Aduh, tuan tiadalah tahu betapa sedihnya jatuh kasih akan zaman muda, zaman baru, zamanmu, kasih tanpa segenap hati jiwa, sedangkan tangan dan kaki terikat, terbelenggu pada adat istiadat dan kebiasaan negeri sendiri, tiada mungkin meluluskan diri dari ikatannya. – R. A. Kartini

Kartini adalah anomali. Ia juga korban kebiasaan pada zamannya. Sejak usia 12 tahun harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit hingga akhirnya menikah di usia belia. Ia sama dengan wanita sezamannya. Tapi ia pun pembeda. Ketika menjadi wanita literat dianggap bukan khitahnya, ia terus mendidik dirinya.

Dalam bagian Kata Pembimbing dalam buku terjemahan Door Duisternit tot Licht (Habis Gelab Terbitlah Terang), Armijn Pane menakrifkan bahwa leluhur Kartini, termasuk ayahnya, R. M. Adipati Ario Sosroningrat, dianggap keluarga paling maju dalam pendidikan Barat di antara keluarga ningrat lain di Jawa. Namun, ketika Kartini sudah waktunya dipingit, sesuai kebudayaan Jawa yang diyakini, ayahnya tetap berkata ‘tidak’ ketika Kartini meminta meneruskan pendidikannya.

Pada era ketika internet dan media sosial belum tercipta, ia telah surat-menyurat dengan teman-teman Eropa-nya dalam Belanda. Jacques Henrij Abendanon menjadi pengumpul surat Kartini hingga terbitnya Door Duisternit tot Licht tahun 1911 di Den Haag.

Kepres No. 108 Tahun 1964 ciptaan Presiden Soekarno pun menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan dan 21 April sebagai hari untuk memperingati perjuangannya. Namun ada yang salah dalam peringatan Kartini beberapa dekade terakhir. Hari Kartini diperingati dengan sekadar mengenakan kain batik, sanggul, dan kebaya.

Bisa dianggap benar jika momen itu digunakan untuk melestarikan kekayaan budaya lokal. Namun substansi peringatan kurang mengena pada perjuangan Kartini.

Selama hidupnya, Kartini terus memperkaya dirinya dengan ilmu walau diri dan jiwanya terpenjara. Membaca dan menulis merupakan sebuah keniscayaan baginya walau hati terasa sepi. Lebih-lebih lagi kawan-kawan satu sekolahnya dulu telah pergi ke Belanda. Mereka gapai impian menempuh tarbiah baru mereka.

Hanya membaca buku dan surat menyurat menjadi kesenangan Kartini. Pada tahun 1900 J.H. Abendanon berkunjung ke Japara beserta istrinya. Praktis setelah itu Kartini bersahabat dengan suami-istri Abendanon. Ia pun gemar mengarang untuk majalah dan surat kabar sehingga ia selalu menerima permintaan untuk mengarang.

Ia memiliki niatan untuk belajar ke Belanda, menjadi vroedvrouw (bidan) dengan belajar di Mojowarni, dan menjadi guru dengan belajar di Betawi. Namun, Mr. Abendanon juga menyarankan Kartini supaya membuka sekolah sendiri sambil menunggu jawaban dari Betawi.

Pada 8 November 1903, ia pun menikah dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat dan menjadi istri keempatnya. Berganti gelar dari Raden Adjeng menjadi Raden Ajoe.

Lalu 13 September 1904, ia melahirkan anak pertama dan terakhirnya, R. M. Soesalit Adjojoadhiningrat, yang kemudian berkarier di kemiliteran Indonesia. Empat hari kemudian, 17 September 1904, ia meninggal dunia di usia 25 tahun.   

Sampai sekarang saya selalu menyimpulkan Kartini sebagai korban keadaan. Dalam dirinya selalu terjadi pergolakan dan penolakan budaya yang mengekang kebebasan perempuan.

Walaupun ia berada di dalam keluarga yang berpikiran maju, namun ia tetap terkungkung dalam budaya keluarga Jawa yang mengharuskan ia dipingit daripada melanjutkan sekolah. 

Armijn Pane pun menjelaskan kehidupan masyarakat yang mengambil beberapa pemikiran maju Barat asal Belanda. Namun yang diambil adalah yang perlu-perlu saja. Beberapa adat Jawa tetap dipertahankan.

Selama hidup hingga matinya, banyak orang yang membicarakan Kartini. Kawan-kawan Eropa-nya tak pernah luput dari kekaguman akan semangat Kartini. Bahkan menyayangkan akan daya yang dimiliki Kartini tapi tak kuasa melawan kungkungannya.

Dalam kisah Kartini, diceritakan pula bahwa saudara laki-lakinya tidak memandang suka terhadap pemikiran kartini. Ia menganggap laki-lakilah yang menentukan. Perempuan yang mengikuti.

Kartini bergelut dalam kesengsaraan. Dianggap rendah oleh saudara sendiri. Beruntung suami-istri Abendanon menjadi pendengar dan pembimbing setianya.

Kartini pun tercatat dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer baik dalam tetralogi Buru hingga Panggil Aku Kartini Saja. Kartini terkenal akan surat-surat dan karya-karya buah pemikirannya yang magis. Namun apa daya budaya pengekangan belum luntur pada saat itu.

Pram pun selalu senantiasa membuat karya yang berceritakan kesusahan perempuan yang menjadi korban paksaan budaya. Gadis Pantai, yang naskah kedua dan ketiganya dibakar tentara, menjadi karya fenomenal Pram dalam mengisahkan kepedihan seorang gadis nelayan yang dipaksa menikah dengan Bendoro Bupati.

Akhir kisah, ia pun diceraikan dan diusir oleh sang Bendoro karena melahirkan seorang bayi perempuan. Dengan mengamuk, ia mengusir istrinya yang baru saja melahirkan. Sang bayi pun hanya boleh menetap tak boleh dibawa oleh yang melahirkannya.

Wajah muram adat yang merendahkan perempuan di masa lampau menjadi memo menghadapi masa kini. Masa kini yang tak boleh memandang beda laki-perempuan.

Kartini, Gadis Pantai, Dewi Sartika, Tjut Njak Dien, mereka adalah anomali. Anomali perempuan Indonesia. Mereka memperjuangkan hak diri, hak perempuan lain, dan hak insan lain.

Laki-perempuan, lanjutkan perjuangan mereka!

Referensi:

Kartini, R. A. Habis gelap terbitlah terang/ R.A. Kartini; terjemahan Armijn Pane – cet. 27 – Jakarta: Balai Pustaka, 2009.