Islam sebagai pedoman dan sistem hidup yang mencakup berbagai aspek kehidupan baik secara kolektif maupun individual. Saat ini, banyak sekali tokoh pemikir Islam yang mengungkapkan pemikirannya mengenai ekonomi Islam yang sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an atau Hadis.

Muhammad Iqbal contohnya, ia adalah seorang tokoh ekonomi yang berbasis pada paradigma Qurani, yakni jalan menumbuhkan kembali semangat intelektualisme guna melakukan rekontruksi pemikiran yang berkembang di dunia Islam demi kemajuan kaum Muslimin. 

Iqbal yakin bahwa Islam bisa mengarahkan perubahan zaman yang dinamika agar sesuai dengan kehendak yang telah ditetapakan Allah. Memiliki metodologi yang sistematis dan teratur masih menjadi tentangan terbesar dalam membangun ekonomi Islam. 

Maka dari itu, Muhammad Iqbal dengan pemikirannya yang sesuai dengan prinsip Al-Qur’an dan Hadis masih banyak digunakan oleh para ekonom sampai saat ini.

Analisis Pemikiran Muhammad Iqbal dengan Kondisi Saat Ini

Muhammad Iqbal dikenal sebagai seorang pemikir ekonom yang multi disiplin, sastrawan, negarawan, ahli hukum, pendidik, filsuf maupun mujtahid. Konsep Ijtihad diterapkan Muhammad Iqbal untuk membuka kembali kemandegan-kemandegan yang terjadi di dunia Islam. 

Iqbal yakin untuk menyembuhkan kembali semangat intelektualisme melalui tiga sumber, yaitu serapan indrawi, rasio dan intiusi. Ketiga sumber ini menurutnya harus diambil dan digunakan secara serempak, tanpa harus mengesampingkan salah satunya. Inilah yang disebut berpikir Qur’ani. 

Pada awalnya, Iqbal mempertanyakan apakah bisa mengkaji ilmu-ilmu agama dengan metode filsafat karena ruh filsafat ruh penelitian yang bebas yang artinya ada keraguan di dalamnya. Sementara agama berlandaskan pada kekokohan dan keyakinan (Rahmalia: 2009)

Paradigma pemikiran Muhammad Iqbal untuk menyampaikan gagasan rekontruksinya adalah dengan menggunakkan metodologi berpikir yang bersifat sintetis. 

Gagasan rekontruksi pemikiran Islam menjadi agenda pembaruan intelektual Iqbal karena ia melihat intelektualisme Islam pada waktu itu dapat dikatakan nyaris berhenti. Kaum Muslim berhenti mengambil inspirasi dari Al-Qur’an. Iqbal yakin, jika kaum Muslimin mampu menerapkan paradigma Qurani maka revolusi pengetahuan dalam Islam akan terjadi secara mengagumkan. (Suharto, 2011:287)

Iqbal memiliki ciri khas dalam kontruksi pemikirannya, yaitu : pertama, ia menggabungan ilmu tasawuf, filsafat, ilmu sosial, dan sastra dalam pemikirannya sebagai rangka untuk memahami ajaran Islam. 

Kedua, dalam memahami kondisi umat Islam dan perkembangan pemikirannya, iqbal tidak memisahkan filsafat dan teologi dari persoalan sosial budaya yang dihadapi umat Islam. 

Ketiga, pikiran-pikirannya yang paling cemerlang sebagian diungkapkan dalam puisi yang indah dan menggugah, sehingga menempatkan diri sebagai penyair filsuf Asia yang besar pada abad ke -20. 

Keempat, ia berpendapat bahwa penyelamatan spiritual dan pembebasan kaum Muslim secara politik hanya dapat terwujud dengan cara memperbaiki nasib umat Islam dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Pemikiran Muhammad Iqbal memang tidak berkisah tentang hal-hal teknis dalam ekonomi, tetapi lebih kepada konsep-konsep umum yang mendasar. Dalam karya puisi nya dari timur ia menunjukkan tanggapan Islam terhadap kapitalisme barat dan reaksi ekstrem dari komunisme. 

Iqbal menganalisis dengan tajam kelemahan kapitalisme dan komunisme dan menampilkan sesuatu pemikiran “poros tengah” yang dibuka oleh Islam. Semangat kapitalisme yaitu menumpuk capital atau materi sebagai nilai dasar sistem ini bertentangan dengan semangat Islam. 

Demikian pula semangat komunisme yang banyak melakukan paksaan kepada masyarakat juga bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Keadilan sosial merupakan aspek yang mendapat perhatian besar untuk mewujudkan keadilan sosial ini. 

Zakat, yang hukumnya wajib dalam Islam dipandang memiliki posisi yang strategis bagi penciptaan masyarakat yang adil.

Salah satu pemikiran Muhammad Iqbal yang dikaitkan dengan kondisi saat ini. Dimana saat ini dunia sedang dilanda wabah yaitu covid-19. Menghadapi pandemi covid-19 yang telah memporakporandakan seluruh aspek sosial maupun aspek ekonomi masyarakat di dunia ini. 

Kita seolah-olah dipaksa untuk masuk ke situasi yang setara dengan perang dunia. faktanya Covid-19 ini memang sangat mirip kasusnya seperti wabah penyakit yang menyerang kaum muslim di masa lalu. 

Dalam sejarah Islam bisa kita simak tentang wabah penyakit yang terjadi pada kaum muslimin menaklukkan Irak dan Syam. Setelah Peperangan yang sengit di Yarmuk, kemudian kaum muslimin menetap di Negeri Syam. Setelah itu datanglah wabah penyakit korela yang menelan kurang lebih 25.000 jiwa pada saat itu.

Allah SWT berfirman: “Tidak ada suatu musibah yang turun di bumi juga yang menimpa diri-diri kalian kecuali telah dituliskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Hadid[57]: 22)

Selama pandemi seperti sekarang permasalahan ekonomi sangatlah beragam, salah satunya masyarakat miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Pandemi covid-19 berdampak luas, salah satunya terhadap perekonomian masyarakat Indonesia. 

Dampaknya juga mengakibatkan nilai tukar rupiah Indonesia melemah. Iqbal dalam pemikirannya menyebutkan bahwa zakat merupakan hal yang sangat penting dan wajib untuk dilakukan untuk mengurangi tingkat kemiskinan. 

Potensi zakat di Indonesia sangatlah tinggi. Karena Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia, yaitu sekitar 80%. Dengan besarnya potensi zakat di Indonesia menjadikan peluang besar untuk mengurangi kesenjangan yang besar dan untuk menurunkan tingkat kemiskinan yang ada di Indonesia terlebih lagi pada kondisi pandemi seperti ini.