Seorang teman yang masih jomblo—di saat kawan lain sudah memiliki satu-dua anak balita—memilih ikut lebaran kawan yang lain hanya untuk menghindari pertanyaan: kapan kawin? 

Pertanyaan itu rasanya jamak terdengar saat keluarga besar berkumpul, atau tetangga kiri kanan bertemu dalam kebahagiaan lebaran. Rasanya mereka adalah gerombolan yang paling berhak dengan pertanyaan tersebut. 

Raditya Dika ketika masih jomblo dulu dengan entengnya jawab: kapan-kapan. Atau kalau usilnya sedang kambuh, paling dia akan jawab: entar Mei. Dan kita akan bilang: wah, ikut senang ya. Sebentar lagi kawin. “Iya. Maibe yes, meibi no,”   paling begitu jawaban Raditya.

“Aku ikut ke kampung kawan ini, supaya tidak ditanya kapan kawin,” ujar temanku yang melarikan diri dari Jakarta ke Klaten. “Di sini tidak ada yang nanya kapan kawin. Syukur-syukur ketemu perawan desa,” jelasnya.

Lha kamu, mblo, ditanya begitu saja memilih melarikan diri. Emang aku ndak ada yang nanya begitu, po.Lha tante kan sudah nikah, masih bisa jawab: sudah pernah. Kalau kami? Beban lho,” ujarnya berargumen.

Lebih dari satu dekade menjadi jomblo sejati, memang belum ada niatan untuk kawin (lagi). Dulu kan sudah pernah. Dan berakhir seperti ini. Masa mau mengulang lagi. “Siapa tahu jodohmu lebih baik. Bisa mengasihi dan menjagamu,” seorang teman menasihati lewat doanya.

“Kamu tak tahu saja nikmatnya hidupku ini. Aku bebas ke mana saja dan menikmati hidupku keliling Indonesia,” balasku. 

Toh dalam kesendirianku, aku tak lupa pacaran, supaya ingat bahwa ciuman itu nikmat. Dan basa-basi ditanya: sudah makan, pakai baju apa hari ini—tidak aku lupakan. Meskipun untuk perhatian yang terakhir bisa kita dapatkan dari abang ojek online yang setia menjemput kita setiap hari. 

Kita akrab dengan WA—pakai  baju apa, nunggu di mana—dari abang ojek, bukan? Jadi tak perlu khawatir berlebihan kalau jomblo membuatmu kurang perhatian. Dengan Rp7.000 dari Gondangdia - Thamrin, kamu akan dapat perhatian yang kamu inginkan.

Pacaran pada fase ini beda degdegannya dengan tahap monyet jatuh cinta dulu. Pakai malu-malu. Pakai gemes-gemesan. Pakai gombal-gombalan. 

Lha ngaku saja bagaimana kamu senangnya bukan main digombalin pacarmu pada waktu SMA dulu. Dibilang cantik, supaya ujung-ujungnya dapat mencium sedikit pipimu. Itu saja sudah bangganya kayak bolak-balik langit bumi.

Dibilang parfummu enak sekali, ujung-ujungnya, tiap berapa jam sekali kamu semprot tubuhmu dengan parfum kesukaan pacarmu itu. Padahal pasti orang tuamu mbatin, "Ini anak mandi pakai parfum atau bagaimana tho, wanginya saingan dengan peri."

Dulu, ketika masih awal-awal menjadi orang tua tunggal, pertanyaan kapan kawin ini membuat saya sensitif sekali. Sudah kayak preman saja, berani senggol, gue bacok nih. 

Muka saya kenceng kalau ada orang berani menanyakan hal itu, terlebih kalau di tempat publik. Rasanya jadi nista sekali. Mungkin perasaan ini sama seperti yang kamu alami saat ini, mblo. Sedihnya beneran, meski yang tanya hanya iseng belaka.

Lambat lain, saya mengubah cara berpikir saya. Saya mengajari diri sendiri untuk menjaga wilayah pribadi dan mana ranah yang boleh orang lain terlibat di dalamnya, meski hanya lewat pertanyaan saja.  

Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu kita? Pertanyaan mereka menyerang wilayah pribadi kita. Keisengan mereka, meruntuhkan pertahanan diri yang kita bangun.

Kalau ada orang bertanya: kapan kawin atau kapan nikah, saya akan diam saja. Sampai orang tersebut akan menanyakan kedua ketiga atau keempat kalinya. Dan saya bergeming. Tutup mulut. 

Aksi diam seperti itu akan membuat orang risih dan syukur kalau dia akan minta maaf dengan pertanyaan yang sudah masuk ke wilayah pribadi kita.

Buat saya, pertanyaan kapan kawin itu sama tidak sopannya dengan menanyakan apa agama kamu, dari mana asal-usulmu, atau apa warna celana dalammu. Setidaksopan itu.

Kamu pasti risih bukan kalau ditanya apa warna celana dalam yang sedang kita pakai. Rasanya bagai ada orang yang menyingkap rok kita hanya untuk melihat apa warna celana dalam kita. Pengen nampol tidak dengan kekurangajaran ini?

Dan proses ini berhasil. Paling tidak buat saya sendiri. 

Kali lain, kalau saya sedang ingin sopan, saya hanya jawab dengan senyuman. Iya, senyumin saja. Bukankah kita yang paling tahu kapan memutuskan untuk pacaran atau bahkan kawin(lagi) dan bukan karena desakan pertanyaan dari kaum yang ingin tahu warna celana dalam kita? Keingintahuan yang tidak penting sama sekali.

Lebih penting, bagaimana membangun bangsa ini, supaya cebong dan kampret segera menjadi katak dan kelelawar. Oh ya, mereka harus dikebiri, supaya tidak ada lagi generasi yang digolongkan cebong dan kampret lagi. Kasihan.