/1/ Soal Kata

Kata, saya memandangnya menyerupai kamera digital. Ia dapat menggambarkan realitas. Kata di tangan seorang penulis, kamera di tangan seorang fotografer. Tetapi di sini, kata lebih rumit persoalannya daripada sekedar kamera digital yang canggih. Kata, butuh dipilih dan disusun dengan baik untuk kemudian menjadi ‘canggih’.

Jika boleh lebih praktis, memilih dan menyusun kata, mirip dengan kegiatan mengukir permukaan kayu. Seseorang butuh ketelatenan, konsentrasi, dan paling pokok; berulangkali latihan. Sedang pada kamera digital, seorang fotografer tidak perlu menyusun komponen kameranya, hanya perlu berpikir, di mana kamera yang canggih diletakkan pada saat hendak menangkap objek realits secara langsung.

Kata, dalam menggambarkan realitas, seringkali tidak berhubungan atau bertatap muka langsung dengan objek realitas yang hendak digambarnya, ada jarak tertentu. Sebab jarak inilah, kecenderungannya, kata sebagai alat menggambar dibantu rangkaian imajinasi dan gabungan ingatan. Oleh sebab jarak itu, kata masih adalah paling sulit sebagai alat menggambarkan realitas.

Jarak antara kata dengan objek realitas ini, menurut hemat saya, yang kemudian menyebabkan munculnya tafsir di antara kepala kita. Apakah tafsir ini justru menguntungkan? Tentu tidak dapat dengan pendek dijawab.

/2/ Soal Realitas

Baca Juga: Mata Kata

Suatu hari saya bangun terlalu pagi. Segera saya menghampiri jendela dan membukanya. Sebab kamar saya di lantai dua, maka pemandangan lalu lintas: becak yang dikayuh seorang bapak tua, mobil berwarna gelap melintas, angkot pedesaan, pejalan kaki dan markah putih di jalan pinggir rumah saya terlihat dari atas, dari jendela saya ini.

Saya memfungsikan kata untuk menggambarkan realitas ini dengan memulai kata begini;

Jam 6 pagi itu aku sudah bangun. Seperti biasa, aku membuka jendelaku yang berpintu dua, membiarkan udara pagi mengambil tempat di dalamnya. Dari kamar berlantai dua ini aku melihat seorang bapak tua yang kurus memakai kaos kecoklatan sedang mengayuh becak. Sebuah mobil berwarna gelap muncul dari punggung bapak, cepat melintas. 

Di sisi kiri markah jalan, angkot pedesaan dengan tergopoh muncul, suara seorang kernet memanggil-manggil penumpang. Seorang pejalan kaki segera naik. Bapak tua tukang becak sudah di depan, juga berhasil mendapatkan dan menaikkan seorang penumpang. Cahaya kian terang. Aku kembali tidur karena masih terlalu pagi.

Bagaimana ketika saya mengfungsikan kamera untuk memotret realitas ini? Apakah kamera bisa menangkap segala realitas? Apakah juga mungkin rasa dari realitas ini serta-merta muncul dalam gambar yang diambil kamera? Untuk mengambil gambar, minimal apa yang saya lakukan adalah begini;

Mengambil kamera, mengambil fokus, mengubah-ubah posisi kamera di dekat jendela, kemudian meninjau ulang objek, lalu memotret. Bagi seorang fotografer handal, mungkin hanya beberapa detik serangkaian ini dilakukan. Lalu tercetaklah gambar seorang tukang becak mengayuh, mobil hitam melintas, angkot tergopoh, pejalan kaki, dan markah jalan.

Apakah saya yang kemudian tidur setelah memotret, dapat juga terpotret dalam gambar hasil potret? Tentu tidak. Hanya dengan ditulis, saya sendiri dapat diliput. Di sinilah mengapa, kata cenderung lebih rumit, karena kata hampir selalu dipakai oleh segala hal yang lepas dari tangkapan kamera. (Walau kemudian, kata seringkali jadi alat berbohong dan lebih terpercaya kamera)

Dalam satu sisi ini, kamera lebih unggul, dengan cukup gagah menghasilkan objek bergambar yang langsung ditangkap mata, aktual. Tetapi gambar itu diam, dalam arti, tak bisa pikiran seseorang yang cenderung bergerak imajinatif, membayangkan hal di luar gambar itu, dalam konteks gambar tersebut.

Seseorang yang sedang melihat gambar hasil kamera tidak dapat membayangkan mobil hitam selain dalam gambar, tukang becak selain dalam gambar dan angkot pedesaan selain dalam gambar. Artinya, gambar adalah penjara gambar imaji itu sendiri. Seluruh imajinasi terkunci pada gambar hasil kamera itu. Itu sedikitnya adalah penjara.

Tetapi bagaimana dengan gambar yang diracik melalui kata, kalimat, paragraf? Tentu, kata, tidak pernah diam dalam pikiran seseorang. Kata yang jatuh ke dalam pikiran, melalui proses pembacaan, selalu menciptakan tafsir dan imajinasi yang berbeda; upaya pemaknaan. Lahirnya tafsir dalam pikiran ialah karena kata dengan pikiran setiap orang, memiliki hubungan yang dinamis dan terus dinamis. Kata, ialah sistem gambar yang dinamis.

Secara struktur, kata ialah sistem yang otonom bagi dirinya sendiri. Artinya, kata adalah kata itu sendiri. Tetapi, dalam hal pemaknaan, dalam upaya penggambaran realitas, kata tidak pernah otonom. Kata menjadi terlepas dari sifat dirinya yang otonom bagi dirinya sendiri. Ia berhak dicabik atau tercabik oleh sesuatu di luar dirinya; oleh pembacaan atau tafsir. Ini adalah sifat lahiriyah kata di sisi sebelah luar. Maka, setiap kata, adalah selalu yang niscaya diimajinasikan dengan cara yang berbeda-beda, selalu berbeda, dalam diri setiap orang.

Dan membiarkan kata yang kita tulis dicabik dari luar adalah bentuk kerendahan hati kita sebagai penulis.

/3/ Dominasi Tafsir

Setiap penulis atau pembaca, atau siapa pun yang bukan keduanya, selalu memiliki pengalaman yang berbeda dengan kata.

Bagi seorang pencuri, kata “mencuri” memiliki bayang-bayang makna berbeda dengan kata “mencuri” bagi seorang polisi, walau kata mencuri tidak pernah punya makna lain selain mencuri.

Kata mencuri, sebagai sistem struktur, benar adalah otonom dan tidak ada kata ganti dari kata mencuri itu sendiri. Mencuri, adalah mencuri itu sendiri. Tapi, bagaimana kemudian kata itu mencipta bayangan pra-pemaknaan, selalu bergantung pada pengalaman subjek atau setiap orang seperti yang saya sebut di atas. Sebab inilah kemudian lahir hierarki kata di luar kata sebagai struktur yang otonom, sekedar sebagai pembeda adanya perbedaan dominasi tafsir yang lahir dari perbedaan pengalaman dalam pikiran seseorang.

Di sinilah, seorang pemanfaat kata sebagai alat gambar–penulis–,mesti menyadari suatu keniscayaan bahwa kata, selalu punya dinamika yang otoriter dalam pembacaan setiap orang.

Dari sisi ini, kata selalu lebih baik dari sekedar gambar karena tidak teramat absah mendikte imajinasi seseorang. Di sini, seorang penulis mesti pandai-pandai menggiring pintu tafsir dan kemungkinan tafsir di tengah pembaca jika hendak menghantarkan pesan, dan sepandai-pandainya pesan kata disampaikan, selalu ada dominasi tafsir yang berbeda karena perbedaan pengalaman itu tadi.

/4/ Arena Tafsir

Apaka kata “mencuri” boleh ditafsir sebagai lain sama sekali dengan kegiatan mencuri?

Dari pertanyaan ini, sedikitnya, kata, selain sebagai dinamika yang otoriter dan sebagai struktur yang otonom bagi dirinya sendiri, juga sebagai yang niscaya mengurung pemaknaan. Bahwa mencuri tidak berhak punya makna lain selain kegiatan mencuri itu sendiri. Lalu, di manakah tafsir secara leluasa membangun identitasnya sebagai tafsir?

Saya menyinggung kata sebagai struktur otonom bagi dirinya sendiri. Kata, sebagai dirinya sendiri, telah memiliki makna dan dari sana makna lahir sebagai yang paling lahiriyah, dan itu mengurung dan tak ada tafsir yang boleh masuk ke dalamnya. Dan arena tafsir, di sini dapat dimainkan ialah saat kata sebagai penunjuk kepada yang diluarnya.

Bahwa kata “mencuri” tidak mesti terbayang maknanya sebagai tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh kebanyakan lelaki kebal, seorang yang butuh uang, tetapi juga bisa dilakukan perempuan cilik yang banyak uangnya karena sifat serakah, anak remaja tanggung yang kesehatannya buruk. Artinya, ketika menyebut kata “mencuri” untuk menunjuk siapa yang melakukan, setiap orang cenderung berbeda mengambil bayang-bayang pra-pemaknaan dan penunjukan di luar kata itu. Di sinilah, tafsir bermain bersama bayang-bayang.

Bayang-bayang inilah yang murni milik seorang pembaca atau yang otonom bagi diri seorang pembaca.

Jadi, tafsir lahir di tengah dua hal yang berlawanan, yakni dari kata yang otonom sebagai dirinya sendiri dan bayang-bayang sebagai yang otonom bagi diri seorang pembaca.