Selama hampir dua minggu terakhir, kita disajikan kata2 "bela agama", yang mencuat setelah adanya kasus dugaan penistaan agama oleh salah satu gubernur bangsa ini. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar, benarkah agama harus dibela ?

Kata "membela" sendiri memiliki definisi : menjaga baik-baik, merawat, memelihara, menolong, melepaskan dr bahaya, menolong (kbbi.web.id). Jika disambung dengan kata agama, berarti membela agama bisa didefinisikan "menolong agama", "merawat agama", "melepaskan agama dari bahaya", dst. Jika kita menilik dari definisinya, menjadi rancu bukan ? Kita menolong agama ? Dari apa ? Bukannya agama yang seharusnya menolong kita agar hidup sesuai perintahNya di dunia ini, dan kelak boleh pulang kembali ke SorgaNya ? 

Membela agama juga memberikan suatu kesan bahwa agama kita sangat rapuh, lemah, insecure dan bukan berasal dari Dia Yang Maha Kuasa dan Maha Penolong. Ataukah kita merasa Dia tidak cukup Maha Kuasa untuk menghukum siapapun yang melecehkanNya dan mencoba mengancam agamaNya ? Tidak cukupkah pameran kekuatanNya saat Dia melenyapkan seisi bumi dengan air bah ? Atau saat dia menghujani Sodom dan Gomorah dengan hujan api dan belerang ? Coba kita pikirkan kembali, dengan mencoba membela agamaNya, bukankah itu sebenanrnya kita sedang melecehkan ke-Maha Kuasa-anNya dan bersikap tidak percaya kepadaNya ? Menurutmu bagaimana raut wajahNya saat dia melihat umatNya, mengacung2kan senjata ditangan, berselendangkan kebencian dihati, sambil mengumandangkan takbir namaNya yang Maha Suci ?

Sejatinya agama hanyalah suatu cara yang kita masing masing yakini, sebagai suatu cara untuk hidup benar di dunia, dan sebuah petunjuk kearah SorgaNya. Karena itu, relasi ini bersifat individual, hanya antara kita dan Tuhan kita masing-masing. Sesama pemeluk agama yang sama, bukan berarti Tuhannya sama. Tuhan yang kamu rasakan, bukanlah Tuhan yg aku rasakan. Tuhan menurut persepsimu, bukanlah Tuhan menurut persepsiku. Ingat Tuhan melampaui batasan bentuk, ruang, waktu dan dogma. Dia tidak akan pernah bisa dinalar dengan nalar manusia, dan tidak akan pernah bisa diukur dengan ukuran manusia.

Jadi, agama jelas bukan sesuatu yg harus kita bela, karena agama akan selalu dibela oleh Dia sendiri yang telah menurunkannya. Iman kita sendiri lah yang harus kita bela.  Iman kita lemah dan rapuh. Iman kita mudah sekali diserang oleh Iblis. Inilah yang wajib kita pelihara, kita rawat dan kita lindungi dari bahaya, dan Tuhan telah menjadikan ini sebagai tugas kita masing2 selama kita berjalan dijalanNya.

Perjuangan membela iman tidaklah semudah mengangkat senjata, karena lawan kita bukanlah sesuatu yang bisa kita kalahkan dengan senjata fisik. Perang membela iman kita akan terjadi setiap saat. Jelas jauh lebih sulit daripada sekedar bergerombol berdemo sambil mengumandangkan takbir. Siapkah kita?