Untuk kamu, jika aku telah berada dalam lelahku yang selelah-lelahnya, bolehkan aku berhenti?
Atau sekadar istirahat?

Walau hanya sebentar saja, bisakah aku hidup damai dan tenang tanpa harus merasakan kesakitan ini,
sejenak kulupakan ketakutan-ketakutan yang kian menumpuk ini?

Ada kalanya aku ingin sekadar merasakan pelukan yang penuh kasih, diam yang penuh makna.
Sekadar untuk membuatku berhenti dan memastikan bahwa kehidupanku akan baik-baik saja, bahwa aku mampu dan kuat melewati semua.

Namun, ketika aku mendekat padamu, akan aku temukan luka lama yang engkau biarkan berkarat dan terus menyakiti hatimu, ya hanya hatimu saja. Padahal di sini, aku pun merasakan sakit yang teramat dalam.

Untuk kamu, jika aku berada di titik terlemahku yang selemah-lemahnya, bolehkah aku melihatmu tak mengeluarkan air mata lagi?

Menyalahkan masa lalu yang kemudian menjadikanku sulit untuk melangkah.
Menyalahkan masa lalu yang kemudian membuatku menjadi orang yang terlalu takut untuk melangkah.
Dan menyalahkan masa lalu yang kemudian benar-benar membuatku sulit untuk menerima apa yang sebenarnya terjadi.

Teruntuk dirimu satu, jika aku bertemu dengan luka yang sejadi-jadinya karena mimpi-mimpi yang tak berpijak di bumi atau nasib yang tak berpihak, bolehkah aku kembali padamu tanpa harus berpura-pura menjadi kuat?

Karena aku tahu, jiwaku rapuh, hatiku bagaikan kepingan puzzle..

Aku tak ingin hidup seperti putri dalam cerita dongeng. Aku hanya ingin benar-benar bisa memahami arti hadirnya “kamu”, “dia”, dan “kita”.

Teruntuk dirimu yang kukasihi, jika aku sangat lelah dengan semua beban ini, bolehkan aku menyudahinya?