Semua orang tentu pernah mengalami fase remaja. Banyak kalangan mengidentikkannya dengan istilah Anak Baru Gede alias ABG.

Di fase ini, selain perubahan fisik, perubahan secara psikis turut memengaruhi. Terbit perasaan-perasaan baru yang berkecamuk, seperti mulai menyukai lawan jenis, ketidakpercayaan diri saat memasuki lingkungan pergaulan baru, kurang pe-de karena bentuk fisik, atau minder karena tidak berdiri pada status sosial yang sepadan dengan kawan sepermainannya.

Berangkat dari berbagai permasalahan yang dihadapi anak-anak baru gede inilah, psikolog anak dan remaja Roslina Verauli, MPSi menjawabnya dalam buku "Teenager 911: Pertolongan Pertama pada Pergalauan dan Pergaulan".

Dalam prakatanya, mbak Vera, demikian ia biasa disapa, sengaja menyaring berbagai curhat yang masuk kepadanya, termasuk yang pernah ia asuh dalam rubrik Help di majalah Kawanku, agar senantiasa sesuai dengan masalah remaja masa kini. Terbukti, topik-topik yang diangkat dalam buku ini memang terbilang tak pernah lekang oleh zaman. Sebut saja masalah personal, pertemanan, keluarga, akademis, masa depan, cinta, dan seks.

Teenager 911 membagi paparan ke dalam lima bagian, yakni (1) Me, Myself and I, (2) Social or So-sial, (3) Let's Talk About Love and Sex, (4) It's My Family, dan (5) What the Future Holds?

Pada bagian Me, Myself and I, mbak Vera mengajak pembaca menyelami curhat-curhat yang pernah ia terima sembari dibimbing untuk memusatkan diri pada kelebihan yang dimiliki. Salah satu yang menarik, remaja berusia 13 tahun yang kadung berani menyimpulkan dirinya dilanda depresi. Ia mengungkapkan dirinya sebagai pribadi yang melankolis, mudah tersinggung, mudah sakit hati, dan 97% cocok dengan ciri orang depresi.

Kisah menarik lainnya datang dari bagian Social or So-sial. Pada bagian ini mbak Vera memang mengajak pembaca untuk memahami "the darkside of friendship" yang seringkali terabaikan. Sebagai contoh, curhat dari sorang remaja perempuan berusia 16 tahun yang berteman dengan seorang lesbian. Banyak orang termasuk pacarnya mengancam akan memutuskan hubungan jika tidak menjauh dari kawan lesbiannya itu.

Peran mbak Vera sebagai psikolog pun hadir dengan memberi jawaban yang mudah dipahami dan juga dipraktikkan. Interaksi antara mbak Vera dengan pembaca terasa intens karena pembaca diajak untuk mendiagnosis diri dan menuliskannya pada kolom yang disediakan. Nanti, setelah ditulis, pembaca diajak membagikan kisahnya ke Instagram @bukuteenager911.  

Buku Teenager 911 bukan sekadar buku "enlightment" semata. Buku ini memberi lebih dari itu. Sentuhan ilustrasi-ilustrasi manis dan quote-quote yang menggugah sengaja diselipkan di setiap pembahasan. Salah satunya, pada bagian terakhir, "Setiap fase hidup sebenarnya hanya sebuah latihan agar kamu 'siap' untuk mengatasi masalah lebih besar di kemudian hari dalam perjalanan menuju kesuksesan pribadi."

Baik remaja maupun orang tua diajak berpartisipasi menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan sebelumnya merefleksi diri sendiri. Membaca buku ini serasa berhadapan langsung dengan mbak Vera di meja praktiknya. Plus, seperti mendengar nasihat-nasihatnya dari balik meja praktik.


Judul: Teenager 911 "Pertolongan Pertama pada Pergalauan dan Pergaulan" | Penulis: Roslina Verauli, MPsi | Penerbit: KataKita | Cetakan: Pertama, 2018 | Tebal: iv + 264 halaman, hard cover.