Berbicara soal keadilan sosial, yang terlintas di pikiran kebanyakan orang pasti sila ke-5 Pancasila, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Sila tersebut bisa dibilang merupakan sila yang realisasinya sangat susah untuk dilakukan. 

Beberapa minggu lalu dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), kami membuat makalah tentang peran pancasila dalam menangkal pengaruh negatif globalisasi dan makalah itu di diskusikan. Kebanyakan siswa (mungkin orang dewasa juga akan) menyatakan bahwa masih ada kekurangan dalam pancasila itu sendiri, terutama sila ke-5 dalam bidang hukum. "Hukum tajam kebawah, tumpul keatas" saya mendengar kata itu berkali-kali.

Namun sadarkah kita bahwa ketidakadilan tersebut juga terjadi dalam bidang pendidikan? dan tidak, saya tidak berbicara tentang "fasilitas dan tenaga pengajar yang ada di kota jauh lebih baik daripada yang ada di pelosok dan Papua". Berkebalikan dengan hukum, pendidikan itu tajam keatas dan tumpul kebawah.

Ketidakadilan dalam pendidikan yang saya maksud adalah pengkotak-kotakan sekolah negeri seperti: Sekolah A sekolah favorit, isinya juara olimpiade, kalo masuk sana udah pasti dapet undangan PTN favorit. Sekolah B sekolah artis, isi nya anak anak gaul, eksis, ekskulnya sering menang lomba.

Sekolah C sekolah buangan, tempatnya dipelosok, anak anaknya gak eksis. namun, kenapa hal ini bisa terjadi? saya pernah membaca artikel tentang sekolah negeri di Jepang. Di sana sekolah menggunakan rayon untuk menghindari siswa terlambat karena jarak terlalu jauh dari sekolah dan juga agar bisa mengenal lingkungan sekitar, disana juga tidak ada istilah sekolah favorit atau non-favorit, semua sekolah mempunyai bangunan yang sama, dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang sama baiknya sehingga jika siswa pindah rumahpun tidak masalah.

Semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk masuk PTN atau untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan disini? nilai rapor 85 dari sekolah favorit akan lebih diterima daripada juara umum sekolah non-favorit ketika SNMPTN, bahkan saya punya pengalaman yang lebih menyakitkan.

Tahun lalu saya mengikuti lomba storytelling bahasa inggris, saya menceritakan dengan bahasa inggris yang sangat baik (saya memang sudah berbahasa inggris sejak masih TK), saya menggunakan gestur dan bahkan kostum yang lumayan ribet untuk bisa menyampaikan cerita dengan baik.

Melihat saingan dari sekolah sekolah favorit yang menggunakan properti i expected myself to atleast dapat juara tiga, karena kebetulan saat itu seorang peserta dari sekolah favorit nomor 1 dikota saya tampil dengan sangat buruk, banyak mispronounciation dan grammatical errors yang membuat ceritanya susah dipahami meskipun property dan gesturnya bagus.

Ternyata, dialah yang mendapatkan juara tiga. Saya kaget setengah mati. Saya pikir itu mungkin memang karena saya tidak menggunakan property tapi, minggu lalu hal yang sama kembali terulang pada saya dan adik kelas saya. Adik kelas saya yang mengikuti lomba storytelling mengenakan kostum, menggunakan property lengkap, gestur nya sangat baik, intonasinya sangat bagus dan pas and well, guess what? dia tidak masuk babak final, dan seorang murid yang pada babak penyisihan hanya menggunakan kertas bergambar sebagai property dan saat tampil suaranya kecil masuk kebabak final dan tentu, dia dari sekolah favorit.

Begitupula dengan saya yang mengikuti speech, dibekali dengan english speaking ability yang mumpuni dan pengalaman sebelumnya saya sangat pede akan masuk final dan ya, seperti yang anda duga, saya tidak memasuki babak tersebut, malahan siswa dari SMA favorit yang memiliki kesalahan pengucapan yang masuk.

Saya sangat kecewa dengan keputusan juri, dan saya tahu ini karena sekolah saya hanyalah sekolah biasa yang sangat jarang dipandang dalam bidang akademis dan para juri pasti takut orang orang heran jika sekolah saya menang dan sekolah favorit yang isinya juara olimpiade dan calon mahasiswa undangan kalah dari SMA saya. Ironically, tema speech nya adalah tentang mindset. 

Jadi intinya jika ingin masa depan dipastikan cerah kita harus masuk sekolah favorit, kalau tidak ya masa depan pasti dipertanyakan. Dan anda tahu? hanya ada tiga cara untuk memasuki sekolah semacam itu.

1. Memakai kunci jawaban saat UN, jika mendapatkan kunci yang benar nilai UN pasti diatas 9 dan pasti diterima di sekolah favorit. (kunci juga harganya ratusan ribu)

2. Memang sudah terlahir pintar dengan IQ diatas rata-rata dan didukung oleh lingkungan.

3. Mengikuti bimbel senilai belasan hingga puluhan juta yang menjamin anak didiknya masuk sekolah favorit.

Pendidikan adalah bagian yang sangat dasar dan vital dari sebuah negara, karena memberi pengaruh terhadap Sumber Daya manusia (SDM) atau human resource. Negara yang pendidikannya baik akan menjadikan sebuah negara sebagai negara yang baik, begitupula sebaliknya jika pendidikanya buruk, dan anda sudah lihat realita pendidikan kita kan?

Maka jangan heran dengan isu-isu sosial sekarang ini, jangan heran jika penguasa menindas bawahan, yang kaya menindas yang miskin, jangan heran dengan hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas, jangan heran dengan kasus korupsi yang merugikan rakyat kecil.

Karena sejak bersekolah kita memang secara tidak langsung telah diajarkan untuk terbiasa dengan hal tersebut. Selama sistem pendidikan tidak berubah, pengkotak-kotakkan sekolah masih terjadi, kesempatan belajar tidak seimbang, selama itu jugalah Indonesia tidak akan bergerak menuju kemajuan.