Bayangkan, sudah 2019, posisi presiden saja sudah mau digilir lagi, sudah belasan tahun sejak Orba mengguncang dunia, tetapi jejak dan aromanya masih saja ada. Masa iya sih di zaman serbamodern ini kampus masih saja resek ngurusin gaya rambut mahasiswanya?

Padahal masih banyak urusan kampus yang lebih penting dibenahi, apalagi di kampus saya. Proyektor saja rebutan kalau mau minjam. Belum lagi sampah yang masih sering berserakan (kalau ini mindset masyarakat kampus, sih). Masjid tidak kelar-kelar dibangun, dosen lulusan agama masuk di kelas sosial, dan lain-lain, dan macam-macam. 

Sedekat pengetahuan saya, isu-isu soal citra buruk manusia "berpersneling" yang hobi memanjangkan rambut itu sudah ada sejak masanya Soeharto. Kala itu ada narasi agar semua kode etik dan estetika tubuh diseragamkan. Ya, mirip militer, semuanya hampir persis sama.

Orde baru (Orba) waktu itu benar-benar serius menangani persoalan ini. Sampai-sampai dituangkan dalam instruksi Menhankam (Menteri Pertahanan dan Kemananan) Jenderal Soemirto yang mengirim radiogram No. SHK/1046/IX/73. Isinya, melarang anggota TNI dan karyawan di lingkungan tentara beserta seluruh keluarganya berambut gondrong. 

Akibatnya, di jalanan terjadi razia pria-pria berambut gondrong. Kira-kira begitu kisah sejarah yang saya baca. Waktu itu saya di mana, ya? Ibu saya saja lahir tahun 1975.

Nah, itu kan dulu. Setelah kerusuhan 98 alias reformasi yang dibapaki oleh Eyang Amien Rais, lha kan harusnya segala hal bau-bauan Orba itu hilang, termasuk stigma gondrong ini, kan? Kok sampai Atta jadi King of YouTube Asia Tenggara, stigma ini masih saja ada?

Setelah beberapa kali diskusi (debat sih tepatnya) dan ngobrol sama dosen, ini beberapa alasan mereka larang-larang mahasiswanya gondrong. Walau tidak masuk akal, tetapi beberapa pledoi ini tetap bikin mahasiswa "baik-baik" keok dan enggak lagi berani manjangin rambut.

1. Mirip Preman

Preman, ya. Sedikit sama dengan freeeman yang dijelaskan Yusuf Kalla di film Jagal. Tetapi interpretasinya jelas begajulan, jahat. Maling, rampok, tukang todong, dan segala macam bentuk keburukan masuk di dalamnya. Enggak cuma sekadar manusia bebas yang mau disuruh-suruh ... bunuh orang.

Kadang suka mikir, apa dosen itu sering lupa ingatan, ya? Bos-bos mafia kurang jahat apa, sih? Pemilik perusahaan yang limbahnya hancurin sungai, hutan, sampai lingkungan masyarakat adat, apa iya rambutnya awut-awutan? Koruptor di parlemen itu juga apa ada yang gondrong?

Saya tidak berusaha melegitimasi kejahatan maling, rampok, dan semacamnya. Cuma kalau tampilan fisik dijadikan tolok ukur, memang apa bedanya? Enggak sedikit juga orang jahat yang rambutnya cepak, seragam, pakai kemeja, pakai baju koko, pakai baliho, pakai peci. Eh ...

2. Mirip Tukang Parkir

Kalau dipikir ulang, hati saya perih. Waktu itu, dosen yang lumayan cantik dan muda memanggil saya untuk maju ke depan kelas. Kemudian tanpa basa-basi, bilang ke saya di depan teman-teman lain, "Kamu persis tukang parkir di Pasar Selasa yang sering saya lihat. Kamu gak malu saya samain sama tukang parkir?"

Waktu itu saya cengengesan saja. Udah biasa diginikan juga. Udah kebal. Tetapi pas sudah pulang, tiba-tiba ke-humanis-an saya muncul saat kepikiran kejadian di kelas tadi. 

Memang apa malunya jadi tukang parkir? Apa kerja membantu mengatur letak kendaraan itu sebuah kehinaan? Apa seorang tukang parkir melakukan kejahatan? Dan yang lebih miris, kenapa bisa seorang dosen dengan titel S2 bisa berpikiran sekeji ini? Titelnya sosial pula!

Keperihan ini bertambah setelah seorang teman saya bilang bahwa orang tuanya di kampung adalah tukang parkir. Dia tadi ingin sekali menjawab pernyataan dosen itu, cuma katanya percuma. Gunanya juga enggak ada.

"Toh nanti juga dosen itu lupa sama yang dia bilang," kata teman saya dengan tatapan nanar.

Namanya Ines. Haaahahahahahaha ....

3. Jorok

Hei, kau tahu tidak, saya jauh lebih perhatian sama rambut setelah memutuskan untuk gondrong?

Jangan main asal tuduh saja. Jorok itu sifat bawaan. Sifat manusianya. Tidak ada hubungannya sama gondrong. Kalau dari awal sudah jorok, mau dia cepak atau pakai gaya rambut macam apa pun, tetap saja jorok.

4. Tidak Islami

Cuma ini tidak terucap, sih. Tersirat saja. Kebetulan saya kuliah di Universitas Islam, jadi mereka seperti mengaitkan gondrong dan agama. 

Padahal, kalau mau ditelisik lebih jauh, nabi mana sih yang enggak pernah gondrong? Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam saja, di riwayat hadis-hadis, dengan jelas ditulis rambutnya kadang kala sebahu. Apa itu bukan gondrong namanya?

Pokoknya, ya, kalau sekarang masih saja ada kampus yang melarang mahasiswanya gondrong, kampus itu cupu. Tidak reformis. Oldschool. Ortodoks. Ketinggalan zaman. Mereka ndak tahu saja sekarang banyak karyawan sebuah perusahaan yang dibolehin gondrong. Jadi ndak ada lagi alasan apa pun, termasuk susah cari kerja.

Eh, ampuni aku, ya Allah. Aku enggak bermaksud takabur.