Kafir adalah bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Arab. 

Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) V 0.2. 1 Beta (21), kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah swt dan rasul-Nya. Sedangkan di dalam kamus bahasa Arab, kafir memiliki beberapa derivasi dan beberapa arti. Di dalam kamus Madura-Indonesia Kontemporer, karya Muhri, tidak ditemukan kata kafir.

Antara Makna Statis dan Dinamis

Pembahasan kafir sudah banyak dikaji. Di antaranya Takfir al-Mu’ayyan karya Ali bin Abdul Aziz. Di antara poin tulisan itu adalah menghubungkan kafir dengan siksa di akhirat. ‘Anwa’ al-Kufr, karya Abdbullah bin Abdul Hamid al-Atsari yang mengkategorisasi kafir ke dalam lebih dari 30 kategori.

Bahkan, terdapat tesis untuk meraih gelar magister Tafsir dan Ilmu al-Quran, khusus membahas kafir dengan judul Ayat al-Kufr fi al-Qur’an al-Karim, Dirasah Maudhu’iyah, karya Awaluddin Yahya. Di antara kesimpulan tesis itu, bahwa kufur (perbuatan kafir) terdiri dari banyak kategori, tetapi secara garis besar bisa dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kufur besar dan kufur kecil. 

Kufur besar berarti kufur yang mengeluarkan dari agama Islam, semua pahala amalnya menjadi sia-sia, dan kelak akan masuk neraka, sedangkan kufur kecil itu tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan tidak menghapus pahala amal perbuatannya.

Semua kajian di atas tidak membahas perkembangan kata kafir dari masa ke masa, selama masa turunnya Alquran. Kata kafir stagnan dan hanya memiliki arti terminologi yang statis.

Perkembangan Kata Kafir

Kata kafir berkembang dari satu terminologi ke terminologi lainnya sesuai perkembangan sejarah turunnyaAlquran. Hal itu menjadi konsen kajian Theodor Nöldeke, sebagaimana dikutip Mun’im Sirri di dalam salah satu artikelnya.

Secara tradisional, para sarjana muslim membagi fase turunnya Alquran ke dalam fase Mekah dan fase Madinah. Nöldeke lebih detail membagi dua fase itu menjadi empat fase, yaitu fase Mekah awal, fase Mekah pertengahan, fase Mekah akhir, dan fase Madinah.

Pada fase Mekah awal, kata kafir belum menjadi suatu kelompok tertentu, tetapi terkait dengan sifat negatif, seperti berbohong (kadzaba), zhalim (zhalama), dan melampaui batas (thaga). 

Contoh ayat yang turun pada fase Mekah awal ini adalah surat al-Insyiqaq (84), identitas kafir belum jelas. Kafir disebut sebagai orang yang mendustakan hari akhir (84:22). Surat ath-Thariq (86), kafir disebut sebagai orang yang menuduh Rasulullah saw sedang bercanda.

Pada fase Mekah pertengahan, kafir belum bersifat distingtif, melainkan dikaitkan dengan syirik. Misalnya, surat al-Kafirun (109) adalah terkait orang musyrik, tapi Alquran menggunakan kata kafirun (orang-orang kafir). Pada fase ini, kata kafir menjadi cukup dominan. Hampir setiap surat yang tergolong fase Mekah pertengahan (seperti Qs 41, 36, 19, dst) menggunakan kata kafara.

Pada fase Mekah akhir, orang kafir menjadi sebuah kategori tersendiri vis-à-vis orang beriman (mu’minun). Ayat-ayat dalam fase ini menggambarkan orang kafir sebagai pihak yang kehilangan harapan di dunia dan akhirat. Seperti surat Nuh (71), meskipun menggunakan episode nabi Nuh as, tapi Alquran memosisikan kaum beriman pada spektrum yang bertolak belakang dari orang kafir (Qs 71: 27-28).

Pada fase Madinah, Alquran memperlihatkan pergeseran makna kafir secara cukup signifikan. Barangkali ini sejalan dengan iklim polemik yang dihadapi Rasulullah saw di Madinah. Alquran mulai melayangkan kritik, menyatakan tersesat, dan menyatakan mereka melakukan perbuatan kafir (kafaru), misalnya Qs 4: 136; 5: 17, 73; 9:30.

Bahkan, arab badui yang tidak mengetahui batasan hukum Tuhan pun dikatakan karena kekufuran mereka (Qs 9: 97). Tema dominan dalam ayat fase Madinah adalah polarisasi, seperti digambarkan Qs 2: 6, “Sesungguhnya, orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.” 

Pada tahun-tahun terakhir fase Madinah, Alquran memaknai kafir lebih sempit, karena kelompok yang menolak dakwah Rasulullah saw sudah terindentifikasi, yaitu Yahudi, Kristen, Musyrik, dan Munafik.

Orang Beriman Pun Bisa Disebut Kafir

Dari dua perspektif di atas, baik kafir yang stagnan maupun kafir yang dinamis, seseorang yang sedang beriman pun bisa dikatakan kafir. 

Dari perspektif kafir stagnan, orang beriman yang tidak bersyukur, misalnya, disebut kafir, meskipun disebut kafir kecil. Sedangkan dari perspektif kafir dinamis, orang beriman yang melakukan perbuatan kufur, disebut kafir. Jadi, iman dan kafir bisa menyatu pada diri seseorang, dengan porsinya masing-masing.

Pendapat yang lebih berani lagi, adalah kaum sufi. Di dalam Tafsir ash-Shawi syarah Tafsir Jalalain, terdapat sebuah bait syair yang menyatakan bahwa, bagi seorang sufi, melupakan Allah satu detik saja, itu berarti telah Murtad (keluar dari Islam). 

Tentu saja, sebagaimana ciri khas kaum sufi, tudingan itu bukan untuk menuding orang lain, melainkan menuding dirinya sendiri. Pada puncak spiritualitas, seorang sufi yang satu detik saja melupakan kekasihnya (Allah), dia berkata, “Saya telah Murtad”, dia tidak berkata “Kamu Murtad”.

Non-Muslim Versus Kafir

Yusuf al-Qardhawi, di dalam karyanya Khithabuna al-Islami fi ‘Ashr al-‘Awlamah, berkata, “Hendaknya kita tidak memanggil orang yang berbeda agama dengan sebuatan kafir, meskipun kita meyakini kekafiran mereka, terutama ahli kitab (Yahudi dan Kristen)”. Anjuran ini didasarkan pada dua alasan.

Pertama, kafir memiliki beberapa arti. Di antara arti kafir adalah mengingkari keberadaan Allah, para rasul, dan hari akhirat, sebagaimana paham materialisme yang tidak percaya terhadap segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra, sehingga mereka tidak percaya adanya Tuhan, nabi, dan akhirat.

Ahli kitab mempercayai adanya Tuhan dan akhirat. Hanya saja mereka tidak mempercayai kenabian Rasulullah Muhammad saw. Jadi, dari perspektif arti kafir ini, ahli kitab tidak bisa disebut kafir. Mereka disebut kafir dari perspektif bahwa mereka tidak beriman kepada kenabian Rasulullah Muhammad saw.

Kedua, al-Quran mengajarkan kita untuk tidak memanggil manusia, meskipun mereka kafir, dengan sebutan kafir. Al-Quran memanggil orang yang tidak beriman dengan panggilan, “Wahai manusia”, “Wahai anak cucu Adam”, “Wahai hamba-hamba-Ku”, atau “Wahai ahli kitab”.

Di dalam al-Quran, hanya ada dua ayat yang menggunakan panggilan kafir. Pertama, panggilan di hari kiamat, “Wahai orang-orang yang telah melakukan perbuatan kafir. Jangan mencari-cari alasan sekarang! Sesungguhnya kalian hanya dibalas sesuai perbuatan kalian (Qs at-Tahrim [66]: 7)”.

Kedua, pada surat al-Kafirun (109). Ayat ini ditujukan kepada kaum pagan yang mengajukan penawan kepada Rasulullah saw agar antara mereka dan Rasulullah bergantian menyembah tuhannya, tahun per tahun. 

Jadi, ayat ini ingin mematahkan tawaran itu dengan cara yang tajam dan kuat. Meskipun demikian, di akhir ayat ini masih dibuka pintu toleransi, “Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami”.

Agama-Agama Lain?

Lalu dengan apa kita akan memanggil sahabat kita atau orang lain yang berbeda agama? Penulis bisa menjawab, panggillah dengan agama mereka atau nama mereka. Orang yang menganut agama Budha, panggillah sebagai orang Budha. Bukan non-muslim, juga bukan kafir. 

Orang Kristen, Yahudi, Konghucu, atau Hindu, mereka adalah orang Kristen, orang Yahudi, orang Konghucu, atau orang Hindu. Tidak usah disebut sebagai orang non-muslim atau orang kafir.

Begitu juga orang Budha, memanggil orang yang berbeda agama dengan nama agamanya. Mereka menyebut orang Muslim sebagai orang Muslim, bukan non Budha. Orang Kristen, Yahudi, Konghucu, dan Hindu memanggil orang Muslim sebagai orang Muslim, bukan non Kristen, non Yahudi, non Konghucu, dan non Hindu.

Inferior, Rendah Diri, dan Kekalahan

Di halaman selanjutnya, al-Qardhawi berkata, “Saya tidak mengerti, mengapa panggilan yang halus dan lembut kepada orang yang berbeda agama dianggap sebagai kekalahan kita atau menyerah? Dari sisi mana kita mengalami kekalahan atau menyerah? 

Sesungguhnya, kita tidak inferior bahwa agama kita adalah kebenaran dan bahwa orang yang tidak beriman kepada nabi Muhammad adalah kafir. Meyakini agama sendiri sebagai kebenaran, dan agama lain adalah salah merupakan keyakinan setiap agama”.

“Itu merupakan satu hal. Sedangkan memanggil orang yang berbeda agama dengan sebuatan yang menyakiti, melukai perasaan, atau membuat mereka lari, adalah hal lain. Allah swt tidak memerintahkan kita demikian. Bahkan, secara meyakinkan, Allah swt memerintahkan agar kita menghindari hal tersebut (Qs al-Isra’ [17]: 53; al-An’am [6]: 108; an-Nahl [16]: 125; al-‘Ankabut [29]: 46).

Orang Beragama, Orang Beriman

Dalam perspektif sosial, syarat sebuah agama berarti memiliki tuhan, nabi, kitab suci, ajaran, dan pengikut. Budha, Hindu, Islam, Kristen, Yahudi, dan Konghucu yang memiliki kelima unsur itu berarti disebut agama. Jika orang yang menganut sebuah agama berarti orang yang beriman, maka para penganut agama-agama itu adalah orang-orang yang beriman.