Pada era millennial ini, masyarakat tidaklah semakin sekuler. Sebaliknya yang terjadi adalah meningkatnya religiusitas masyarakat, ya setidaknya di negara kita. Modernitas dan perkembangan IPTEK tak lantas membuat agama dicampakkan. Yang terjadi justru agama punya daya adaptasi yang tak pernah kita duga terhadap zaman modern. Ada ungkapan agama punya seribu nyawa.

Ungkapan ini agaknya benar kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Modernitas memang mempunyai celah, inilah yang diisi oleh agama. Semakin materialis dunia modern membuat masyarakat justru menderita kehausan spiritual. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh para pendakwah agama. Para pendakwah pun alih-alih melawan modernitas, mereka justru lihai memanfaatkan instrument-instrumen IPTEK untuk pengembangan ajarannya.

Tentu saja menurut konstitusi beragama adalah hak warga negara. Adalah sebuah utopia jika kita ingin menghapuskan agama dari kehidupan masyarakat. Agenda yang lebih realistis adalah bagaimana agar keberagamaan kita bisa selaras dengan pembangunan bangsa. Saya mencoba mengambil contoh dari agama Islam.

Pada masa awal-awal kemerdekaan, selain sebagai sebuah ajaran spiritual, Islam juga merupakan aspirasi politik. Hal ini bisa kita lihat dari kasus piagam Jakarta, DI/TII dan Masyumi. Pasca tumbangnya orde lama tumbuhlah pemikiran Islam kultural. Dari kalangan modernis ada Cak Nur dan dari kalangan tradisionalis ada Gus Dur. Proyek pembaharuan pemahaman Islam ini juga didukung oleh tokoh lain misalnya Mukti Ali dan Harun Nasution.

Walaupun pasti banyak yang menentang gagasan pembaharuan ini, namun apa yang dilakukan para tokoh tersebut relatif berhasil. Islam yang berwajah moderat menjadi mainstream, sementara yang berwajah konservatif berada di pinggiran. Hal ini bisa dilihat dalam pemikiran dan gerakan ormas Muhamadiyah dan NU. Namun apakah Islam konservatif benar-benar mati?

Ternyata tidak, mereka hanya tiarap karena kebetulan pemerintahan era orde baru tidak ramah dengan mereka. Hal ini bisa dilihat pasca reformasi, bangkitlah faham-faham Islam konservatif dari persembunyiannya. Sampai hari ini wacana konservatif di kalangan umat Islam menjadi cukup mewarnai umat Islam. Bahkan wacana moderat sudah mulai ditinggalkan.

Tentu saja Islam konservatif pun tidak monolitik, namun terdiri dari berbagai macam spektrum. Walau begitu, namun ada kesamaan di antara mereka semua. Diantaranya bahwa Islam adalah way of life yang sudah sempurna dan menyeluruh. Hal ini berdasarkan dalil bahwa umat Islam harus ber-Islam secara kaffah. Apakah faham tersebut salah?

Tentu sebagai seorang muslim penulis meyakini bahwa memang ajaran Islam memuat seperangkat hukum yang ditaati. Misalnya terdapat dalam rukun Islam yang berisi ritual-ritual inti ajaran agama Islam. Dalam hal-hal yang sifatnya ritualistik umat Islam harus sami’na wa atho’na. Namun sebaliknya dalam hal-hal yang sifatnya sosial kemasyarakatan maka hukum menjadi lebih longgar.

Dalilnya adalah bahwa Nabi Muhammad SAW. Pernah bersabda :” Kalian lebih mengetahui mengetahui urusan dunia kalian.” Lalu dalam sebuah kaidah fikih disebutkan bahwa hukum asal dari muamalah itu mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Intinya dalam persoalan sosial kemaryarakatan ajaran Islam mencakup pada prinsip-prinsip umum. Adapun teknis operasional diserahkan kepada produk pemikiran manusia.

Bersikap saklek dalam ibadah ritual dan fleksibel dalam urusan keduniaan adalah cara ber-Islam yang dianut dan diamalkan oleh Muhammadiyah, NU dan kalangan moderat lainnya. Hal ini terlihat misalnya dari penerimaan terhadap konstitusi negara Indonesia. Biar bagaimanapun sistem kenegaraan adalah urusan dunia, maka agama hanya menekankan prinsip moralnya, tidak sampai detail teknis operasionalnya.

Lain hanya dengan kalangan konservatif di kalangan muslim. Ada juga yang menyebut kelompok ini dengan fundamentalis atau radikalis. Bagi kelompok ini hal-hal yang sifatnya urusan dunia pun harus diatur sedemikian rupa teknis operasionalnya oleh agama. Hal ini berdampak pada pemikiran perlu kembali ditegakkannya khilafah atau daulah Islamiyah. Karena bentuk republik tidak ada pada zaman Rasulullah SAW.

Mereka beralasan bahwa Islam bukan hanya mengatur tata cara ibadah saja. Islam mengatur seluruh kehidupan kita dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Islam mengatur dari mulai individu sampai tingkat negara. Menanggapi hal ini saya setuju saja apabila yang dimaksud mengatur disini adalah soal prinsip universal. Namun jika yang diatur sampai tingkat teknis operasional saya tidak sepakat.

Pembacaan terhadap dalil Islam kaffah harus juga dibarengi dengan dalil “Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum”. Jika tidak maka sebenarnya para kaum konservatif tersebut sudah menyalahi sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad secara umum mempunyai dua dimensi, yakni kenabian dan kemanusiaan. Yang memang sacral adalah dimensi kenabian, adapun dimensi kemanusiaan beliau maka bisa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Tentu kalau Nabi bersin atau batuk, tidak lantas bersin dan batuk menjadi sunnah yang diikuti oleh umatnya bukan? Di sinilah kita harus pandai membedakan mana Nabi sebagai utusan Tuhan dan mana nabi sebagai manusia biasa. Berikut ada beberapa kisah yang terdapat dalam kitab-kitab hadits untuk memperkuat argumen ini.

Suatu hari nabi melewati suatu kaum yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Lantas Beliau bersabda : “Andai kalian tidak melakukan penyerbukan, pasti kurma itu akan tumbuh dengan baik”. Karena yang berbicara adalah nabi, maka orang-orang tersebut menurutinya. Beberapa waktu kemudian, ternyata hasil panen kurmanya jelek. Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad bersabda: “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”

Cerita kedua terjadi saat penentuan strategi pada perang badar. Rasulullah SAW menentukan sebuah posisi untuk melakukan penyerangan. Melihat hal itu sahabat yang bernama Habab bin Mundzir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah posisi ini diwahyukan Allah kepadamu?” Rasulullah menjawab, “Tidak, ini hanya pendapatku saja.”

Menanggapi hal itu Habab menawarkan posisi lain yang menurutnya lebih bagus. Rasulullah SAW menerima saran Habab dan memujinya atas pemikirannya yang cemerlang. Dua kisah barusan menggambarkan bahwa walaupun Rasulullah SAW adalah utusan Tuhan, tak lantas beliau mengurusi sampai hal-hal yang sifatnya teknis operasional.

Terakhir penulis ingin sampaikan bahwa beragamalah secara proporsional sesuai dengan contoh Nabi. Yakni saklek dalam ibadah ritual namun fleksibel dalam perkara duniawi. Jika perkara duniawi harus disaklekan seperti ibadah ritual, maka sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Sayang hal ini banyak tidak disadari terutama oleh yang memilih menganut faham konservatif dalam beragama.