Kebun binatang menjadi alasan setiap keluarga untuk melepas penat, entah untuk melihat tingkah lucu binatang atau hanya untuk mengenalkan dunia hewan kepada sanak famili. 

Tapi pernahkah kita berpikir, di setiap gurauan kita atas kelucuan yang diperankan atas ketidaktahuan kita untuk berinteraksi dengan mereka, ada satu dua hal yang belum terlihat apabila kita mendengar setiap perasaan mereka?

Begitulah konsesi atas dua pikiran makhluk hidup yang berbeda. Manusia bergerak atas apa yang sejatinya menjadi kodrat mereka: berkuasa. Sedangkan, hewan bergerak atas diri untuk senatiasa hidup dengan kerumunannya.

Novelet menarik, ditulis atas dasar interpetasi suatu peristiwa. Seperti apa yang diungkapan dalam novel yang hampir sama Animal Farm-nya George Orwell, kritisisme atas alegori politik yang masih menjadi kekuasaan paling kental dalam hidup sekarang.

Bagaimana kekuasaan terkadang melupakan hak atas kebebasan setiap individu. Mereka terjerat oleh kebijakan yang mengekang atas dasar kelanggengan kekuasaan. Dengan tebal 68 halaman, novel ini berangkat atas dasar nilai filosofis yang begitu tinggi: tentang relasi hewan dan kebiasaan manusia.

Baltazar, beruang kutub yang tergambarkan sebagai hewan yang memikirkan atas perlakuan tak berprikehewanan. Seekor beruang yang merasakan getirnya dunia kehidupan manusia. Andai dia bisa bicara segala hal, akan mudah manusia dapatkan pandangan hewan atas kebringasan manusia.

Berawal dari suasana sendu ketika kawanan singa laut menjadi korban kekejaman manusia atas nama kehidupan. Mereka melepaskan pelukan keluarga singa laut, yang mungkin sebagian dari mereka (manusia) juga mempunyai kehangatan keluarga yang terpisah. Membantai hanya untuk sebuah kerakusan atas kuasa. 

“Aku ingat bahwa singa laut dan burung camar maupun burung camar yang tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Saat kemalangan menimpa, mereka akan selalu bersolidaritas agar semuanya bisa berbahagia,” kesan pertama beruang ketika terkukung besi jeruji.

Pada saat sang Baltazar mendapati seorang bocah dengan tatapan kosong yang membuat kedua makhluk tersebut saling betatap mata. Kedua pancaran mata yang mempunyai harapan kosong, tapi keduanya mempunyai pemahaman sama. Tak saling bicara, tapi saling bertukar makna. 

“Ia menatapku lama, sampai ia yakin bahwa aku memang berbicara kepadanya,” kesan Baltazar ketika bertatap dengan sang bocah.

Kemudian, sang beruang berimajinasi dengan renungan khasnya perihal kondisi manusia. Dengan logika seekor beruang, sulit memahami bagaimana manusia menelantarkan bocah yang masih bingung akan dirinya. 

Berkeliaran di kebun binatang pula, ia ingat bahwa di antara hewan sesamanya tidak pernah menelantarkan anak dalam kondisi masih kosong akan siapa dirinya. Hal itu mengisyaratkan bahwa manusia tidak sebanding dengan kuasa atas dirinya yang senantiasa dipertontonkan kepada makhluk lain.

Begitu mereka mendapat kuasa, rasa percaya diri mereka muncul lebih dikarenakan oleh kekuasaan ini ketimbang oleh nilai-nilai dalam diri mereka sendiri. Keheranan lain terhadap sikap paling berkuasa di diri manusia ketika ia diketemukan dengan sang penjaga yang setiap hari mengurusi dan merawat dia dalam kandang.

Kesan pertama sang penjaga seperti repsentasi manusia lain, bersikap ogah-ogahan dan bertindak semau mereka. Baltazar sendiri sadar bahwa hal itu tidak bisa digeneralisasi terhadap semua manusia, ketika sang penjaga pun berganti ia mendapati layanan yang baik. 

Tapi, seketika Baltazar makin paham bahwa “makin tidak bahagia mereka, makin doyan mereka berlagak memamerkan kekuasaan itu”.

Bukan hanya perihal kebebasan, yang menjadi dominasi dalam renungan Baltazar. “Sungguh sangat jahat seseorang bisa direnggut begitu saja dari dunianya, dikurung dalam kandang, dan dilarang hidup seperti semua orang lainnya.” 

Tatapan kosong yang selalu menjadi gambaran setiap manusia yang berlalu lalang di hadapan Baltazar. Manusia itu membingungkan, mencari ketenangan dalam keramaian yang jadi alasan ke kebun binatang.

Kau bisa melihat tragedi kemanusiaan dalam diri mereka dengan jelas. Anak-anak miskin itu tidak berdaya, seperti semua anak lainya. Namun dalam raut wajah mereka yang tak berdaya, kau bisa melihat dunia ganjil penuh egoisme dan kekejaman yang mengelilingi mereka. Atau memang itu sebuah kisah di balik keceriaan manusia, tertutup raut palsu ditengah sandiwara bahagia.

Perenungan tentang egoisme manusia yang keji tak seperti hewan yang masih punya empati terhadap sesama, pertanyaan dari renungan beruang yang filosofis: Mengapa ada manusia yang punya apa saja dan manusia lainya yang tidak punya apa-apa? Mengapa ada wajah yang mencerminkan kegembiraan hidup, sementara lainnya kelihatan hanya mendambakan perubahan nasib?

Menghargai kadang menjadi sebuah perasaan yang mulai hilang di diri manusia, antarsesama saja terkadang sulit untuk saling bertegur sapa. Apalagi dengan makhluk lain, yakni hewan. 

Baltazar dengan pertanyaan filosofis mempertanyakan hal itu: “Kadang aku yakin manusia mengira beruang itu tidak punya perasaan. Itu sebabnya mereka tidak menghargai hidup kami, masa lalu kami, atau impian-impian kami.”