.. maafkan segala kekhilafanku, telah mencintaimu.

kutuk saja aku menjadi kekasihmu.


#1
RAHASIA

penjarakan saja aku,
pada tempat paling rahasia yang kaumiliki.

tempat di mana kautak bisa memulangkan dia dalam ingatanmu;

tempat di mana mata bisa menjadi buta sebab tenggelam di dalamnya;

tempat di mana waktu tak bisa berkuasa dengan semaunya;

tempat di mana rindu bersarang di dalamnya;

kautahu, tempat apa itu?

hatimu.


#2
SUNYI

kamu betah menyembunyikan kata

tanpa sadar,
di sampingmu telah ada aku yang kamu diamkan.
kamu betah membiaskan bahasa

tanpa sadar,
di sisimu sudah ada aku yang kamu asingkan.

apa pedulimu hanya untuk kamu seorang saja?

untuk apa meniadakan sendiri?
jika ternyata,
kini, kamu lebih memilih menjadi sepi.

untuk apa dulu kamu bersikeras ingin menepi?
jika pada akhirnya,
bersamaku, kamu hanya melengkapi perih.

sungguh,
diammu menyulitkanku

jangan abaikan aku!
sementara kamu tahu,

kehilanganmu adalah kelumpuhanku.


#3
USAI

Kekasih,
pernah adalah kata paling musibah,
perintah yang menghantarkanmu kepada punah.

kekasih,
pernah adalah denyut paling wabah,
titah yang memenjarakanmu ke dalam musnah.

Kekasih,
setelah kata itu,

kaubelah aku dari dirimu.

aku yang serakah pada salah
kau yang kalah pada amarah.

kita kisah yang rekah.

kekasih,
setelah kata itu,

kaupecah aku dari utuhmu

aku yang rebah pada serapah
kau yang payah pada pasrah.

kita kisah yang pisah.

#4
PULANG

aku melihat pergimu,
serupa langit melepaskan hujan.

aku melihat pergimu,
serupa gulita membiaskan petang.

aku melihat pergimu,
serupa lupa menuntaskan kenang.

kaudengar milyaran kata yang terbunuh sebab hujan tak sanggup tampung pedihnya rindu?

jika cara terbaik mengingatmu adalah dengan seteguk kopi,

sungguh,
aku ingin menenggelamkannya,
beberapa teguk lagi.

kopiku usang.
tak bisakah kedua tanganmu pulang?

tangan yang sanggup mengaduk resahku menjadi musnah.


#5
DUSTA

kusimpan semua bunyi dalam sunyi

biar kaurasa,

bahwa diam adalah suara
seisi dada.

duka memang bukan perkara mata,
tetapi melihat kau berkhianat dengan mesra,
mulutku jadi bernapsu untuk bergema

"manusia yang gemar berdusta,
tak ubahnya rongsokan yang bernyawa"

ke mana angin surga yang kaujejalkan di telingaku dengan penuh asa?

tak lain hanya sebatas neraka yang didempul kata-kata.

kaubilang,
perasaan bisa habis,
seperti batang rokok yang ludes dikunyah api.

siapa peduli,
nyatanya, dia merekat pada waktu.

dia tidak akan bisa habis,
namun berubah.