Dalam salah satu tulisan, saya pernah jelaskan bahwa keyakinan kita akan adanya keberbilangan sifat tidak berkonsekuensi pada keberbilangan zat. Zat Tuhan yang kita imani itu satu, tetapi yang satu itu memiliki sekian banyak sifat yang mencerminkan kesempurnaan-Nya sebagai Tuhan.

Sekarang muncul pertanyaan baru: Kalau memang sifat Tuhan itu banyak—dan kita meyakini itu—bukankah itu artinya Tuhan menjadi tersusun? Dan kalau Tuhan tersusun, bukankah itu bertentangan dengan prinsip keesaan Tuhan, yang kita yakini tidak terdiri dari bagian-bagian?

Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini? Sebelum dijawab, kepada orang yang mengajukan pertanyaan ini, kita berhak untuk bertanya ulang: Apa yang Anda maksud dengan kata "tersusun" itu? Dalam bahasa Arab, kata "tersusun" itu merupakan terjemahan dari kata murakkab.

Kalau sifat Tuhan itu banyak, maka itu artinya Tuhan menjadi murakkab (sesuatu yang tersusun). Dan keyakinan akan ketersusunan zat Tuhan bertentangan dengan prinsip-prinsip keesaan. Hanya saja, sekali lagi, kita perlu meminta penjelasan tentang kata "tersusun" itu.

Jika yang Anda maksud dengan kata tersebut ialah bahwa Tuhan terdiri dari bagian-bagian, tentu itu kita tolak. Karena kalau Tuhan terdiri dari bagian-bagian, maka itu artinya Tuhan butuh pada bagian-bagian yang membentuknya. Tetapi, apakah keyakinan akan adanya keragaman sifat akan berkonsekuensi pada hal itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu jelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kata "tersusun". Kapan sesuatu itu bisa dikatakan tersusun? Jawabannya, sesuatu itu baru dikatakan murakkab (tersusun) apabila dia terdiri dari bagian-bagian tertentu yang bisa saling terpisah satu sama lain.

Komputer yang sekarang saya gunakan untuk menulis ini bisa dibilang tersusun. Mengapa? Karena dia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dari mulai processor, RAM, hard disk, VGA, kipas, dan bagian-bagian lainnya. Dan masing-masing dari bagian yang membentuk komputer itu bisa terpisah satu sama lain.

Handphone yang saya gunakan juga bisa dibilang tersusun. Mengapa bisa dikatakan tersusun? Karena dia terdiri dari bagian-bagian, dan bagian-bagian tersebut, mulai dari LCD, baterai, kartu memori, dan lain sebagainya, bisa terpisah satu sama lain. Baterainya bisa saya copot. Kartunya bisa saya lepas. LCD-nya bisa saya buang. Dan begitu seterusnya.

Ketika itu baru komputer dan handphone bisa saya katakan tersusun. Nah, pertanyaannya sekarang: Berdasarkan makna ketersusunan yang penulis sebutkan di atas, apakah keyakinan akan banyaknya sifat Tuhan itu meniscayakan adanya ketersusunan sehingga Tuhan butuh pada bagian-bagian yang menyusunnya itu?

Sudah kita tegaskan sebelumnya bahwa zat dan sifat itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di mana ada zat, di situ ada sifat. Di mana ada sifat, di sana akan ada zat. Kita tidak mungkin membayangkan adanya zat tanpa sifat, sebagaimana kita akan sulit membayangkan adanya sifat tapi tidak berada dalam zat.

Atas dasar itu, kendati pun kita meyakini keberbilangan sifat, keyakinan tersebut tak akan berkonsekuensi pada ketersusunan zat Tuhan. Mengapa? Karena masing-masing dari zat dan sifat itu tak mungkin terpisah. Dan dua hal yang tak terpisah tidak bisa kita katakan tersusun.

Untuk lebih memperjelas, kita ambil contoh yang lain. Perhatikan tubuh Anda dengan saksama. Anda memiliki muka, tangan, kaki, kepala, telinga, hidung, dan organ-organ tubuh lainnya. Pertanyaannya: Bisa tidak tangan Anda terpisah dari kepala Anda, atau telinga Anda terpisah dari hidung Anda? Tentu saja bisa.

Ketika itu, fisik Anda bisa terbilang murakkab (tersusun). Mengapa? Pertama, karena fisik Anda terdiri dari bagian-bagian. Kedua, bagian-bagian tersebut bisa terpisah satu sama lain. Tangan bisa terpisah dari kaki, kaki bisa terpisah dari mata, mata bisa terpisah dari telinga, dan begitu seterusnya.

Tetapi, Anda, sebagai manusia, juga memiliki sekian banyak sifat yang melekat dalam diri Anda. Katakanlah Anda seorang manusia yang santun, penyayang, dan penyabar. Tiga sifat tersebut ada dalam diri Anda. Zat Anda satu, tetapi Anda memiliki keragaman sifat.

Sekarang, bisakah saya, misalnya, mengatakan bahwa Anda tersusun dari sifat-sifat itu? Jawaban yang benar akan mengatakan tidak bisa. Mengapa? Karena sifat itu pada dasarnya hanya berupa makna saja.

Dan ia melekat sebagai satu kesatuan dengan diri Anda. Artinya, sifat-sifat Anda tidak bisa terpisah dari diri Anda. Karena itu, tidak mungkin kita katakan bahwa Anda tersusun dari sifat-sifat Anda. Yang mungkin dikatakan ialah Anda tersusun dari bagian-bagian tertentu yang menyusun fisik Anda. Dan bagian-bagian tersebut dimungkinkan untuk terpisah dari diri Anda.

Dengan begitu, jelas bahwa keyakinan akan adanya keragaman sifat tidak serta berkonsekuensi pada ketersusunan zat. Meyakini bahwa Tuhan memiliki banyak sifat tak persis sama dengan keyakinan bahwa Tuhan itu terdiri dari bagian-bagian. 

Karena sifat itu, sekali lagi, tak lebih dari sekadar makna. Dan dia ada sebagai satu kesatuan dengan zat yang Mahakuasa. Demikian, wallahu 'alam bisshawab.