“Eyangku mendatangkan seorang gubernur untuk anak-anaknya. Dan pangerang-pangeran dari Solo dan seorang bupati dari Jawa Tengah mengirimkan putra-putranya ke eyang untuk dididik pula. Jadi begitulah, sebetulnya tidak ada barang-barang baru di bawah langit ini. gagasan-gagasan kami yang dinamakan ‘sangat baru’ itu sebenarnya gagasan lama, yang berasal dari Eyang. Pikiran-pikiran kami itu hanya warisan. Beliau, Eyanglah pelopornya. Kami hanya melanjutkan pekerjaannya.” (Surat kepada EC. Abendanon, 27 Januari 1903)

Ibu Kita Kartini. Kalimat tersebut sering kita dengar di berbagai penjuru daerah. Pejuang perempuan yang berasal dari Jawa itu menggetarkan jagad raya pada abad ke-19. Namanya bukan hanya harum di Indonesia, bahkan ke bumi Nedherlend saat itu. Sampai sekarang pun, namanya terkenang di hati penggemarnya dari berbagai daerah dan juga lintas generasi.

Pernahkah tebersit dalam benak kita mencari tahu siapa sebenarnya Kartini? Jika melihat sepak terjang perjuangannya, ia memilih berjuang sebagai perempuan yang yang secara intelektual bersifat revolusioner dari ketajaman berpikirnya, serta kelancaran dalam berbicara dan menulisnya yang disertai dengan kepribadian yang menawan.

Tentunya, dengan kepribadian yang berbeda dengan orang-orang pada masanya itu, ia mempunyai latar belakang yang mempengaruhi semua kepribadiannya itu. Pada kenyataanya memag demikian. Perempuan yang daya pikirnya melampaui masanya ini ternyata mempunyai garis keturunan yang cukup berpengaruh dalam membentuk pola pikirnya yang sedemikian maju itu.

Sejarah bangsa Indonesia tidak akan pernah melupakan kebesaran dan kejayaan kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia. Salah satu yang sangat terkenal, bahkan daerah kekuasaannya meliputi hampir seluruh kawasan Asia, yaitu kerajaan Majapahit.

Pernahkah tebersit di benak kita semua bahwa bagaimana jika Gajah Mada, sebagai mahapatih yang terkenal dengan Hamukti Palapanya saat itu yang bercita-cita menyatukan seluruh kekuatan Nusantara, bertemu dengan ibu kita Kartini yang mempunyai pandangan jauh ke depan juga. Atau mungkin, mereka menikah?

Tentunya itu dongeng yang sangat menarik dan sangat laku di pasaran jika memang ada. Tetapi, memang pada kenyataannya, Kartini masih mempunyai garis keturunan dari kerajaan Majapahit. Walaupun selisihnya terlampau jauh.

Majapahit merupakan kerajaan yang besar dan mengalami masa keemasan pada masa Raja Hayam Wuruk yang saat itu didampingi oleh mahapatih Gajah Mada. Namun, masa kejayaan tersebut berangsur-berangsur mulai menurun. Pada puncaknya, menurut tradisi, Majapahit jatuh pada tahun 1400 Caka atau tepatnya pada 1478 M. Sebagai raja terakhir disebut nama Browijoyo.

Keturunan Browijoyo turun temurun melahirkan keturunan, sampai muncul nama Pangeran Honggowijoyo. Pangeran tersebut melahirkan trah Tjondronegoro yang nantinya melahirkan keluarga Sosroningrat, ayah Kartini.

Trah Tjondronegoro dimulai dari Tumenggung Tjondronegoro I sebagai Bupati Surabaya. Kemudian anaknya, Adipati Ario Tjondronegoro II menjadi Bupati Pati. Disusul oleh putranya, Adipati Ario Tjondronegoro III yang menjadi Bupati Kudus. Setelah itu, pada tahun 1836, ia digantikan oleh putranya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang sebelumnya meneruskan jabatan ayahnya. Namun, karena pada saat itu pemerintah memerintah ia mengatasi pemasalahan yang di daerah Demak, selanjutnya ia menjadi Bupati Demak.

Pangeran Ario Tjondronegoro IV sebagai eyang Kartini sering disebut dalam suratnya. Ia menjadi tersohor sebagai orang Indonesia pertama yang berani mendobrak kekolotan adat yang menghalang-halangi jalan ke arah kemajuan dan memberi pengetahuan Barat kepada putera dan puterinya. Dalam suratnya, ia mengutip amanat Eyangnya kepada anak-anaknya bahwa,

“Jikalau kalian tidak mencari pengetahuan, kalian tidak akan merasa bahagia, dan akhirnya dinasti kita akan makin mundur. Camkanlah kata-kataku ini.”

Dari kemajuan berpikir ini, akhirnya empat orang kelak menjadi bupati. Mereka adalah R.M.A.A Tjondronegoro V sebagai Bupati Brebes, R.M.A.A. Purboningrat sebagai Bupati Semarang, R.M.A.A. Sosroningrat sebagai Bupati Japara, dan P.A. Hadiningrat sebagai Bupati Demak. Dari keempat Bupati tersebut, Kartini lahir dari Bupati Japara, R.M.A.A. dengan Mas Ayu Ngasirah sebagai garwa ampil.

Dari silsilah yang dikemukakan di atas, diketahui bahwa Kartini merupakan putri yang lahir bukan dari orang sembarangan. Ia dilahirkan melalui garis keturunan yang terpilih dan cita-cita yang lahir pun atas watak dan cita-cita leluhurnya, Pangeran Ario Tjonndronegoro IV. Namun, perbedaannya adalah ia seorang perempuan. Perempuan yang mampu menatap wajah orang-orang yang memandangnya rendah dengan tatapan yang tajam dan berwibawa.

Walaupun pada kenyataannya ia dilahirkan oleh ‘garwa ampil’, Mas Ayu Ngasirah, yang bukan berasal dari kalangan bangsawan, tetapi ibunya adalah istri pertama Sosroningrat. Ayahnya menikahi ibunya ketika masih berpangkat wedono.

Setelah melahirkan putra keduanya, R.M. Boesono, ada pembicaraan di kalangan pemerintah bahwa Sosroningrat akan diangkat menjadi bupati dan ia diberi isyarat supaya menikah dengan seseorang dari kalangan ningrat yang sederajat dengan dia, yang akan dijadikan ‘garwa padmi’ atau Raden Ayu.. Sampai pada akhirnya, ia menikah pada tahun 1875.

Untuk selanjutnya, seumur hidupnya ia bergolak dengan pikiran-pikiran yang menginginkan adanya perubahan yang lebih baik untuk rakyatnya, khususnya untuk perempuan. Ia berkemauan keras untuk menghilangkan kebodohan yang melekat pada rakyatnya dan memberangus sifat-sifat egois serta sifat tamak dan gila hormat, baik dari golongannya sendiri, yaitu kaum ningrat Jawa, maupun dari kaum Belanda yang secara sewenang-wenang menghina serta merendahkan kaum pribumi saat itu.

Pergolakan tersebut disalurkannya melalui tulisan dan surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabat-sahabatnya dalam bahasa Belanda yang diakui oleh orang-orang Belanda sendiri sebagai yang baik, santun, dan indah. Itulah ibu kita, Kartini. Pejuang reavolusioner melalui ketajaman berpikir dan intelektual yang berkemajuan. Ketulusan serta semangat yang membara menjadikan namanya abadi dan terkenang di hati seluruh rakyat Indonesia.

Walaupun di awal tulisan, diketahui bahwa Kartini merupakan keturunan orang besar. Namun, kebesaran dirinya juga dibentuk melalui usahanya sendiri dalam memperjuangkan cita-citanya. Cita-cita yang mulia. Memang ada kalanya orang besar lahir dari keturunan orang yang juga mempunyai pengaruh yang besar. Namun, kebesarannya sendiri tidak luput dari usaha serta dedikasinya dalam mengabdi. Bahkan, kebesaran seseorang bisa diciptakan, juga dihilangkan. Tergantung pada usaha diri sendiri.