Berjalan ke selatan, Tuan, kau temukan sejarah, yang sendirian. Di sudutnya terbaring kenang, di kening pejalan yang sibuk menerka, batas ombak dan asal mula.

Berjalan ke selatan, Tuan. Kau tahu, selalu ada yang akan terpanggil, untuk menyusun kembali kisah lampau, yang mengendap di lapak-lapak tuak, juga yang bisu di prasasti aus, sepanjang batas kotaku dan pantaimu.

Andaikan ini serial sandiwara, kau berkata, kita tahu, rangsangan terbesarnya, selalu tentang perang dan ego manusia, yang melampaui penciptaan.

Tapi sejarah, kataku, juga tentang kita yang temukan kehilangan, setelah tahun-tahun kejayaan, yang diwariskan, tanpa syarat. Ia, mestinya, bukan melulu yang memukau, dari senarai yang lampau, atau selasar waktu yang setua ada. Kemegahan yang bukan hasil kerjamu, juga aku, atau seseorang.

Sejarah harusnya, adalah kita yang terus bekerja, menjadi lebih manusia, di mana iman bukan sembahan dan Tuhan bagian dari kerja.

(RD/12/7/2018)