Kegemilangan selalu identik dengan pendidikan. Bagaimana tidak, negara Jepang yang dulunya sempat hancur oleh bom atom dengan ledakan yang begitu dahsyat, mampu bangkit dari keterpurukannya menjadi negara yang sangat maju dan modern hanya dalam beberapa tahun saja.

Setelah negaranya mengalami kehancuran yang sangat parah, Hirohito selaku kaisar tertinggi Jepang segera memerintahkan seluruh bawahannya untuk mengumpulkan semua guru yang masih hidup untuk kemudian diminta mengajari masyarakat.

Hal itu ia lakukan mengingat pentingnya pendidikan dalam mencapai kesuksesan sebuah negara. Dan terbukti, upaya tersebut mampu membawa Jepang menjadi negara yang maju dalam waktu yang begitu singkat.

Kisah di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak contoh mengenai besarnya peran pendidikan dalam memajukan sebuah negara. Bukan berarti kita harus meniru negara Jepang secara utuh. Penulis hanya mencoba untuk menggiring pikiran kita agar bisa memahami arti penting sebuah pendidikan.

Negara kita merupakan sebuah komunitas besar yang berkembang dengan budaya dan kultur yang beragam. Keragaman itulah kemudian yang membuat kita bersatu.

Keberagaman itu pula yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah Negara yang dikagumi oleh negara-negara lain. Maka sudah selayaknya keberagaman ini dimanfaatkan untuk mencapai kemajuan negara kita.

Mengingat usianya yang tidak lama lagi mencapai satu abad, Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka masih perlu berbenah diri untuk membawa dirinya menuju pencapaian yang gemilang. Sumber daya manusia yang saat ini ada masih jauh dari kata siap untuk mampu bersaing dengan sumber daya manusia lain yang ada di luar sana.

Sudah saatnya kenyataan ini ditanggulangi secara serius oleh kita semua, khususnya pemerintah.

Merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa kesuksesan sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas rakyatnya. Semakin berpendidikan rakyatnya, semakin baiklah sebuah negara. Oleh karenanya, pembenahan sistem pendidikan yang ada saat ini menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.

Adanya wacana “Menyongsong Indonesia Emas 2045” agaknya mampu membangunkan kita selaku rakyat Indonesia dari lamunan panjang yang selama ini membuat kita terlena. Gagasan ini jika diaplikasikan dengan sistem yang baik, akan mampu menjadikan Indonesia berada di deretan negara-negara yang paling dikagumi di dunia.

Nah, semua kemungkinan itu bukan mustahil untuk dicapai jika pemerintah dan rakyat bersedia bahu-membahu untuk menyelamatkan pendidikan yang saat ini ada.

Dipilihnya angka 2045 sebagai puncak emas kegemilangan Indonesia bukanlah tanpa sebab. Munculnya angka ini merupakan perhitungan yang diambil dari tahun kemerdekaan Negara Indonesia, yaitu tahun 1945. Antara tahun 1945 dan 2045 berjarak 100 tahun (satu abad).

Maka, lahirnya angka ini merupakan harapan besar seluruh rakyat Indonesia, bahkan mungkin termasuk harapan para pendahulu kita yang sudah gugur, agar di usianya yang ke-100 tahun nanti Indonesia bisa menjadi negara yang berada di puncak kegemilangannya.

Sinergisasi pendidikan dan kebudayaan merupakan hal terpenting dalam mewujudkan harapan Indonesia Emas 2045 ini. Sebab, dua hal tersebut adalah titik terpenting dalam membentuk karakter masyarakat. Perpaduan pendidikan dan kebudayaan yang seimbang dalam diri masyarakat akan membentuk tatanan kehidupan yang harmonis dan tertib.

Pendidikan yang baik namun budaya yang kurang akan melahirkan sikap-sikap yang tercela. Begitu juga sebaliknya, budaya yang baik namun pendidikan yang kurang akan melahirkan kebodohan yang mampu membinasakan masyarakat. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya-upaya jitu untuk menciptakan jalinan yang harmoni antara pendidikan dan kebudayaan ini.

Sebagai sebuah negara yang memiliki kulktur dan budaya yang beraneka ragam, Indonesia selayaknya mampu menjaga identitasnya tersebut dalam rangka mewujudkan berbagai kesuksesan dalam segala bidang.

Arus globalisasi yang saat ini kian deras merambat, jangan sampai membuat keanekaragaman tersebut menjadi terkikis. Sebaliknya, momentum globalisasi selayaknya mampu menjadi alat perantara untuk menjaga keberlangsungan kultur dan budaya yang baik di tengah kehidupan masyarakat.

Nah, untuk mencapai itu semua, diperlukan pengenalan budaya yang baik terhadap seluruh komponen masyarakat, khususnya generasi muda. Salah satunya ialah melalui pendidikan. Sebab, tanpa adanya pengenalan, lambat laun masyarakat akan lupa dengan kultur dan budaya lokal yang ada, disebabkan kuatnya pengaruh modernisasi yang saat ini berkembang.

Adanya upaya pemerintah belakangan ini, khususnya Kementerian Pendidikan yang telah memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan di semua jenjang pendidikan patut diapresiasi. Pasalnya, saat ini bangsa kita tengah diuji dengan pengaruh budaya luar yang dapat masuk dengan mudah melalui berbagai media, kapan saja dan di mana saja.

Kecanggihan teknologi dan arus globalisasi yang semakin tak terbendung dapat menjadi bumerang yang akan menghancurkan masa depan anak-anak bangsa. Maka sudah saatnya pemerintah mulai menanamkan rasa kepedulian yang tinggi ke dalam diri setiap anak bangsa agar bisa mengenali, mencintai dan menjaga budaya-budaya yang baik.

Bukan berarti kita menolak masuknya budaya luar. Akan tetapi diperlukan adanya upaya perlindungan dari pemerintah terhadap masuknya budaya-budaya luar yang buruk, yang dengannya akan membuat anak bangsa menjadi terlena dan melupakan masa depannya.

Kemudahan akses melalui berbagai media saat ini, membuat anak bangsa menjadi terlena dan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Berbagai bentuk permainan hingga tontonan yang tidak senonoh pun menjadi suatu hal yang tidak sulit lagi untuk diperoleh. Semua ini tentu sangat membahayakan masa depan mereka.

Kesibukan dengan dunia maya, membuat ajaran budaya yang menjadi ciri khas bangsa kita kian lama semakin terkikis. Salah satunya ialah budaya bertegur sapa. Betapa banyak kita saksikan, perhatian yang sangat besar terhadap gadget, membuat anak bangsa melupakan orang-orang di sekitarnya.

Lambat laun penerus bangsa ini akan kehilangan rasa kebersamaannya yang selama ini menjadi ciri khas, yang kemudian menjadikan mereka sosok-sosok individualis yang tak peduli lagi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Lantas, bagaimana mungkin Indonesia Emas akan mampu dicapai pada tahun 2045 nanti,  jika semua kenyataan tersebut dibiarkan dan tidak segera dicarikan jalan keluarnya.

Menyikapi kenyataan di atas, tidak ada alasan lagi bagi kita semua, mulai dari orang tua, guru, murid, hingga pemerintah untuk berdiam diri. Semua kalangan harus bahu-membahu untuk menanamkan rasa cinta terhadap kultur dan budaya lokal yang selama ini telah menghiasi bumi pertiwi ini.

Pemerintah dengan kebijakannya dapat menggiatkan program pendidikan karakter terhadap peserta didik, sekaligus pengenalan kembali budaya-budaya lokal yang semakin hari semakin terlupakan.

Para orang tua harus mengawasi kegiatan dan aktivitas anak-anaknya, sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya lokal yang ada di lingkungannya.

Jika semua itu dilakukan dan berjalan dengan baik, tentunya anak-anak bangsa di masa depan akan menjadi orang-orang yang cerdas dan mampu membawa Indonesia mencapai puncak kegemilangannya. Sehingga wacana tercapainya Indonesia Emas di usianya yang keseratus tahun nanti tidak hanya menjadi angan-angan semata.