Jakarta - Sebelum mengenal lebih jauh "tentang kinerja karyawan", coba kita menilai individu masing-masing dari setiap apa yang dikerjakan baik yang menjadi "operator, frontliner atau karyawan", supervisor, manager dan sampai dengan directur perusahaan. Hal ini bisa "digunakan juga dalam perusahaan atau organisasi" yang ruang lingkupnya tidak terlalu besar, artinya jumlah karyawanya tidak terlalu banyak.

Sebetulnya "penilaian kinerja karyawan" tidak hanya dilihat apa yang dikerjakan karyawan tersebut. Namun ada sisi lain yang tidak disadari oleh karyawan seperti "komunikasi, kehadiran di tempat kerja, sikap dan perilaku karyawan", dan lain sebagainya. Walaupun perusahaan sudah "menentukan target kerja dari masing-masing karyawan", yang menjadi tolok ukur adalah bagaimana keseharian kita bekerja mulai datang ditempat kerja sampai dengan meninggalkan dari tempat kerja.

Kinerja karyawan yang baik jangan hanya "rekayasa atau mencari muka saja" artinya bekerja jangan hanya karena dilihat pimpinan saja atau ada unsur kedekatan dengan pimpinan perusahaan, baik itu sebagai "kerabat dekat atau masih ada hubungan keluarga". Hal seperti ini bisa saja terjadi di organisasi perusahaan  manapun, tidak bisa dihindari karena "pada dasarnya dimanapun perusahaannya dan apapun perusahaannya" seorang pimpinan mencoba mencari orang yang dipercaya dan bisa "membantu dalam pekerjaan terutama dalam mencapai visi dan misi perusahaan".

Selain itu juga, kinerja karyawan ada "hubungannya juga dengan individu, team dan perusahaan tempat kerja". Namun yang lebih dominan atau diutamakan biasanya penilaian kinerja karyawan lebih kepada secara individu, walaupun "secara kelompok atau perusahaan menjadi penilaian juga". Maka dari itu, kualitas SDM "karyawan ditempat kerja bagian modal perusahaan" yang harus dipelihara secara konsisten, kemudian diberikan pelatihan dan pengembangan untuk menambah ilmu dan pengetahuan karyawan tersebut.

Harapan perusahaan jangka panjang, bila "karyawan tetap mempertahankan kinerjanya" dalam waktu tertentu dan dilaksanakan secara berkala. Akan dipertimbangkan dan diberikan "kesempatan untuk dipromosi jabatan", sebagai penghargaan dan motivasi rekan kerja yang lain. Bahwa perusahaan bisa menciptakan sebagai "generasi penerus dan mencari pimpinan baru dari internal karyawan" diperusahaan tempat kerja.

Selanjutnya akan saya uraikan cara mengukur kinerja karyawan yang efektif, berikut uraiannya :

#1. Disiplin Kerja Karyawan :

Disiplin kerja bagian hal yang utama untuk menjalankan berbagai macam aktivitas pekerjaan di tempat kerja, sehingga setiap karyawan wajib memilikinya. Karakter karyawan terkait disiplin kerja "banyak beranggapan bahwa disiplin kerja memaksa dan mengikat" secara psikologis dan peraturan perusahaan agar karyawan bekerja tetap sesuai prosedur. Sebetulnya dengan disiplin kerja, memastikan karyawan bersikap professional dalam bekerja terutama dalam "menyelesaikan pekerjaan, kecepatan tugas dari atasan, dan konsisten dalam mengatur waktu" dan lain sebagainya.

#2. Kehadiran dan Absensi Karyawan :

Dengan menghadirkan diri Anda secara untuh di tempat kerja, merupakan hal yang terbaik untuk "menjadi aset perusahaan yang menghargai waktu dan tetap konsisten" karena faktor yang mempengaruhinya adalah sering banyak alasan seperti "keterlambatan datang tempat kerja, tidak masuk kerja tanpa alasan, pulang kerja lebih awal", dan lain sebagainya. Sehingga secara individu masing-masing karyawan harus bisa membedakan antara "peraturan perusahaan dengan kepentingan pribadi", sebab hal ini akan berdampak terhadap absensi dan kehadiran karyawan ditempat kerja.

#3. Tanggung Jawab Karyawan :

Sebagai "tolok ukur terhadap wewenang dan tugas karyawan" yang diberikan oleh perusahaan baik secara individu maupun secara team atau kelompok. Tidak memberikan beban kerja kepada orang lain, menghadapi tugas baru dari pimpinan, serta bisa "mengevaluasi pekerjaan secara individu" dan dilengkapi dengan pelaporan hasil pekerjaan kepada pimpinan perusahaan. Tanggung jawab dalam pekerjaan ada "hubungan juga dengan kedewasaan bekerja" untuk bertindak mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah pekerjaan yang dihadapi.

#4. Kecakapan Kerja Karyawan :

Kecakapan kerja karyawan merupakan gabungan dari "pengalaman kerja, pengetahuan dan keretampilan kerja". Tentunya didukung dengan sikap,mental dan perilaku yang positif, sehingga dalam menjalankan tugas tetap mengutamakan prosedur perusahaan. Walaupun terkadang tidak seluruhnya "karyawan memiliki kompetensi yang sama" untuk mendukung kualitas kerja. Hal ini perlu dianalisa oleh pimpinan perusahaan untuk membuat "keterampilan dan kemampuan karyawan" sama dari setiap individu karyawan lainnya.

#5. Responsif Kerja Karyawan :

Responsif bagian untuk "melihat kepedulian karyawan" dalam memberikan respon kepada team dalam hubungan pekerjaan seperti dalam berkomunikasi terutama "menjawab balasan e-mail, informasi whatsapp group, menerima telpon dalam keadaan libur kerja, mengingatkan rekan kerja yang melanggar prosedur kerja", dan lain sebagainya. Dari respon tersebut mampu "membangun kerja sama" untuk lebih semangat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai karyawan.

Dalam kegiatan penilaian kinerja karyawan biasanya perusahaan sudah menetapkan KPI (Key Performance Indicator) berdasarkan target atau jobdesk kerja masing-masing, yang mana penilaianya lebih mudah untuk menggunakan teknologi digital. Zaman sudah modern, setiap perusahaan harus melakukan "perubahan inovasi dan konsep" dalam memberikan penilaian kinerja karyawan. Sebab, kelemahan dan kelebihan karyawan menjadi tanggung jawab perusahaan yang harus diberikan "reward dan punishment" secara terus menerus.

Kelemahan karyawan perlu diberikan "coaching, counseling dan training" sehingga kinerja menjadi lebih baik sedangkan kelebihan karyawan perlu diberikan "insentif atau promosi jabatan" sebagai motivasi kerja karyawan agar terus konsisten dalam menjalankan tugas pekerjaan karyawan tersebut. Pengawasan dari manajemen perusahaan menjadi bahan evaluasi untuk "meningkatkan kinerja karyawan" yang lebih baik dan professional.