Sebut saja ketika penulis mengatakan "aku sayang kamu", maka sang pembaca pun memikirkan, "Mengapa penulis mengatakan hal yang bodoh seperti itu?"

Tentunya ini menciptakan ruang bagi siapa pun yang membacanya, ruang yang tercipta di dalam pikiran kita. Ruang memang adalah sebentuk materi, tapi mengapa kata bisa mengungkapkan ruang padahal bukan materi?

Cinta memang bukanlah sesuatu yang sederhana melainkan rumit untuk dibincangkan. Ini tentu memperumit ruang yang ada di kepala kita. Maka dari itu, kerumitan yang hadir itu membutuhkan suatu tindakan, suatu praktik. 

Jika kita mencintai seseorang, kata memang tidak cukup tapi juga membutuhkan praktik ruang, praktik kata. Cinta pun berusaha didefinisikan yang tak bisa dilakukan hanya satu seorang saja. Maka, cinta pun membutuhkan orang lain. 

Ruang cinta makin melebar. Orang yang jatuh 'cinta' membawa ruangnya dengan tindakannya kepada orang yang dicintai. Representasi atau apa yang dibawakan oleh ruang tersebut membuat orang lain tersebut terpukau. 

Namun, sayangnya, ketika mereka berdua berusaha mengungkapkan apa itu cinta, akan selalu bertabrakan dengan materi. Materi inilah yang seperti tubuh, pikiran, diri sendiri justru memperlihatkan bahwa cinta tidak bisa berdiri sendiri. Cinta butuh kata lain untuk dimengerti: diri.

Baca Juga: Bahaya Kata-Kata

Yang kedua, politik. Politik memang memiliki beragam arti. Namun, untuk saat ini, politik diartikan sebagai seni menguasai. Jelasnya, politik adalah ruang yang sangat besar dikarenakan keseniannya dalam menguasai. Namun, perlu dicurigai jika memang ini adalah ruang. 

Kita tahu bahwa seni itu indah, estetis, dan sebagainya. Namun, ketika dicampuri dengan penguasaan, maka ruangnya pun penuh ilusi. Apakah tidak ada yang polos dalam politik? 

Praktik ruangnya pun patut dicurigai. Mengapa? Karena kekuasaan itulah. Siapa yang ingin dikuasai? Ruang kekuasaan itu hanya terdiri dari ketundukan dan penerimaan. 

Namun, apa jaminan bahwa ketundukan itu membawa manfaat? Nah, di sini banyak asumsi yang bermunculan, tapi yang pasti ruang tersebut akan bertabrakan lagi dengan materi. Lagi-lagi ini membawa masalah. 

Apakah ruang itu benar-benar bersaudara kandung dengan uang? Dan mengapa mesti dengan uang? Bertanya begitu polosnya.

Ruang yang terakhir adalah agama. Agama adalah topik yang selalu dihindari akhir-akhir ini. 

Persoalannya, ruang yang dibawakan kata agama tidak hanya satu semenjak agama ada banyak. Terlebih lagi agama adalah ruang sensitif, atau ruang pribadi. Ruang pribadi ketika bentrok dengan ruang pribadi lain, maka ruang pribadi yang satu ini mencari kesamaan dengan individu lain. Dan kesamaan ini membentuk ruang sosial. 

Agama tak bisa diutuhkan hanya seorang saja (kecuali para Nabi dan Rasul-Nya). Bahkan, ada banyak keanehan ketika para Nabi diberikan wahyu. Keanehan dalam artian, mungkin, agama membutuhkan dialog. Jadi jelas agama mewakili ruang sosial. 

Namun, dialog di sini bukan sebatas antarmanusia. Ini ditakutkan ruang sesama manusia tak mencukupi mengingat agama adalah sesuatu yang sensitif. Itulah sebabnya wahyu bersifat ilahi. Dan prosesi penerimaan wahyu menyatakan bahwa sebuah iman tidaklah bersifat ekslusif.

"Aku tak boleh merasa aneh pada benda yang memang tak perlu dijelaskan. Kupikir akan berbahaya jika menyimpan pemikiran ini dalam buku harian. Kau melebih-lebihkan segalanya secara terus-menerus memaksakan kebenaran karena kau selalu mencari sesuatu," kata Jean-Paul Sartre dalam Nausea.

Kata adalah ruang dalam pemikiran, dan itu akan berbahaya jika memaksakan 'kebenaran' yang lahir dari pemikiran tersebut.

Sartre pun melanjut, "Di sisi lain, sudah pasti dari waktu ke waktu kardus ini atau objek lain akan memungkiri kebenaran tersebut."

Apakah kata adalah ruang? Itu sudah pasti. Kata akan selalu menciptakan ruang, dan tugas kita adalah mememikirkannya, sadar atau pun tidak sadar. 

Yang menariknya, jika kita memikirkan apa yang dikatakan Sartre di atas, pemikiran kitalah yang memaksakan kebenaran hanya karena persoalan rasa ingin tahu yang tak kunjung habis.

Rasa ingin tahu pun terjawabkan dan menciptakan keutuhan. Justru kita memaksanya pada orang lain, yang sebenarnya bukan tugas dari kita yang memikirkannya.

Sebagai kesimpulan, kata cinta tak bisa lepas dari pencintanya. Ruang yang tak akan pernah tercukupi hanya dengan kata, tapi membutuhkan tumbal, yakni diri kita, manusia. Namun, ruang yang diciptakan kata "cinta" jelasnya bisa berdiri sendiri. 

Baca Juga: Ruang Imaji

Yang kedua, politik juga mengandung konflik ruang semenjak politik adalah 'seni' dan 'menguasai'. Seni, di satu sisi, bersifat keindahan, estetis, dan penguasaan. Di sisi lain, bersifat penundukan. Dan jika digabungkan, maka hanya terciptalah ruang ilusif, ruang menipu. 

Terakhir adalah agama. Tidak ada yang bisa memungkiri kalau agama adalah ruang yang sensitif. Namun, di dalam agama, juga membutuhkan ruang berbicara, yang di mana penganut dan Tuhan sedang berdialog. 

Di sisi lain, jika ruang sensitif atau pribadi tersebut menjadi ruang sosial, perlu berhati-hati dengan agama lain, semenjak agama adalah ruang sensitif. Jelas, kata adalah ruang dan bukan uang.