Hadirnya media dalam kehidupan masyarakat dianalogikan seperti anjing penjaga yang menjaga rumah tuannya. Artinya, media menjalankan fungsi kontrol atau pengawasan dalam kehidupan bermasyarakat maupun menjalankan fungsi kontrol rakyat terhadap pemerintah.

Terlebih, adanya kebebasan pers mendorong media untuk menghirup berbagai aroma yang terjadi di masyarakat dan menjadi juri yang mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat maupun pemerintahan terkini.

Istilah ‘media’ adalah cakupan dari sarana komunikasi yang menggunakan sebuah saluran seperti pers, media penyiaran (broadcasting), dan film (cinema). Contohnya adalah media cetak, media elektronik, dan media sosial.

Media sama halnya seperti panggung yang menampilkan semua kritikan dan menampilkan permasalahan yang sedang terjadi. Terutama media sosial sebagai panggung terbesar yang meraih banyak perhatian penonton.

Tak lupa, yang paling berperan dalam kesuksesan penampilan di panggung adalah para jurnalis yang menjadi sutradara. Mereka yang mengatur penampilan apa yang dapat menyedot perhatian penonton atau masyarakat.

Semua dapat menjadi sutradara di panggung itu. Semua dapat menjadi penulis tanpa harus punya penerbit dan Anda adalah jurnalis tanpa harus bekerja di perusahaan media. Media tersentuh oleh siapa saja, tanpa batasan umur, tanpa ikatan kasta.

Media yang mudah dijangkau memiliki daya tarik kuat untuk mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat. Kekuatan media dapat dimanfaatkan sebagai penyebar virus intoleransi yang berlebihan demi kepentingan tertentu dengan ujaran kebencian melalui konten-konten yang tersebar di media.

Ujaran kebencian (hate speech) merupakan tindakan komunikasi yang dilakukan dalam bentuk provokasi, hasutan, atau pun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam isu SARA (Suku, Ras, Agama, dan Antar Golongan).

Ujaran kebencian dibuat dengan kampanye-kampanye yang disusupi konten menarik, yang mampu menggugah masyarakat dan disebarkan. Melalui media, ujaran kebencian dapat melahirkan ideologi-ideologi baru yang dapat membelokkan tatanan hidup baik yang sudah dimiliki masyarakat.

Ujaran kebencian memancing perdebatan dan mengangkat isu SARA semakin melonjak akhir-akhir ini. Bahkan ‘jurnalis’ masa kini dapat dibayar untuk membuat konten yang disusupi dengan hate speech melalui media melalui meme, status, komentar, artikel, video, dan lain-lain.

Seperti dalam kasus Saracen, sebuah grup yang berisi orang-orang yang dibayar untuk membuat konten di media tertentu untuk memancing amarah masyarakat, menghasut atau memprovokasi sehingga satu sama lain saling ‘menginjak’.

Saracen memanfaatkan momentum masyarakat yang memiliki pendapat yang berseberangan untuk diadu domba layaknya politik zaman Belanda. Saracen bekerja sebagai buzzer penyebar isu SARA untuk menjatuhkan kelompok tertentu, karena permasalahan perbedaan pendapat maupun suku, ras, agama, dan sejenisnya adalah ‘korek api’ konflik di Indonesia.

Saracen menanamkan umpan ujaran kebencian agar memunculkan bibit-bibit intoleransi yang berlebihan atau ekstremisme. Dengan ujaran kebencian, ekstremisme dipupuk agar menjadi cepat berkembang.

Konten ujaran kebencian di media melahirkan sejumlah efek. Salah satunya adalah efek behavioral. Efek behavioral merupakan efek dari media yang dapat menggerakkan pengguna media dalam bentuk perilaku, tindakan, maupun kegiatan.

Dengan kasus ini maupun yang sejenisnya, kita dapat melihat efek behavioral yang bekerja. Ujaran kebencian dapat memunculkan perasaan pada diri seseorang bahwa dirinya didukung melakukan perbuatan-perbuatan ekstremisme kepada kelompok lain dan dapat menginspirasi mereka untuk bertindak jauh dari koridor yang seharusnya.

Efek behavioral dari media bukanlah suatu ‘fata morgana’. Media yang banyak dibumbui konten ujaran kebencian telah menanamkan terorisme.

Selain Saracen, inilah contoh nyata dari efek behavioral. Terorisme lebih banyak berawal dari media, dari apa yang disaksikan melalui media, terutama internet yang mempengaruhi calon-calon pasukan teroris. Kemudian, apa yang mereka saksikan berefek pada menggerakkan diri mereka untuk melakukan tindakan terorisme.

Dalam kasus ujaran kebencian, kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan sekelompok orang yang bertindak seperti kelompok Saracen sebagai satu-satunya penyebab semua perkara. Tanpa dibayar pun, 'jurnalis' seperti kita bertindak seolah-olah menjadi proklamator berbagai ujaran kebencian baru di media.

‘Jurnalis’ seperti kita, terkadang sembarang share, komentar, membuat konten tanpa memperhatikan dampak. Ada yang tahu yang dilakukannya merupakan ujaran kebencian, tapi ada pula yang tidak, beberapa dari kita sadar atau tidak sadar justru membuat konten yang bernada ujaran kebencian melalui media yang sehari-hari kita gunakan, terutama media sosial.

'Jurnalis’ seperti kita belum well educated dalam menggunakan media. Kita saat ini lebih menaruh perhatian pada hal-hal yang sifatnya negatif, sehingga ujaran kebencian menjadi terlihat lebih menarik perhatian dan hal-hal yang baik menjadi kurang tersorot.

Membuat konten dengan ujaran kebencian merupakan teroris negara yang dibuat oleh jurnalis jadi-jadian. Ini tidak jauh berbeda dengan 'memekarkan' teroris baru yang membawa bom bunuh diri, karena apa yang dibuat keduanya sama-sama merupakan kekacauan yang melemahkan negara sendiri.

Dengan ujaran kebencian, sama saja telah menanamkan bom ancaman yang memecah belah bangsa, merintis kasus-kasus ekstremisme baru, menambah bumbu-bumbu permusuhan di masyarakat.

Cara menyikapi perbedaan dengan ujaran kebencian merupakan cara yang tidak gentleman dan kekanak-kanakan. Mengungkapkan konten dengan ujaran kebencian, bagi saya, sama seperti mendukung keberadaan teroris di negeri sendiri, berperang dengan negeri sendiri, atau ibarat kata seperti menggigit ekor sendiri.

Kemudian, ujaran kebencian dapat menghambat berlangsungnya pemerintahan karena membuat pemerintah sulit mengambil kebijakan dan mengatur keadilan karena ujaran kebencian yang memprovokasi masyarakat berbuat ekstrem dan menimbulkan rasa tidak aman, serta mengurangi nilai keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

Munculnya akibat dari ujaran kebencian disebabkan oleh kurangnya edukasi kepada masyarakat hal apa saja yang merupakan ujaran kebencian, cara menggunakan media dengan bijak, dan pendidikan karakter. Kemudian dapat disebabkan masyarakat yang mudah terpengaruh untuk ikut membuat ujaran kebencian pula.

Permasalahan munculnya ujaran kebencian sebenarnya bukan terletak pada intoleransi. Bagi saya, intoleransi sebenarnya harus dipahami sebagai hak bagi setiap orang, ingin menerima atau tidak hal yang tidak sama dengan dirinya.

Intoleransi memang dimiliki oleh setiap pribadi, tetapi intoleransi yang sudah ada dalam setiap pribadi ini jangan sampai didorong-dorong untuk dipraktikan dan mendarah daging dalam kehidupan dirinya dengan masyarakat, terlebih intoleransi itu dilakukan secara berlebihan dan menyakiti orang lain yang berseberangan pendapat.

Dalam kasus yang berhubungan dengan media, biasanya yang lebih sering diamanatkanadalah kita harus menjadi penerima informasi yang bijak dan menyaring konten mana yang baik untuk diri kita karena tidak semua netizen sudah well educated dalam menggunakan media.

Tetapi kita tidak dapat serta merta menyalahkan masyarakat sebagai penerima informasi dari media. Kita sebagai 'jurnalis' juga memiliki tanggung jawab dalam konten-konten yang kita sebar luaskan kepada khalayak. Mulai dari jurnalis professional hingga jurnalis amatir seperti kita memiliki tanggung jawab yang dipukul rata dalam hal semakin maraknya ujaran kebencian di media. 

Arus informasi yang bergentayangan di media tidak mungkin disaring satu persatu oleh pemerintah juga menjadi tanggung jawab kita sebagai penerima informasi dan pembuat informasi, karena sikap kita dalam memberi dan menerima informasi menentukan bagaimana harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat nantinya.

Ibarat makan buah simalakama, perbedaan yang kita miliki itu kekayaan bangsa, tetapi juga dapat memecah belah kita. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan di negeri ini harus disikapi secara bijak atau secara elite.

Semua ujaran kebencian di media merupakan tanggung jawab kita semua. Maka, mulai hari ini, jadilah jurnalis yang bijak. Jangan menjadi pasukan teroris di negeri sendiri. Jangan mau negara yang susah-susah dibangun ini dihempaskan oleh isu SARA.

Singkat kata, sebenarnya kita sedang berperang melawan Saracen lainnya yang ingin memecah belah persatuan. Marilah kita beranikan diri menjadi pasukan terdepan sebagai jurnalis sesungguhnya. Hidup Indonesiaku!


Referensi :

https://www.suduthukum.com/2016/11/tinjauan-tentang-ujaran-kebencian-hate.html