Daya juang perempuan selama ini untuk setara dengan laki-laki semakin terpenuhi. Ini dapat kita lihat di dunia politik saat ini, banyak perempuan yang terjun ke dalam partai politik (parpol). Kesempatan ini seharusnya dapat menjadi jalan peluang untuk semakin membawa isu perempuan agar pemerintah semakin tegas dalam melindungi dan memberdayakan perempuan.

Namun, sepertinya pikiran itu jauh dari harapan jika melihat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018. Sebagaimana dilansir tirto.id, ada 101 kandidat perempuan dari 1.140 calon kepala dan wakil kepala daerah di Pilkada 2018. Dari 101 kandidat itu, hanya 37 orang yang mengangkat isu perempuan serta anak dalam visi, misi, serta program kerjanya.

Kita tidak tahu memang benar-benar dijalankan atau hanya sebagai sebuah bungkusan kata-kata untuk mendapatkan simpati rakyat. Rakyat pun sudah terlalu sering dan kenyang akan janji-janji para calon wakil rakyat. Ditambah pula dengan mirisnya dari sekian banyaknya kandidat perempuan yang mencalonkan diri ke dalam parpol, kenapa hanya sedikit yang membawa misi isu perempuan.

Jika kita melihat ke dalam lebih jauh, berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, tercatat ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani selama 2017. Sebagai perbandingan, pada 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan. 

Pertanyaannya, bagaimana di tahun 2018 para politisi yang memegang kekuasaan mampu mengurangi angka atau bahkan mampu mempertegas kebijakannya dalam melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan?

Ketika zaman mulai beralih memposisikan perempuan menjadi sejajar dengan kaum laki-laki, justru isu tersebut menjadi terlupakan. Mungkin bukan terlupakan, sempat diucapkan namun tidak secara eksplisit benar-benar mencantumkan kata perempuan, wanita, atau ibu. Faktanya,  tidak ada separuh dari kandidat perempuan yang membawa nama isu perempuan dan anak dalam program kerjanya.

Perkumpulan Pemilu Untuk Demokrasi (Perludem) mengungkap, ada 26 calon kepala daerah perempuan yang memiliki program kerja perempuan serta anak-anak. Namun, program-program itu tak banyak dirinci oleh para kandidat. Seolah-olah asal disematkan tanpa berpikir dan intropeksi ulang bagaimana persoalan perempuan dan anak terdahulu bisa terselesaikan sekarang.

Mengucapkan lebih mudah ketimbang melakukan. Jika para politisi tidak sungguh-sungguh mampu menyelesaikannya, jangan ini dianggap sebagai bahan guyonan. Melihat semakin berkembangnya peradaban posisi perempuan mulai dan bahkan sudah hampir setara dengan laki-laki. Jangan ini dilupakan, justru sebaliknya harus lebih ditingkatkan.

Visi, misi, dan program kerja seolah tak serius mengusung kepentingan perempuan dan anak. Apakah hanya dilihat dari keturunan atau darimana dia berasal menjadi sebuah ukuran dalam memilih para kader calon partai. Jika itu sebagai ukuran, bagaimana negeri ini akan menjadi sejahtera? Haruskah kita kembali pada masa Orde Baru yang begitu menyengsarakan dan membekas dalam ingatan rakyat?

Jika hanya popularitas dan elektabilitas yang menjadi target pencapaian, apa bedanya dengan seorang tokoh hiburan? Sejatinya, mereka lebih tahu dibandingkan rakyat biasa yang tidak memiliki jabatan. Pilkada yang seharusnya menjadi jalan peluang membawa perempuan untuk lebih maju, seolah hilang setelah muncul kepentingan pribadi atau kelompok.

Jika kita berpikir memang ada laki-laki yang memikirkan masalah perempuan, tapi perempuan akan jauh lebih memahami masalahnya sendiri. Tidakkah para politisi perempuan yang saat ini sudah mengalami peningkatan namun berbanding terbalik terhadap kepedulian isu perempuan?

Memang kita belum tahu bagaimana politik ini akan berjalan sepanjang tahun 2018. Namun, sekiranya jika tidak membawa isu perempuan dan anak mampu memberdayakan perempuan dan anak, terutama daerah pelosok.

Bangkitnya Kaum Perempuan

Seiring tahun berjalan, peningkatan perempuan untuk maju dalam dunia politik meningkat drastis. Sebagaimana penulis terangkan di atas, perempuan unjuk diri menjadi calon kepala dan wakil kepala daerah. Kabar gembira bagi perempuan yang selama ini memperjuangkan hak kesetaraannya.

Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 20 tentang partai politik, banyak dipakai dalam mendorong perempuan untuk menjadi legislator. Memang, belum semua partai mengeluarkan perempuan untuk menjadi calon legislatif. Namun, setidaknya dengan adanya sedikit dorongan dari kesadaran pimpinan partai politik untuk menunjuk perempuan maju dalam Pemilu harus disambut dengan tangan terbuka.

Jalan terjal kebebasan dan kesetaraan yang dibawa oleh perempuan selama ini menuai hasil yang gemilang. Apa yang diimpikan selama ini untuk unjuk diri pada dunia bahwa perempuan juga mampu terbuka lebar. Pintu peluang yang kini terbuka lebar harusnya mampu menjadikan perempuan kini lebih semangat membawa isu perempuan dalam program kerjanya.

Menurut pandangan penulis, di tahun politik ini, peningkatan perempuan dalam dunia politik akan semakin pesat, salah satunya terpilihnya Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Jawa Timur. Menjadi perbincangan hangat di Pilkada Serentak 2018. Menjadi gambaran bahwa perempuan layak menjadi pemimpin. 

Terlepas dari kodrat dan dunianya, perempuan layak maju sejajar dengan kaum laki-laki. Menjelajah dunia layaknya Ibnu Batutah. Oleh karena itu, perempuan harus semakin giat untuk unjuk diri di mata dunia dan bermanfaat untuk orang lain.

Perempuan dalam Pandangan Islam 

Bagaimana Islam dalam memandang dan memperlakukan kaum perempuan? Alquran menjawabnya dalam Surat Al-Hujurat:

Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kaum laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa.”

Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa manusia tanpa terkecuali, entah itu laki-laki atau perempuan, berkulit hitam atau putih, kaya atau miskin, adalah sama derajatnya di sisi Allah kecuali ketakwaannya. Maka tidak boleh kita memandang perempuan adalah lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki, sehingga kita berlaku tidak adil terhadapnya, mengebiri hak-haknya, karena yang demikian itu sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Bahkan Islam justru sangat meninggikan derajat perempuan.

Inilah saatnya kita sadar dan memahami bahwa perempuan layak untuk maju. Pantang bagi seorang perempuan jika masih malu, tidak mampu, dan tidak punya skill. Jika di dalam diri kita tidak ada rasa keinginan untuk maju, sejarahlah yang akan menghilangkan nama pada dunia. Namun, jika perempuan sadar bahwa hidup dengan berkarya menjadikan orang mengenang kita dengan karya.