Salah, perbaiki.
Gagal, coba lagi.
Jatuh, bangkit lagi.

Kehidupan selalu menyajikan hal-hal di luar nalar yang kadang tak bisa dimengerti. Segala kemauan diri tak selalu terwujud. Sebagian hanya sebatas imajinasi diri.

Ya, semua manusia saat ini sedang duduk di bangku pendidikan. Semua manusia sedang sekolah. Sekolah itu bernama "kehidupan". Tak terkecuali aku dan yang membaca ini.

Sekolah ini tidak akan pernah berakhir kecuali dunia ini kiamat atau malah kita yang kiamat terlebih dahulu. Kita tidak bisa seenaknya alpa atau membolos. Jika mungkin bisa, kita akan pergi diam-diam meninggalkan semua ini (bunuh diri).

Itu tidak mungkin! Bagiku, alpa dan membolos bisa membuat rapor merah menyala dan bahkan tinggal kelas. Malu! Tapi, di sekolah yang bernama kehidupan ini tidak pernah terlihat nyata rapor dan tinggal kelas itu.

Semua tergantung perspektif masing-masing. Jika dia merasa mendapat rapor merah, ya berarti memang begitu. Jika dia merasa tidak naik kelas, ya berarti memang begitu. Tiada tolok ukur yang pasti tentang kehidupan ini.

Kadang, kita merasa gagal, padahal orang lain merasa kita berhasil. Di kesempatan lain, kita merasa berhasil, padahal orang menilai itu gagal sekali. Memang tiada satuan-satuan pasti yang bisa mengukur proses sekolah yang satu ini.

Orang bilang, "Sakit gigi itu ampun-ampunan." Tapi, bagiku, yang tidak pernah sakit gigi, ya biasa saja. Aku tidak mungkin merasakan yang dibilang 'ampun-ampunan' itu. Kecuali suatu saat aku merasakan sendiri.

Begitu pula kesenjangan sosial. Orang bilang, "Aku tidak makan sudah tiga hari." Apakah aku juga demikian? Tidak. Aku pasti merasa biasa-biasa saja karena baru saja selesai makan di warung nasi itu.

Orang bilang, "Duit itu bukan segalanya." Tapi, bagiku, aku sangat memerlukannya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupku. Berbeda sekali seperti mereka yang mengatakan itu. Hidup mereka kebanjiran duit, sedang aku kemarau.

Hm, inilah sekolah kita yang berbeda-beda. Kita bergelung dengan nasib masing-masing. Belajar menyelesaikan banyak perkara besar maupun kecil.

Kita mencari cara bagaimana sakit gigi bisa secepatnya reda; bagaimana bisa makan hari ini; bagaimana menghasilkan duit untuk memenuhi kebutuhan; dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Ya, kita semua sedang sekolah. Kemarin, hari ini, lusa; siang-malam; terjaga-terpejam; nyata-mimpi; suka-duka; sakit-sehat; balita-manula; berprofesi-tidak; dan oposisi-oposisi lainnya.

Ironisnya, seorang pelajar berarti harus sekolah dobel. Sekolah sebagai entitas dan sekolah di kehidupannya. Berarti proses belajar dan ujiannya juga dobel.

Di lembaga pendidikan yang diberi nama "sekolah", terlihat lebih real (nyata). Bentuknya ada, tenaga pengajarnya ada, dan proses belajarnya tertata. Ada bangunan, ada guru, ada mata pelajaran.

Tapi, di sekolah kehidupan, jauuuh berbeda! Semua absurd dan tidak jelas tolok ukurnya. Bentuknya bagaimana? Pengajarnya siapa? Lalu, prosesnya bagaimana?

Bangunannya bisa dikatakan planet bumi yang menampung kehidupan ini. Pernahkah melihat langsung bumi ini (selain dalam mata pelajaran)? Tidak juga. Kita hanya mengamini bahwa bumi itu bulat seperti yang konsep Pythagoras.

Pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan yang tidak tahu sejak kapan asal mulanya itu seolah menyatakan manusia memiliki guru dalam kehidupan ini. Ya, guru itu bernama "pengalaman".

Siapakah pengalaman ini? Apakah pengalaman yang kualami sendiri atau yang kulihat dari pengalaman orang lain? Lalu, atas dasar apa dia bisa berprofesi sebagai "guru kehidupan"?

Jika memang pengalaman itu seperti yang kudefinisikan: "segala sesuatu yang pernah kurasakan". Kata pernah memberi arti bahwa itu sudah terjadi atau lampau. Bagaimana mungkin kita baru bisa disebut belajar ketika sudah pernah mengalaminya?

Apakah tidak bisa kita belajar dahulu baru mengalaminya? Misalnya, "Apakah tidak bisa kita merasakan sakit dahulu sebelum jatuh?" Kebanyakan orang mengatakan bahwa jatuh itu sakit, karena mereka berguru kepada pengalaman ini.

Seabsurd apa pun itu, hidup adalah sekolah. Pernyataan ini disadari oleh banyak orang, terutama ketika kuketikkan di mesin pencari Google. Banyak tersaji informasi yang menyatakan "hidup adalah sekolah".

Oleh karena itu, wajar-wajar saja kita bingung terhadap hidup ini. Tidak ada tolok ukur untuk menyatakan segala sesuatu. Bukan menangis yang dijadikan tolok ukur sedih, nyatanya menangis juga ada yang menyatakan bahagia.

Tertawa tak selalu dikatakan bahagia. Makan tak selalu jika lapar. Mengantuk tapi tak bisa tidur. Bekerja keras, tapi begini saja. Mencintai, tapi tak bisa memiliki. Lelucon macam apa ini?

Aku berjuang di tengah keabsurdan hidup. Dengan segala ketidaktahuan, aku belajar tidak menjadi "merasa lebih" dari yang lain. Karena pada dasarnya, aku sendiri dalam kebingungan dan ketidaktahuan tentang hidup.

Segala falsafah tinggallah falsafah. Aku tidak mengerti dampak apa yang kudapat dari membacanya. Kurasa, hidupku masih begini-begini saja. Mungkin raporku merah cerah atau aku bakal tinggal kelas karena semua ini. Mungkin!