Sudah hampir subuh saat ini. Mata belum juga terpejam. Kantuk mungkin lupa singgah. Heran saya, kata-kata ternyata mempunyai pengaruh juga terhadap kemampuan saya memejamkan mata.

Gara-garanya sih sederhana. Minggu lalu, saya “dilamar” kawan lama dulu, yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Dan kata-katanya masih terus terngiang di benak saya. “Aku mencari calon istri, tidak ingin senang-senang dan sendiri terus,” ujarnya. Singkat, tapi dalam maknanya buat saya.

Kalau cari calon istri (lagi) – teman saya sudah bercerai – kenapa harus lapor ke saya? Jangan-jangan yang dimaksud calon istri itu saya. Wajar tho, karena dia bicara dengan saya. Bukan karena saya gede rasa saja lho.

Untung saya usil. "Jadi maumu, menikah dengan saya?" Dia hanya melihat mata saya saja. Dan pasti tidak akan menemukan apa-apa. 

Lha, mau menemukan apa? Kami sudah belasan tahun berpisah. Saya tidak tahu dia sudah menikah punya anak dan bercerai selama beberapa tahun terakhir ini. Bahkan tak ada komunikasi sama sekali. 

Kalau tiba-tiba kami dipertemukan oleh media sosial, dan beberapa kali makan malam, tidak harus diakhiri dengan menerima ”lamaran”, bukan? Perlu pertimbangan panjang.

Kalau mau jujur, ada sih dilema. Terima tidak ya ”lamaran” itu. Atau tetap keukeuh happy being single mom seperti saat ini? Porsinya kayak timbangan jungkat ungkit itu, antara ya dan tidak.

Nah, saya yakin sekali, masalah ini bukan monopoli saya sendiri. Tetapi Anda, yang selama ini menjadi orang tua tunggal, pasti punya banyak pengalaman menarik tentang hal ini. Dramanya pasti banyak. 

Kalau nikah lagi, bagaimana dengan anak-anak nanti. Kalau tidak nikah, bagaimana pula dengan anak-anak. Buat diri sendiri saja ribet, harus mikir untuk anak-anak pula ya.

Atau justru sudah membuang jauh-jauh keinginan untuk menikah? Apa pun keputusannya, pasti sudah dibuat dengan penuh pertimbangan.

Katanya sih, wanita yang ditinggal meninggal dunia duluan oleh suaminya, cenderung tidak akan menikah lagi karena pertimbangan anak-anak dan sejuta kenangan indah yang sudah dilalui bersama. Juga dalam benak selalu hadir waswas, jangan-jangan kalau menikah lagi khawatir tak dapat suami sebaik yang dulu.

Tapi kalau perpisahan terjadi karena cerai, mungkin akan ada yang akan segera mengikatkan diri dalam perkawinan berikutnya. Alasannya, menutup sejuta kenangan buruk yang pernah ada. Selain karena alasan finansial dan biologis. Atau khawatir kesepian di masa tua. 

Yang paling menjengkelkan, yaitu menjauhkan iri dengki dan perasaan tak nyaman dengan status janda dari para tetangga. Tetapi mungkin pula sebaliknya. Menutup diri terhadap perkawinan kembali karena pengalaman buruk tidak ingin terulang lagi. Masing-masing orang memiliki pertimbangan masing-masing.

Tapi di saat ini, kalau makin banyak orang tua tunggal yang tetap ingin menyendiri mungkin karena pertimbangan tidak lagi tergantung dari faktor ekonomi, cukup percaya diri dan tak hirau dengan selentingan kanan kiri. 

Ya buat apa hirau dengan suara-suara di sekitar kita. Di kota besar, hidup adalah milik kita sendiri. Keusilan orang tidak menjadi prioritas yang perlu dipertimbangkan. Yang ada justru diabaikan. Dan jumlahnya barangkali banyak. 

Kecuali, Anda tinggal di desa, dengan kekerapan dan pergunjingan sosial yang masih sangat kental. Bisa jadi ini beban psikologis tersendiri. Anda termasuk berada di lingkungan yang mana?

Memulai relasi baru banyak pertimbangannya. Yang perlu dipertimbangkan justru sudah cukup percaya dirikah kita? Sudahkah selesai berdamai dengan masa lalu? Bila ada anak, sudah siapkah mereka secara mental menerima pasangan kita? Kesehatan jiwa anak menjadi menjadi pertimbangan juga. 

Cerita kanak-kanak tentang ibu tiri yang jahat dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih siapa tahu mendekam dalam memori anak-anak. Hanya dengan komunikasi yang baik dan membangun rasa percaya diri mereka, hal ini bisa diatasi. Entah ayah atau ibu baru yang masuk dalam hidup anak-anak nanti, sejatinya tidak perlu dikhawatirkan ditakuti.

Eh, seberapa jauh sih penerimaan anak terhadap calon pasangan kita? 

Ternyata suara anak-anak ini besar pengaruhnya lho. Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Personal Relationship tahun 2016, sebanyak 82,9% responden menganggap penting opini anak ketika akan kencan. Besar juga ya angkanya.

Tanpa mengacu pada penelitian pun, secara random, kita juga bisa melihat penerimaan anak-anak terhadap calon pasangan kita dari sikap ketika jumpa. Daya sensor anak-anak cukup peka untuk merasakan ketulusan seseorang. Meskipun ini juga masih perlu diuji lagi dengan trauma anak terhadap gambaran orang tua terdahulu dan dengan yang akan dia hadapi nanti.

***

Buat saya, menerima lamaran untuk menikah lagi atau tidak, harus menyiapkan mental. 

Perkawinan tetap merupakan misteri, meski kita selalu meniatkan yang indah dan terbaik. Ini seperti perjalanan, yang kita belum tahu ujungnya ada di mana dan akan seperti apa.

Jadi, saya terima tidak ya lamarannya? Jawabannya tidak tergantung banyaknya pooling yang masuk lho.