap Fahrudin Faiz, kebencian pada tingkatan terendah berupa perilaku prejudice, lalu naik ke tahapan act of prejudice, meningkat ke sikap discrimination, lalu menelurkan violence, dan pada tahapan tertinggi menjadi aksi genocide.

Pelaku teror bermula dari sumpalan ideologi kebencian dan juga dendam. Terlebih jika pihak penindas mengulang-ulang aksinya. Kebencian yang terus-menerus dipupuk melahirkan kemarahan, dan terjadilan pelampiasan melalui tindak kekerasan dan aksi teror.

Masih dalam lingkaran ini, adalah radikalisme. Radikal dibentuk dari kata “to radic”, berarti kembali ke akar, pada sesuatu yang dipandang mendasar. Akar memiliki fungsi sangat mendasar bagi pohon. Mereka yang kembali ke akar menginginkan segalanya berpijak pada prinsip-prinsip mendasar yang menjadi pedoman. Dalam Islam, akar atau dasar keyakinan itu berupa konsep tauhid.

Sikap berpegang pada akar biasanya menjadi kaku, tidak mau berkompromi, dan mengabsolutkan atau memutlakkan pandangan keyakinannya. Lebih parah lagi jika hal itu dibarengi dengan sikap dogmatik yang bersumber dari pemahaman yang sempit, parsial, terbatas, dan tidak komprehensif tentang sesuatu hal. Di saat bersamaan, ia menafikan pemahaman berbeda.

Kaitannya dengan agama, misalnya, ia hanya mendasari pemahamannya berdasarkan pada satu ayat atau potongan ayat atau hadis atau potongan hadis yang dimaknai secara harfiah atau tekstual.

Haedar Nashir menilai, sikap ini akan menghasilkan absolutisme pandangan atau paham tertentu, merasa diri yang paling benar atau mutlak benar. Sementara di luar paham diri dan kelompoknya merupakan mereka yang salah dan sesat atau bahkan kafir. Dia seolah menjelma polisi moral bagi orang lain.

Kaum radikal pada akhirnya cenderung untuk bersikap keras dan membenarkan kekerasan, termasuk kekerasan atas nama agama dan nama Tuhan. Ketika kekerasan itu menjadi paham atau pandangan atau ideologi yang diabsolutkan, maka lahirlah radikalisme. Terorisme sendiri merupakan hasil dari proses radikalisasi. Namun, tidak semua radikalis termasuk teroris.