Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif sudah dilaksanakan secara serentak pada 17 April 2019. Saat ini sudah masuk tahap perhitungan suara. 

Sebagian besar teman-teman caleg yang berlaga sudah tahu siapa yang bakal terpilih dan terpental dalam pertarungan dahsyat ini. Bagi caleg terpilih, perasaan mereka tentunya berbunga-bunga. Sebaliknya, caleg yang tidak terpilih, sebagian dirundung nestapa dan penuh kebingungan.

Sebagai orang yang pernah ikut berlaga, saya tentu pernah mengalami saat-saat penuh harapan, heroik, dan bergelora serta masa penuh tekanan, duka lara, dan nestapa tatkala hasil akhir pertandingan tidak sesuai yang diharapkan.

Perasaan yang terbayangkan ketika saya terjun untuk pertama kalinya dalam politik praktis, dengan mencalonkan diri menjadi Anggota DPR RI dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) pada Pemilihan Umum 2009 adalah "Habis sudah; kalau sampai kalah!"

Sampai saat pendaftaran sebagai caleg, saya belum pernah merasakan yang namanya kekalahan. Apa yang saya inginkan selalu terwujud. Saya begitu percaya diri bahwa apa pun bisa saya raih.

Tidak pernah terbayangkan bahwa saya ikut dalam kompetisi politik lebih awal. Saya baru selesai menjabat sebagai sekretaris jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PP PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (GMPI), ketika ikut pemilu 2009. 

Modal saya ketika itu semata-mata semangat dan ingin membangkitkan moral teman-teman muda, khususnya teman-teman muda dari NTT, untuk berani bertarung pada kompetisi politik tingkat tinggi.

Tidak disangka, setelah melalui berbagai manuver dan lobi, saya ditetapkan sebagai caleg nomor urut 1 dalam Daftar Calon Tetap (DCT) caleg PKPI pada Pemilu 2009. Sebagai catatan, sistem penetapan caleg pada masa pendaftaran sebagai calon pada bulan Agustus 2008 merujuk pada UU Pemilu Nomor 10 Tahun 2008 ditetapkan berdasarkan nomor urut. 

Belakangan, tepatnya pada tanggal 23 Desember 2008, Mahkamah Konstitusi membatalkan sistem ini dan mengabulkan permohonan agar penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Tidak ada pilihan lain bagi saya selain maju terus karena ini menyangkut kehormatan dan kepercayaan partai menempatkan saya pada nomor urut satu.

Kita semua tahu, politik tidak hanya mengandalkan reputasi, integritas, kemampuan personal, jaringan, tapi faktor yang tidak kalah penting, bahkan menentukan kelancaran kampanye adalah kemampuan finansial.

Saya mengibaratkan diri saya waktu itu tengah berada di samudra luas. Mau mundur tidak bisa, mau menyerah berarti tenggelam. Artinya, kepercayaan partai akan hilang dan orang menilai sebagai pengecut. Jadi, suka atau tidak suka, saya harus bertahan sampai pelabuhan tujuan, artinya bertarung sampai akhir.

Spirit lain yang hidup kala itu ialah tidak mau ada penyesalan dan berandai-andai di kemudian hari. Andai saya berjuang seperti ini, andai saya tidak lengah, andai saya punya saksi sendiri, dan lain sebagainya. Dengan modal seadanya dan tekad yang kuat, saya megarungi lautan perjuangan kompetisi sampai akhir.

Meski hasil akhirnya kalah, karena partai PKPI tidak memenuhi suara ambang batas nasional (parliamentary threshold) sebesar 2,5 persen, saya tetap bersyukur bahwa perolehan suara saya tertinggi di antara 7 calon lainnya. Saya juga bersyukur meski tertatih-tatih bisa juga sampai di ujung pertandingan ini, bahwa saya masih sehat baik secara fisik maupun mental. 

Apa yang saya bayangkan semula akan habis kalau kalah, ternyata saya mendapati diri saya berbangga karena telah melewati pertarungan ini degan baik, meraih suara tertinggi pula.

Walau demikian, tetap saja ada saat-saat penuh kebingungan. Bayang-bayang bahwa saya harus bangun lagi dari nol terus menggelayut dalam benak. Saya merasakan diri seperti terlempar, tercampakkan oleh kehidupan. Seolah, semua yang saya bangun, pengalaman, nama kampus menjadi tidak ada artinya. Saya benar-benar bingung dan terus bergumul.

Namun, uniknya, dan saya anggap ini rahmat, justru dari situasi seperti inilah akhirnya melahirkan keputusan untuk belajar keterampilan baru dengan mengambil kuliah Ilmu Hukum, suatu yang saya tunda-tunda terus sebelumnya.

Situasi ini juga mengubah orientasi dari politik praktis ke politik gagasan. Beberapa artikel yang dimuat pada koran-koran nasional, bahkan buku justru lahir pada masa krisis ini. Demikian juga membangun unit usaha penulisan dan penerbitan JP II Publishing House. 

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kita akan habis rupanya hanya ada dalam persepsi kita, bukan dalam realitas. Ternyata, kita punya kekuatan untuk bangkit lagi, merajut lagi mimpi-mimpi, dan meneruskan perjalanan hidup kita.

Baca Juga: Caleg Parto

Mengingat kembali periode itu, saya jadinya memahami kata-kata dari novelis Paulo Coelho dalam novelnya Manuskrip yang Ditemukan di Accra bahwa:

Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri. Sambil melayangkan pandang, kita katakan pada diri kita, “Aku masih hidup.” Dan semangat kita pun bangkit.