Beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa ada seniman Indonesia ditelantarkan oleh Panitia Europalia. Berita itu merebak tepat saat saya baru tiba di kota yang sama yang disebutkan di dalam berita tersebut, yaitu Berlin, Jerman. Tertulis bagaimana seniman Indonesia yang terhormat malah ditempatkan di lokasi yang ‘kumuh’ dengan keadaan rumah yang tidak layak.

Selisih beberapa hari kemudian, saya berjumpa dengan sumber terpercaya yang sudah melakukan investigasi ke rumah di Manteuffelstr 5 terletak di distrik kota Kreuzberg. Mereka menunjukkan kepada saya foto-foto bagian luar dan dalam rumah itu, membuat saya terkejut karena ternyata keadaan rumah tersebut tampak layak, nyaman dan khas Berlin dalam pengertian ‘nyeni’.

Keluhan tentang rumah tersebut dari pihak seniman Indonesia membuat saya bertanya-tanya, apakah ini adalah persoalan ekspektasi, tentang bagaimana Eropa sebagai negara maju yang diharapkan menawarkan kemewahan dan gemerlap? Pertanyaan tentang ekspektasi itu membuat saya ingin bercerita tentang Berlin sebagai sebuah kota yang merupakan denyut kreativitas di Jerman, bahkan Eropa.  

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Berlin atas beasiswa dari International Journalist Program, sebuah organisasi independen yang secara konsisten selama puluhan tahun mengadakan program pertukaran antara wartawan Jerman dengan wartawan dari berbagai regional, yaitu Asia Pacific, Latin Amerika, US, South Afrika dan sebagainya.

Pada tahun 2010, saya tinggal di Berlin selama lebih kurang dua bulan, cukup untuk merasakan hidup sebagai orang lokal. Saya kembali untuk kunjungan lebih singkat pada 2011, lalu baru kembali lagi tahun ini.

Berlin adalah kota yang khas, yang tidak tipikal Jerman yang umumnya sangat tertib, rigid dan konservatif. Berlin umumnya dihuni orang-orang muda, baik dari segi usia—rata-rata usia penduduknya adalah 42,7 tahun pada 2015—tapi terlebih lagi dari sisi keterbukaan pikiran.

Anak-anak muda ini kreatif dan senang berinovasi. Sejumlah usaha baru berdiri di bidang teknologi yang dipadukan dengan seni maupun gaya hidup di Berlin, berkantor di co-working space yang memanfaatkan gudang-gudang yang sudah tak terpakai.

Sebagaimana khas orang kreatif di seluruh dunia, kekayaan material berada pada urutan kesekian setelah kekayaan intelektual. Ini adalah tempat untuk berkreasi, mencoba dan gagal untuk mencoba lagi karena tiada inovasi tanpa keberanian untuk gagal.

Berlin terkenal sebagai kota miskin. Suatu lembaga penelitian ekonomi di Cologne, Jerman pernah membuat daftar bagaimana GDP sebuah negara terpengaruh jika kita menghilangkan ibukotanya.

Tanpa London, GDP per kapita Britain akan turun 11 persen. Prancis akan kehilangan 15 persen jika kita tak mengikutsertakan Paris yang menjadi markas bagi perusahaan-perusahaan terbesar seperti Total Renault dan Peugeout. Tapi, bagi Jerman yang masih menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, kehilangan Berlin dari sudut pandang finansial malah bisa meningkatkan kesejahteraan 0,2 persen.

Namun, warga Berlin justru bangga dengan kemiskinan mereka. Mantan walikota Berlin Klaus Wowereit menyebut kotanya arm, aber sexy (miskin, tapi seksi). Suatu ungkapan yang kemudian menjadi sangat terkenal. Biar miskin asal keren.

Dalam konteks Indonesia, saya melihat irisan antara Berlin dengan Bandung dan Yogyakarta. Dari segi tata kota, Berlin lebih mirip Bandung yang memang dirancang seperti kota-kota di Eropa. Rasa ‘modern’ yang kita temukan di komunitas kreatif Berlin akan lebih mudah kita temukan di Bandung ketimbang di Yogya yang lebih kental sisi budaya dan tradisinya. Tapi para seniman di Bandung terlampau borjuis, di sisi inilah Berlin lebih mirip Yogyakarta yang bisa nyaman bahkan cenderung menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang ‘cool’

Nah, kembali kepada konteks seniman Indonesia yang merasa disia-sia karena ditempatkan di area seperti Kreuzberg ini sebetulnya cukup aneh, karena area ini dikenal sebagai area para seniman dan avantgarde. Pemukim daerah Kreuzberg berasal dari seluruh dunia dan dibandingkan dengan daerah-daerah Berlin lain biaya sewa apartmen di daerah Kreuzberg justru di atas rata-rata.

Kasur yang diletakkan di atas kerangka kayu, mirip seperti Tatami; bisa dikatakan sedang trendi, tidak hanya di Jerman tapi mungkin juga di tempat-tempat lain di Eropa. (Saya menginap di apartemen di Brussel, dan persis seperti itu tempat tidurnya. Ini mengingatkan saya ketika kuliah di Bandung di mana saya memang sengaja memotong kaki-kaki tempat tidur saya supaya memberikan kesan ramping dan hemat ruang).

Sedangkan untuk masalah hantu yang dikeluhkan di dalam berita tersebut, wah betapa susah dibuktikan ada atau ketiadaannya. Tak ada jaminan suatu kastil mewah misalnya tidak berhantu.   

Jika ekspektasi seniman kita adalah ditempatkan di bangunan yang serba blink-blink, bisa jadi Berlin bahkan Eropa akan membuat mereka kecewa. Karena ukuran kemajuan Eropa—setidaknya dalam pengamatan saya—tidaklah dari kegemerlapan sebagaimana yang mudah ditemui di kota-kota dengan pertumbuhan tercepat di Asia seperti Shanghai, Beijing atau Seoul, melainkan dari pola pikir dan sistem kehidupan publik yang menjamin akses setara terhadap sumber daya. 

Karena berita yang beredar tersebut, acara kolaborasi musik Raung Raya yang sejatinya akan berlangsung di Berlin sebagai bagian dari perhelatan Festival Europalia batal karena tiga grup musik dari Indonesia tak jadi turut berpartisipasi. Pembatalan acara tersebut memberikan kerugian bagi banyak pihak. Salah satu yang terfatal adalah rusaknya kolaborasi seni dengan musisi Libanon yang berdomisili di Berlin, Rabih Beaini.

Rabih Beaini adalah DJ, komposer dan produsen musik yang sudah dikenal secara internasional. Ia kerap membantu seniman musik lokal di seluruh dunia untuk mempersiapkan seni musik agar bisa dibagi dan didistribusikan global. Interview dengan Rabih Beaini yang juga menyebut Indonesia bisa dibaca di sini. 

Selain Indonesia, Beaini juga mempunyai beberapa proyek dengan seniman di Turki, Iran, Tajikistan, Morocco, Lebanon, Eropa dan Brazil. Dua tahun lalu Beaini berkunjung ke Indonesia dan langsung terkesan dengan musik yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia; ia pun mulai bekerja sama dengan beberapa seniman dan musisi, menjadi kurator untuk beberapa album mereka  mempunyai proyek bekerja sama dengan Goethe Institut dan CTM Festival untuk memetakan sound art di Asia Tenggara, di mana Beaini direncanakan menjadi kurator utama untuk Indonesia.

Melalui proyek Raung Raya, Beaini tadinya ingin membentuk semacam fondasi agar lebih mempromosikan budaya dan musik Indonesia setelah Europalia selesai. Beani bahkan telah mengeluarkan dana pribadinya dalam jumlah cukup besar untuk persiapan Raung Raya yang akhirnya tak pernah terwujud.

Hal ini tentunya merupakan kerugian besar pula bagi musisi Indonesia yang kemudian kehilangan peluang berkolaborasi. Insiden seperti ini akan cepat beredar dalam sirkulasi percakapan di kalangan musisi Eropa dan juga dunia yang mau tak mau mencoreng nama Indonesia.

Saya yakin musisi Indonesia pun bukan tak paham pergaulan internasional. Lalu kenapa hal serupa bisa terjadi? Adakah pihak yang sengaja memanas-manasi untuk menangguk keuntungan dari kejadian ini? 

Barangkali saja, memang ada yang sengaja ingin menyudutkan pihak tertentu tanpa berpikir jangka panjang untuk kemajuan seniman Indonesia dan sirkulasinya di dunia.