Dewasa ini, kreatifitas adalah hal yang sangat penting untuk menunjang prekonomian bagi tiap-tiap individu. Bahkan produk hasil kreativitas itu bisa bernilai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Saking pentingnya kreatifitas itu, banyak dari masyarakat kita yang ikut pelatihan atau workshop agar skill mereka terlatih. Nah, yang jadi persoalan adalah ternyata ada juga orang yang sangat kreatif untuk mencari uang dengan memperdagngkan produk-produk agama. Salah satunya adalah ‘Seminar Poligami’ yang dihargai 3 juta perorang. Ngeri!.

Saudara-daura sekalian, turunnya islam sebagai agama langit yang terakhir tentunya membawa tujuan yang mulia, yaitu untuk mengarahkan manusia pada jalan kebajikan. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an Surah Al-Anbiya’:107 yang menjelaskan bahwa turunnya islam di muka bumi ini adalah untuk menjadi agama rahmatan lil alamin yang memiliki arti sebagai agama yang mampu memberikan ketenangan, kearifan, kebijaksanaan, kedamaian dan kasih sayang bagi ummat manusia.

Dengan demikian, ajaran yang terkandung di dalam islam pun tentu tidak lepas dari hal-hal yang mengarah manusia pada kebajikan, dan tidak mengenyampingkan hak-hak manusia, termasuk di dalamnya hak kaum perempuan. Namun, adakalanya kehidupan beragama dan implementasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan yang seharusnya, sebagaimana teks yang terdapat di dalam kitab suci.

Faktanya, agama pada dewasa ini selalu dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan, atau sebuah komoditi untuk mencari keuntungan bagi sekelompok orang. Contohnya di pilkada DKI, di mana isu-isu agama di obral di mana-mana demi memenangi Pilkada DKI. Peristiwa ini tidak lepas adanya kepentingan sekelompok orang dalam mencapai kepentingan untuk menduduki sebuah jabatan pemerintahan, sehingga agama dijadikan sebagai komoditi yang dikapitalisasi untuk menyingkirkan lawan.

Dampaknya, kehidupan beragama menjadi tidak sehat lagi, karena terkungkung oleh kepentingan-kepentingan yang merusak nilai dari agama itu sendiri dan melahirkan banyak kelompok perusak baru. Di tengah dinamika masyarakat islam hari ini, salah satu topik yang tidak lepas dari praktek kapitalisasi topik tentang poligami. Beberapa waktu yang lalu, poligami menjadi trending topik di mana-mana, puncaknya ketika salah satu tokoh agama kondang, ustadz  Arifin Ilham mengunggah kebersamaannya bersama tiga orang istrinya di media sosial. Khalayak masyarakatpun menjadi ramai dan ikut mengomentari kejadian itu, apalagi dengan hadirnya istri ketiga dalam bahtera rumah tangga sang ustadz, ikut menambah sensasi dari pemberitaan itu.

Tidak sedikit yang mendukung, dan bahkan ingin melaksanakan salah satu perintah agama yang tercantum di surah An-Nisa’ ayat 3 itu. pertanyaannya, apakah iya poligami dilakukan atas dasar ikut-ikutan atau mengamalkan perintah agama tanpa subtansi yang jelas?

Disini saya tidak mengatakan bahwa poligami bukan ajaran dari agama Islam, saya hanya ingin menegaskan pada teman-teman semua yang mau poligami karena menganggap bahwa poligami sebagai sunnah rasul yang harus dihidupkan atau perintah agama saja, tanpa memperhatikan ada apa dibalik poligami itu.

Poligami merupakan salah satu ajaran bagi ummat islam, tapi bukanlah ajaran yang harus dilaksanakan begitu saja tanpa adanya pertimbangan matang dan situasi mengahruskan anda berpoligami atau dipoligami. Al-qur’an telah memperingatkan dua hal bagi seorang laki-laki yang mau berpoligami, yaitu berlaku adil dan memperhatikan hak anak yatim. Ini dijelaskan dalam al-qur’an An-Nisa ayat 2 dan 3.

Kata adil dan memerhatikan hak anak yatim dalam ilmu nahwu dikenal dengan istilah jawabussyarat yang mana ketika hal ini tidak dipenuhi, hukum mengenai bolehnya poligami akan gugur dan berubah menjad haram. Ini menandakan bahwa poligami dilakukan tidaklah semata-mata atas dasar teks al-qur’an yang memperbolehkan  poligami dilakukan, melainkan juga ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum melakukan poligami. Sehingga dalam melihat ayat tentang poligami ini sebaiknya dilakukan secara holistik, agar tidak menimbulkan sesat pikir.

Selain itu, poligami pada hakekatnya tidak lepas dari unsur atau problem sosial yang melatarbelakanginya khususnya situasi sosio-ekonomi perempuan. Maka tidak heran jika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam., dalam berpoligami bukan yang cantik yang diutamakan, melainkan yang paling butuh santunan, khususnya santunan materi.

Bedanya dengan hari ini adalah, banyak orang berpoligami tujuannya menambah jumlah istri dan pemenuhan kebutuhan seksual belaka tanpa memperhatikan problem sosial yang ada, sasarannya pun adalah perempuan-perempuan muda, sehat, cantik dan kuat dan tidak memiliki masalah sosial yang berarti sebagaimana perempuan-perempuan yang dinikahi oleh Nabi Muhammad.

Cerita tentang Hafshah Binti Umar, putri salah satu sahabat nabi Muhammad yang digelari sebagai singa padang pasir, yaitu Umar Bin Khattab pernah mengalami duka yang sangat mendalam, sekaligus kesulitan yang tiap hari terus bertambah karena suaminya gugur pada perang Uhud. Umar berkali-kali menawarkan kepada sahabat-sahabat yang lain, seperti Ustman dan Abu Bakar, namun keduanya menolak tawaran tersebut sehingga Umar merasa kasihan dan bersedih karena anaknya yang tengah menjanda itu.

Hingga Nabi Muhammad datang dan memberikan sebuah ultimatum bahwa putri Umar, Hafshah Binti Umar akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari kedua sahabatnya itu. Mendengar hal tersebut Umar yang selalu murung karena persoalan ini memberi respon gembira, karena tahu bahwa putrinya akan dinikahi oleh sang nabi sendiri. Tidak hanya itu, dari sekian banyak istri nabi, selain Aisyah Radiyallahu Anha, semuanya adalah janda yang mayoritas ditinggal suaminya karena peperangan dan kondisi ekonominya miskin. Mau kita melakukan seperti nabi?

Kisah ini setidaknya memberikan pandangan kepada kita bahwa, tujuan poligami sejatinya tidak lepas dari adanya persoalan sosial yang dialami kaum perempuan. Poligami tidak boleh dilaksanakan hanya karena merasa istri yang dimiliki kurang memuaskan atau sudah berangsur tua sehingga ketertarikan fisiknya sudah memudar. Disini saya ingin menegaskan kembali, bahwa poligami memiliki unsur sosial di dalamnya, maka perhatikan hal ini dengan baik jika anda mau berpoligami!.

Karena poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad kala itu tidak terlepas dari adanyanya keinginan yang kuat, dan dorongan wahyu, untuk meringankan beban sahabatnya dan beban yang dialami perempuan-perempuan yang statusnya sudah janda, dan poligami pada masa Nabi dijadikan sebuah solusi dari persoalan sosial yang selalu menggerogoti kehidupan, khususnya para perempuan yang memiliki anak, tapi tanpa seorang suami disampingnya.

Jika dilihat, poligami yang dipahami kebanyakan orang pada hari ini sudah mengalami pergerseran makna yang secara sengaja dilakukan, di mana masyarakat digiring pemikirannya untuk memahami bahwa poligami adalah ajaran yang anjurkan oleh agama yang hukumnya sunnah untuk dilakukan dan sebagai bentuk menghidupkan sunnah nabi. Sampai ada organisasi tertentu yang membuat seminar dan semacamnya, dan sudah menyiapkan perempuan-perempuan muda yang secara psikologis sudah siap dipoligami. Tentu ini sangat luar biasa menyimpangnya.

Saya berpendapat bahwa kegiatan semacam ini merupakan kegiatan eksploitasi perempuan yang dibingkai dengan agama agar masyarakat tidak menggugat. Di mana perempuan secara bebas dimainkan perasaannya, di mainkan hak asasinya, agar kebutuhan seksual laki-laki terpenuhi. Tentu ini menjadi problem bagi kita sebagai makhluk yang beragama, khususnya yang beragama islam, di mana ajaran agama dijadikan sebuah alat pemenuhan kepentingan atau kebutuhan seksual semata.  

Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa poligami dalam pelaksanaannya tidak bisa dilepaskan dari dua dimensi penting, yaitu spiritual dan sosial serta hukum poligami itu sendiri yang mengandung unsur syarat di dalamnya. Ketika dua dimensi ini lepas perhatian kita, maka poligami akan menjadi sebuah komoditi yang dengan mudah dikapitalisasi, dan dengan itu kepentingan sekelompok orang untuk meraup keuntungan materi sangat terbuka. Apalagi dengan terjadinya pergeseran paham keagamaan yang berdampak pada praktik keagamaan yang salah, sehingga agama menjadi sangat mudah untuk diperjual-belikan di pasaran.

Poligami pun demikian, selain pemenuhan seksual, tidak sedikit orang yang menjadikan poligami sebagai ajang mencari uang, melalui seminar-seminar bertema poligami yang hari ini juga sangat gencar dilaksanakan yang sasarannya adalah kalangan muda-mudi, agar mereka memiliki pemahaman bahwa poligami ada ajaran agama yang dianjurkan oleh agama. Senjatanya adalah surah An-Nisa ayat 3.

 Yang lebih mencengangkan lagi adalah kegiatan ini selalu dibandrol dengan harga yang relatif mahal, berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Padahal, kalau kita adalah muslim yang waras secara akal, poligami tidak mungkin dijadikan sebagai ajang mencari uang dan semacamnya.

Inilah wajah kapitalisasi era modern, yang telah masuk dan ikut menggerogoti pemahaman agama masayarakat agar mau memperjual belikan agamanya. Poligami bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran yang sering menjadi sasarn kapitalisasi, yang dijual melalui seminar-seminar bertemakan poligami, atau forum khusus untuk laki-laki yang katanya mau ‘nyunnah’ melalui poligami. Inipun tidak main-main, di dalam forum-forum itu juga disediakan wanita-wanita yang siap dipoligami sebagaimana yang saya kemukakan sebelumnya.  

Maka dari itu, perlu bagi kita semua sebagai muslim kembali pada pemahaman agama yang lurus. Yang di dalamnya adalah dakwah sebagai cara dalam menyebarluaskan ajaran agama. Islam sebagai agama rahamatan lil ‘alamin tentunya telah melarang pengikutnya untuk menjual ayat-ayat Allah, apalagi dengan harga yang murah, ini menghina Tuhan namanya.

Karena jika dilakukan, maka perilaku semacam ini merupakan bentuk dari melecehkan agama Allah. Poligami jika dimaknai hanya sebagai cara untuk menambah jumlah istri, atau karena faktor biologis semata, maka itu bukanlan poligami ala islam, apalagi melupakan unsur sosial yang ada. Poligami boleh saja dilakukan, jikalau cara dan tujuannya sama dengan poligami yang dilakukan oleh nabi. Yaitu nikahi perempuan yang lemah, tua dan besrtatus janda, kalau tidak mampu jangan poligami.