Kampus atau perguruan tinggi di Indonesia, secara tradisional, sudah dikenali dengan tugas-tugas yang harus diemban. Pertama adalah pengajaran kepada para mahasiswa. Kedua, penelitian berkaitan dengan bidang keilmuan untuk mengembangkan ilmu dan diseminasi atau penyebarluasan hasil-hasilnya. Dan ketiga, pengabdian masyarakat agar hasil-hasil penelitian berkontribusi dalam memajukan pembangunan dan peradaban bangsa. 

Tugas-tugas tradisional kampus tersebut dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam praktiknya, itu melekat sebagai kewajiban pada setiap Dosen yang tergabung di kampus tersebut.

Dengan banyaknya kampus di Indonesia dan bidang ilmu yang ada di setiap kampus, seharusnya kemajuan peradaban bangsa lebih mudah dan lebih cepat diraih. Namun dalam praktiknya, tidak semua hal memang bisa diakomodasi atau dikelola lebih lanjut dalam waktu yang bersamaan. 

Selain menerjemahkan karya-karya setiap Dosen yang mungkin tidak mudah dimengerti atau dipahami masyarakat awam, ada hal lain yang harus dipertimbangkan.

Di antaranya, setiap kampus perlu untuk memprioritaskan hal-hal tertentu untuk dikembangkan dalam satu waktu atau periode tertentu sebagai isu. Tanpa meninggalkan bidang ilmu atau program studi satupun untuk mengembangkan isu-isu yang telah disepakati. Dengan demikian, maka setiap isu akan dikaji dan ditemukan solusinya dengan pendekatan multidisiplin atau berbagai bidang ilmu yang ada.

Universitas Andalas dan Prioritas Isu Pembangunan di Sumatera Barat

Bagaimana sebuah kampus mampu memprioritaskan isu-isu tertentu untuk dikembangkan? Salah satunya tentu dengan menyesuaikan di daerah mana kampus itu berada. Dengan kalimat lain, kampus perlu untuk tidak terpisah dari realitas dan dinamika sosial masyarakat di sekitarnya. Misalnya Universitas Andalas yang berada di Padang, Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat dalam pembukaan acara Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Barat, Padang pada pertengahan tahun 2018 pernah menyampaikan bahwa keamanan pangan merupakan salah satu aspek penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM). Konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang tidak akan berarti, jika makanan yang dikonsumsi masyarakat tidak aman dari cemaran kimia maupun mikroba. 

Wakil Gubernur Sumatera Barat pada akhir tahun 2018 menyebutkan kondisi pangan di wilayahnya masih di bawah ambang batas keamanan. Hal itu diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium, sehingga sangat diperlukan upaya meminimalisasi residu yang menyebabkan pangan tidak aman dikonsumsi. Padahal, Sumatera Barat sudah dikenal dengan kulinernya. 

Bahkan masakan dan rumah makan Padang ada di berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Sumatera Barat juga terkenal dengan makanan berbahan dasar daging dan santan dengan rasa pedas. Bahkan jika didaftar, ada hampir 30-an jenis masakan atau kuliner khas dari Minangkabau.

Dari pemaparan para Pemimpin Daerah dan juga informasi yang sangat mudah diakses di berbagai media massa, maka dapat diketahui isu-isu prioritas dalam pembangunan daerah di Sumatera Barat. Sehingga, ditambah dengan isu-isu dalam penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para Dosen dari berbagai bidang ilmu, maka Universitas Andalas pun memprioritaskan isu-isu kedaulatan pangan, obat, gizi, dan kesehatan. 

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LPPM) Universitas Andalas yang didampingi oleh Rektor dalam Klinik Penulisan Ilmiah Populer untuk para Dosen pada awal tahun 2019 yang berasal dari beragam bidang ilmu dan kompetensi keahlian sebagai kepakaran masing-masing.

Peta Jalan Menuju Kedaulatan Pangan, Obat, Gizi, dan Kesehatan

Universitas Andalas tidak hanya memilah dan memilih isu-isu yang diprioritaskan dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi-nya. Namun juga membuat peta jalan atau road map untuk penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan para Dosen dan tentu saja Mahasiswanya. Apakah itu cukup sebagai solusi? Tentu saja tidak. Ada hal lain yang harus dilakukan.

Pertama, tentu saja soal bagaimana mendiseminasikan atau menyebarluaskan hasil-hasil penelitian para Dosen dan Mahasiswa. Salah satunya adalah dengan memaksimalkan potensi para Dosen dan para Mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah populer di media massa. 

Setidaknya, satu langkah dan tahapan untuk sosialisasi bisa dilakukan ketika tulisan atau artikel para akademisi dimuat oleh media dan kemudian dibaca oleh masyarakat. Kedua, perlunya sebuah forum bahkan kalau perlu kelompok gugus tugas yang berisi para Dosen sebagai penulis ilmiah populer untuk media massa. 

Dengan demikian, sebuah isu sebagai bagian dari isu-isu prioritas dan peta jalan penelitian bisa lebih mudah dipublikasikan. Apalagi ketika Universitas Andalas menjalin kerja sama langsung dengan berbagai media massa yang bisa dijangkau. 

Ketiga, mungkin perlu dibentuk adanya Andalas University Media Center, sebuah unit pelayanan terpadu yang bertugas untuk mengelola interaksi dan relasi langsung antara pihak kampus dengan pihak media massa. 

Selain memungkinkan untuk terus memperbarui informasi sebagai bentuk pemberitaan, juga menyediakan sumber-sumber informasi atau berita tentang hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para Dosen dan para Mahasiswa di Universitas Andalas. 

Dengan demikian, maka diharapkan tidak sulit lagi bahkan tidak ada hambatan lagi untuk memberikan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat baik di tingkat daerah maupun nasional, bahkan internasional. Terutama terkait dengan isu-isu kedaulatan pangan, obat, gizi, dan kesehatan.