Langkah penaku tertatih menuju sebuah lembaran.
Apa yang harus dituliskan?
Perasaan kecewakah, romantiskah, sungguh sulit mencari tema.
Hai pena, tetaplah berjalan!

Berpikir, atau merenung, aku masih bingung.
Terasa ada suara mengganggu yang terus berdengung.
Berjuta pertanyaan datang menghampiri, bunuh aku.
Kenapa aku tak bisa menulis seperti dulu?
Datanglah, datanglah tulisanku.

Di tengah kegundahan, ada perempuan yang bisa buatku kembali menulis.
Tapi aku sudah berbeda dari yang dulu.
Tulisanku sudah tak aturan, tak enak dibaca, tak merdu didengar, tak indah dirasa.
Semoga saja dia dapat tersenyum, bahagia.

Ku mulai sekarang, dia adalah dia.
Banyak bicaranya, buatku tertawa.
Sering manja, buatku rindu tingkahnya.
Mungkin dia terlihat sering buatku bahagia.

Tapi, dia juga bisa membuat diriku bersedih.
Jikalau dia kembali ke masa lalunya, hatiku pedih.
Sekarang dan masa depan yg cerah, itu yang ingin kulihat darinya.
Mengubah dirinya sendiri, mengubah diriku, mengubah kita yang menjadi bersama.

Malam itu, aku bicara serius dengannya.
Tentang perubahan, tentang kebersamaan, tentang usaha.
Mungkin terlihat susah, tapi akan mudah jika ada kata "kita".
Saling menasehati, menghibur, melengkapi, dan saling terbuka.
Tapi bisakah aku membimbingnya?
Kuyakinkan dengan melihat langit malam yang cerah, aku bisa.
Berharap airmata tak sia-sia, kutulis setiap pesan disertai do'a.
Untuk orangtua, untukku, dan untuknya.

Terkadang disaat merindu, ingin sekali kupegang dan kucium keningnya.
Memegang tangannya, berjalan, bahagia bersama.
Sial, aku terlalu berangan-angan.
Rindu memang, berharap ini nyata, ternyata hanya lamunan.

Terakhir, aku minta maaf karena sajak tak aturan ini.
Bacalah dengan mata, lisan dari hati.
Biar tak seperti membaca karya opini.
Tulisan ini apa adanya dengan bahasa tanpa dusta.
Dia yang saat ini ditulis oleh pena, dalam lembaran rasa.
Izinkanlah aku memanggilnya, cinta.