Mengekspresikan diri dalam hidup dengan berbagai bentuk kegiatan atau hal-hal baru dapat menambah potensi dan kamampuan diri. 

Hal yang baru sangatlah sulit untuk kita laksanakan dalam kehidupan kita. Mungkin karena tidak adanya pemikiran inovatif yang dapat muncul dalam pikiran untuk dituangkan dalam realitas. Atau malah karena gengsi yang menjadi tembok penghalang pemikiran inovatif tersebut. 

Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka ingin sukses, namun sangatlah sedikit orang berani mencoba untuk hal-hal baru yang dapat mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya. 

Ekspresi sebagai juga latihan dalam rangka mengembangkan ide-ide yang berhasil disatupadukan dalam berbagai konsep dan menjadi hal yang baru. Olehnya itu, keberanian dalam melangkah dan berani berbeda dengan orang lain tak jadi masalah dan memang diharuskan jika kita ingin menjadi orang sukses.

Banyak orang yang memaknai sukses. Ada yang mengatakan suskses adalah ketika kita punya uang banyak, ada juga yang mengatakan bahwa sukses ketika kita selalu nyaman dan bahagia dalam menjalani hidup ini tanpa ada intevensi orang lain. 

Itu semua ada benarnya, tetapi alangkah bijaknya jika kita mampu memberikan karya terhadap diri dan juga orang lain, bahkan untuk bangsa ini. Olehnya itu, para kaum milenial harusnya mampu memberikan era baru untuk bangsa dan negeri ini.

Sedikit berbicara dengan kaum milenial; mereka merupakan kaum intelektual yang nantinya akan menjadi penerus cita-cita bangsa ini. Dan merekalah yang nantinya akan memberikan perubahan yang lebih baik terhadap negeri ini. 

Tetapi, arti ini sangatlah sedikit pemuda yang tergolong milenial dapat memaknai hal tersebut. Contohnya saja, dalam pemilu 2019 ini, di mana kaum milenial seharusnya tidak terjebak dalam lumpur demokrasi seperti politik uang, malah kebanyakan mereka justru terjebak di situ dan melakukan tindakan yang tak semestinya mereka lakukan sebagai penyandang kaum milenial. 

Dan juga kaum milenial harusnya mampu menyukseskan pemilu ini dengan baik dan memberikan hal-hal yang bernilai positif untuk dirinya dan juga orang lain, tetapi nyataya tak seperti itu. 

Jika hal ini terus-terusan dilakukan oleh para kaum milenial dan tak mampu keluar dari kegelapan tersebut, maka sangatlah disayangkan bagaimana nasib negeri ini nantinya. Jika para kaum milenial tak mampu memberikan hal-hal baru terhadap negeri ini, kita akan selalu berada dalam ketinggalan terhadap bangsa lain. 

Contoh lain juga yang tidak seharusnya dilakukan para kaum milenial adalah penyebaran hoaks, bahwa hoaks sudah menjalar ke mana-mana dan bisa meruntuhkan semangat persatuan. 

Coba kita lihat istilah hoaks ini. Dari segi etimologinya, jejak kata hoaks muncul pada abad ke-18. Oxford English Dictionary pertama kali mengutip kata hoaks sebagai kata kerja pada 1796, yang tertuang dalam kamus Grose’s Classical Dictionary of the Vulgar Tongue: “Hoaxing, bantering, ridiculing. Hoaxing a quiz; joking an odd fellow. University wit,”. 

Satu dekade kemudian, hoaks sebagai kata benda muncul. Sejak itu, kata hoaks dikonotasikan sebagai penipuan atau tipuan yang dilakukan dengan sengaja. 

Kata hoax bukan merupakan kata yang asli. Kata tersebut, menurut banyak etimolog, berasal dari kata hocus pocus yang diringkas menjadi hocus saja. Etimolog menduga, hoaks berkembang dari kata hocus yang pada abad ke-17 merupakan kata benda dan kata kerja. 

Hocus pocus jangan dikira lekat dengan tokoh politik atau penguasa saat itu. Jauh dari perkiraan, hocus pocus merupakan sebutan untuk trik atau tipuan yang kerap dipertunjukkan oleh pesulap atau juggler

Pada abad ke-17, kata hocus dalam konteks kriminal berarti 'membius' seseorang dengan menggunakan minuman keras. Dengan keterampilan tangan dan mengolah benda yang cekatan, pesulap kala itu sukses menipu penonton dengan triknya. Makanya, tak heran pada 1620-an, pesulap kala itu kerap merupakan nama panggilan hocus

Kemudian perkembangan hoaks (berita bohong) ini sudah tidak bisa dibendung lagi yang sangat didukung oleh perkembangan tekhnologi, dan hampir setiap kalangan terjebak di dalamnya. Bahkan para kaum milenial sendiri banyak terhipnotis dengan istilah hoaks ini. 

Akhirnya, nama sebagai penyandang kaum milenial mati dan kepercayaan publik akan minim dengan tindakan tersebut. Olehnya itu, para kaum milenial harusnya mampu memberikan contoh yang terbaik untuk dapat memajukan bangsa ini.

Dengan tindakan yang kita lakukan, sangatlah diharapkan untuk hal-hal yang positif, pasti akan memberikan reaksi terhadap orang lain. Dan dari tindakan itulah kita bisa ambil pelajaran mengenai kekurangan dan menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaikinya. 

Marilah kita berkarya meskipun apa yang dihasilkan tidaklah langsung sempurna, tetapi butuh proses yang panjang. Di sisi lain, juga kita bisa ukur sampai di mana kemampuan dan juga eskpresi kita untuk berusaha. Dan ekspresi yang kita tuangkan akan menjadi jembatan untuk bisa menjadi orang yang sukses sesuai dengan porsinya masing-masing. 

Tidak ada orang sukses jika tidak ada usaha yang dilakukan. Semangatlah yang akan terus menjaga ekspresi tersebut untuk tetap dapat tumbuh dan berkembang secara dinamis sesuai dengan kodrat alam.