Udara menghembus pelan, menemaniku berjalan melewati indahnya senja. Putaran rotasi menenggelamkan mentari sebagai kenangan.

Detik demi detik berganti menjadi menit, jam, hari, bulan bahkan tahun. Tak terasa aku berada di puncak untuk menggapai mimpi.

Bahagia ketika keluarga kecil yang dihuni sepasang suami isteri dan tiga anaknya, Zhafran, Lulu, dan Fariz.

"Ya Allah, semoga kebahagiaan ini tidak akan segera berakhir" (Ucapku dalam hati) sebelum berbuka puasa.

Malam hari setelah salah tarawih, Bapak memanggilku. "Tidak biasanya Bapak seperti ini" (Ucapku dalam hati)

"Besok setelah lulus madrasah mau kemana, Le?". Le, panggilan orang Jawa untuk anak laki-laki.

"Pengin kuliah, Pak. Sama seperti teman Zhafran" (Menunduk). "Coba deh lihat bintang. Banyak dan indah kan? Bapak ingin kamu memetik satu untuk Bapak" (Tanpa memalingkan muka)

"Maksud Bapak?" (Mengelus punggungnya karena batuk). Di tempat tidur aku bingung sendiri. Apa maksud bapak? Membuat tidur tidak nyenyak.

Ayampun berkokok. Tidak seperti biasanya bapak terlihat pucat dan batuknya semakin parah.

"Kalau Bapak sakit, nggak usah puasa dulu, Pak" (Ucap Lulu). "Iya, Pak. Kasihan Bapak. Biar Fariz ambilin obat dulu" (Khawatir)

"Bapak nggak papa Bu, Fariz, Zhafran, Lulu. Bapak nggak papa" (Tetap tersenyum meskipun menahan rasa sakitnya)

Usai pulang dari masjid, bapak terlihat pucat dan lemas. Zhafran memegang punggung dan memandanginya.

"Nggak papa, Le. Bapak masih bisa jalan" (Ucap bapak membuyarkan perhatianku)

Beberapa langkah, akhirnya pingsan. "Astaghfirullohhal'adzim.. Bapaak!!" (Spontan). Jamaah lain langsung membantu dan dibawa ke rumah sakit.

Tak kuasa menahan khawatir dan sedihnya, ibu memeluk kita. Berusaha untuk menenangkan. "Kita berdoa saja semoga Bapak tidak apa-apa". "Aamiinn".

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dan menjelaskan bahwa bapak mengalami koma.

"Perbanyak doa buat Bapak kalian yaa, semoga cepat sadar" (Mengusap kepala Fariz)

"Boleh masuk kan, Dok?" (Ucap Zhafran) "Boleh silakan. Kalau begitu saya izin pamit, ada hal yang harus saya tangani" (Ucap dokter)

"Terima kasih, Dok" (Ibu yang mewakili karena anaknya langsung masuk). "Bapak, Fariz disini" (Memeluk dan menangis)

Sementara Lulu menangis memeluknya dan Zhafran memegang tangan dan kepalanya sambil berdoa.

Tiga hari berikutnya, bapak sadar. Bahagia yang luar biasa. "Zhafran..." (Ucap bapak serak)

"Iya, Pak. Zhafran disini sama Bapak" (Berkaca-kaca). "Le, masih ingat bintang yang Bapak ingin, kan?" (Suara hampir tidak terdengar)

"Bapak ingin kamu mondok, Le. Kamu itu anak pertama. Jadilah contoh adik-adikmu, jaga mereka" (Mata yang semakin menyipit)

"Iya, Pak. Zhafran janji" (Mencium tangan). "Ibu, titip anak-anak ya. Lulu, Fariz jangan nakal, doakan Bapak selalu"  (Hening kecuali tangisan)

Nafas Bapak tersengal-sengal membuat Lulu memanggil Dokter dengan kerasnya.

"Asyhadu..anlailahaillallah..waasyhadu..annamuhammadar..rasulullah" (Bisik Zhafran dan bapak mengikutinya.

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun" (Ucap dokter). Lulu menjerit dan semua menangis. "Fariz nggak mau Bapak pergi. Fariz nggak maauuuu!!" (Jeritnya)

Beberapa jam kemudian, jenazah Bapak dipulangkan dan dikuburkan. Semua orang kehilangan, tetapi wajah bapak tersenyum seperti biasanya.

"Zhafran janji akan mondok seperti yang Bapak inginkan. Tenang disana ya, Pak" (Mengusap air mata)

Idul Fitri yang sepi. Tidak ada bapak yang menemani hari-harinya. Hambar. "Kuatkan hati kita Ya Allah" (Ucap Zhafran)

Ridha Allah berada pada ridha orang tua. Ditolak snmptn, sbmptn, dan jalur lainnya. Zhafran ingat wasiat Bapak, mondok.

Waktu semakin mendekat dan Zhafran akan pergi untuk mondok. "Kakak, jangan lupain kita ya, walaupun kita sering nakal" (Ucap Fariz)

"Nggak akan Kakak lupain kalian" (Peluk Zhafran). Setelah mencium tangan satu per satu, mereka berpelukan. 

"Berat rasanya meninggalkan mereka" (Ucapnya dalam hati). "Jaga salat dan sikap, Le. Ibu pamit dulu ya, jangan nangis" (Ucap Ibu)

Keluar dari zona nyaman bukanlah hal mudah. Seperti kebanyakan santri pada umumnya, Zhafran sama. Di tengah malam, nangis di pojok kamar.

"Aku nggak boleh kayak gini terus. Aku harus bangkit. Aku harus buktikan sama Bapak bahwa aku bisa" (Penuh yakin)

Hari-hari telah berlalu, tak terasa sudah empat tahun Zhafran mondok. Di akhirussanah, Zhafran mendapat penghargaan lulusan terbaik.

"Selamat ya, Le. Bapak pasti bangga melihatmu". (Ucap Ibu berkaca-kaca). Abah menghampiri dan mengucapkan selamat dan berkata,

"Le, udah punya calon? Kalo belum mau tak jodohin sama putri Abah? Kamu siap kan, Le?"(Ucap Abah spontan membuat Zhafran kaget)

"Ehmmm.... Insyaallah, Bah" (Padahal melihatnya pun tak pernah). "Kalo kamu sudah siap, besok kita datang ke rumahnya. Bismillah, Le" (Meyakinkan)

Keesokan harinya, Zhafran datang...

"Maksud kedatangan kami untuk melamar putri Abah" (Menunduk). "Farah sini, Nduk" (Malu-malu mengangkat wajah)

"Subhanallah... Cantiknya"  (Ucap Zhafran). Dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia. Mereka juga dikaruniani empat anak.