Barangkali hanya sekumpulan mahasiswa yang gatal membungkusmu dengan elok

Juga dalam pigura dan kesan sangat anggun kau jadi bahan setor muka

Aku ingin, mereka kepincut, sebagian mungkin sudah berselfi ria


Lalu bulan pecah dari tanggal ke tanggal

Di hari yang belum jauh sepelemparan batu aku pun datang


Dus,

Betapa taiknya tubuhmu yang merana

Panas membakar tanpa teduhan

Sebuah papan nama terjungkal, terjengkang patah tulang


Aku pelototi satu persatu rangkai kayu yang sebentar lagi bakal uzur itu

Ada yang lama, yang baru justru mampus

Benakku, kau dijual, kau dijual


Untungnya, aku datang membawa segumpal dendam

Ingin melenyapkan kata bujang pada seorang kawan

Cara paling tak masuk kantong celana yang nakal ritsletingnya


Untung sekali lagi

Aku ingin berbaik hati atas nama lingkungan dan warisan adik-adik yang bengal

Meski yang terjadi, aku semakin muak dengan yang sekadar, yang mengejar laporan


Tapi kita sama

Aku dan kalian yang kusumpahi adalah perangkai dan perencana

Dengan Pantai Cora atau lainnya


Hus,

Demi apa, demi apa


Matahari 46, 14 September 2017