Sejarah perkembangan Korea Selatan dalam memajukan peradaban dan kualitas negara bisa dikatakan sangat menakjubkan. Berselang 2 hari sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tanggal 15 Agustus 1945, terbentuk sebuah negara bernama Republik Korea. 

Republik Korea atau Korea Selatan terbebas dari penjajahan Jepang yang menyerah tanpa syarat kepada sekutu akibat peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki. Sejak awal pembebasan cengkeraman Jepang, kondisi Korea Selatan bahkan lebih buruk dibandingkan Indonesia.

Meskipun deklarasi kemerdekaan yang dikumandangkan pada tahun 1945, akan tetapi sistem pemerintahan mulai dijalankan pada 13 Agustus 1948. Berjalannya pemerintahan tidak semulus dalam memulai kehidupan untuk yang lebih baik, sebab terjadi perang saudara antara Korea Selatan dan Korea Utara tahun 1950-1953. 

Pesatnya perkembangan dan pengaruh budaya modern Korea Selatan telah banyak menyebar ke seluruh penjuru dunia. Terlebih lagi besarnya pengaruh K-Pop sebagai bentuk hiburan yang banyak menggandrungi kawula muda. 

Baca Juga: Virus K-Pop

Maraknya pengaruh tersebut menjadi sebuah trend dalam perkembangan musik, pergaulan, dan pembicaraan bagi sebagian kalangan muda.

Menelusuri kembali alur perkembangan musik Korea sejak abad ke-19, bermula dipengaruhi dari musik tradisional Amerika oleh Henry Gerhard Appenzeller, seorang misionaris bertugas di Korea tahun 1885. 

Henry memodifikasi lagu-lagu Barat dengan mengubah lirik lagu ke dalam bahasa Korea, kemudian orang-orang mulai membuat lagu yang diadaptasi dari musik Barat tersebut. 

Pada tahun 1910, mulai penjajahan Jepang terhadap Korea juga memberi warna bagi nuansa musik sehingga memunculkan genre Trot, kependekan dari Foxtrot yang dipengaruhi gaya musik Enka dari Jepang. 

Genre Trot yang memiliki tempo yang cepat pitch nada yang tinggi dan menjadi khas bagi musik Korea. Banyak karya musik yang diciptakan sebagai suara rakyat untuk mengembalikan kedaulatan Korea.

Munculnya gelora K-Pop bermula dari usaha dari tokoh bernama Lee Soo Man, founder dari SM Entertainment, merupakan perusahaan hiburan yang mencakup semua aspek dari artis atau idola. Upaya yang dilakukan dengan mencari talenta berbakat, pelatihan, kontrak kerja hingga debut karier sebagai artis. 

SM Entertainment sebagai pelopor pertama hiburan yang telah melahirkan artis dan idol grup besar ternama, yaitu SNSD, Super Junior, SHINee, EXO dan lain-lain.

Konsep musik K-Pop memiliki karakteritik musik campuran audiovisual dari pop, rock, hip-hop dan electro. Selain itu, konsep K-Pop juga memadukan dance atau tarian dengan musik yang biasa ditampilkan oleh Idol Group

Tampilan visual outfit atau busana yang dipakai membuat para penggemar tidak pernah bosan menikmati penampilan idola kesayangan. Konsep K-Pop juga telah menjadi panduan dalam bergaya bagi kawula muda mulai dari tampilan fisik hingga pakaian yang dipakai.

Berkembanganya musik K-Pop memunculkan stigma negatif bagi sebagian kalangan. Mulai dari tudingan artis plastik yang dimaknai bahwa artis yang ditampilkan merupakan hasil proses operasi plastik, mungkin bagi masyarakat di Korea tidak mempermasalahkan karena memiliki standar kecantikan seseorang yang harus dipenuhi. 

Kasus lain yang timbul terkait banyak artis yang melakukan bunuh diri akibat dari tuntutan kerja keartisan yang membuat stres. Tentu sangat ironi melihat artis yang ditampilkan bak sebuah boneka di atas panggung.

Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan industri musik yang sangat pesat, pencarian bakat dari agensi sangat selektif untuk bisa memperoleh calon artis yang berbakat, mulai dari menyanyi, menari bahkan soal fisik pun menjadi faktor kelulusan. 

Ya, upaya yang dilakukan tersebut tampaknya untuk menghindari stigma negatif juga menghilangkan kasus bunuh diri bagi para artis akibat stres. Di sisi lain, tentu aset artis yang dimiliki menjadi modal dan keuntungan agar bisa memperoleh popularitas di kancah lokal maupun mancanegara.

Perencanaan para agensi tersebut turut membuahkan hasil, terlihat banyaknya jadwal tur di lokal maupun mancanegara bagi artis mereka. Hal ini membuktikan bahwa para penggemar semakin menghargai karya-karya yang dihasilkan. 

Selain penjualan album, keuntungan yang diperoleh juga dari penjualan marchendise sehingga membuat industri musik Korea memiliki kekuatan tersendiri dan diterima oleh penggemar rakyat Korea dan di seluruh dunia.

Baru-baru ini tersiar berita besar dalam ajang penganugerahan musik Grammy Awards ke-61. Acara bergengsi di Los Angeles, Amerika Serikat menjadi perbincangan hangat disebabkan adanya kehadiran K-Pop dari Boy Group dan Girl Group yang fenomenal, yaitu BTS dan BlackPink. 

Bagaimana tidak, grup yang telah memecahkan rekor jumlah terbanyak viewer di situs YouTube tersebut merupakan momen pertama kali bagi K-Pop meramaikan Grammy Awards 2019.

Sebuah kebanggan terutama bagi rakyat Korea Selatan bahwa industri musik mereka telah diakui dunia. Selain itu, tentu menjadi sebuah kesempatan bagi para musisi lokal untuk bersaing dengan industri musik Amerika yang selama ini menjelma dan menjadi panutan musik bagi seluruh dunia. 

Industri Musik Korea yang memiliki kekuatan sendiri mampu menciptakan gejala-gejala bagi negara lain seperti munculnya Korean Wave (Demam Korea). Ini sangat menarik, karena akan banyak keuntungan sendiri bagi Korea Selatan. 

Memperkenalkan budaya Korea, menarik wisatawan berkunjung, dan yang paling penting adalah meningkatkan devisa negara melalui industri musik. Peradaban yang sempurna bagi Korea Selatan.