Mendengar kata-kata jomblo mungkin sebagian kita sudah mulai tertawa. Apalagi disaat sedang berpunya (memiliki pacar) pasti yang terbayangkan ngenes-nya hidup teman yang jomblo. Bagimana tidak, udah makan nggak ada yang ngingatin, apalagi tidur boro-boro yang say good bye. Palingan timeline orang yang bilang gitu kepada si jomblo.

Tapi gitu-gitu jomblo juga manusia. Memiliki hak yang setara dengan yang nggak jomblo. Apalagi hak untuk dapatkan pacar kamu selagi belum kamu halal-in. Jangan anggap remeh tuh mereka komplotan jomblo bisa-bisa akhir cerita kamu yang jomblo.

mengenai nama jomblo dan definisnya saya sedikit curiga, apakah mencari definisinya kayak film Da Vinci yah?. Saking penasarannya saya, maka saya mulai lah riset kecil-kecilan saya. Dan usut di usut ternyata jomblo tidak memiliki makna sama sekali, coba lihat di KBBI pasti nggak ada pengertiannya. Sama juga sih sama orangnya nggak ada yang mengertiin sama sekali. 

Dengan tidak adanya pengertian jomblo secara akademis, maka otak konspirasi saya mulai bekerja. Saya bikin sebuah kepanjangan dari jomblo (Janda dan Om-om Belum Lagi On) tapi masih banyak yang memperdebatkan. Kan yang jomblo gak hanya janda (pernah nikah atau kawin), yang terlahir jomblo hingga bau tanah juga kan ada. Jadi saya buanglah teori ini karena tidak tahan uji.

Berlanjut dengan teori lainnya, saya mencari pengertian jomblo secara epitimologis seperti yang di atas bahwa pengertiannya tidak ada. Saya mulai curiga apakah dengan tidak adanya pengertian sudah dikatakan bahwa itulah pengertian dari jomblo sebenarnya. Inilah yang menarik dimana pengertian yang melihatkan ciri-ciri dari jomblo itu sendiri.

Pertama yang pasti jomblo tidak pernah dimengerti karena tidak ada pengertian. Coba deh kalau ada pengertiannya pasti orang-orang akan paham bagaimana memperlakukan dan menyanginya. Prinsip di Indonesia kan make “tidak kenal maka tidak sayang”. Bagaimana jomblo disayang kenal aja nggak orang-orang Indonesia dengan pengertiannya.

Kedua, terusir kayak filmnya Hayati dan Zainudin itu. Di mana Zainudin terusir dari kenyamananya karena berbeda status sosial. Mungkin masih abstrak juga yah, gak seperti yang pertama. Lebih jelasnya coba deh si jomblo pergi ke taman kota, kok apalah namanya di kota kamu, bukankah si jomblo menjadi minder sendiri main kesana.

Ilustrasinya kayak gini : di kursi taman si jomblo duduk sendiri sambil makan ice cream dan disampingnya ada dua orang yang berpacaran yang lagi mesra-mesraan. Kebayang enggak? Coba deh kamu di posisi jomblo apa yang kamu rasakan? O iya syukur-syukur yang berpacaran itu berlawan jenis kelamin, kalau sejenis?. Kalau saya langsung bilang “Sabar ini cobaan”, dan yang pacaran pasti bilang “makan bang?”.

Ketiga pengakuan. Kenapa dengan pengakuan? sekedar informasi jomblo tidak pernah ada dalam KBBI dan secara langsung tidak ada pengakuan. jangankan resmi secara definisi saja tidak di akui. Dalam keseharian banyak juga sih politisi memamfaatkan jomblo menjadi jualan politiknya agar lebih dikenal kalangan muda. 

Seperti pemberian nama taman yang secara prinsip untuk jomblo, tapi pemamfaatannya selalu buat orang pacaran. Walaupun dengan satu bangku itu tidak menutup kemungkinan untuk bermesraan di bangku yang berkapasitas satu orang tersebut. Mana akan sanggup jomblo akan bermain  dengan senang hati di taman-taman kota, lebih baik jomblo ngurung diri dirumah.

Tapi walaupun begitu si jomblo tetap mulia oleh pencipta. Selain terhindar dari dosa yang bersifat duniawi, jomblo juga seorang panutan dalam gerakan sosial karena tidak ikut dalam kecanduan yang diciptakan oleh manusia. Marx memang dikenal dengan “agama adalah candu rakyat” yang meletakkan dunia khayalan sebagai tujuan utama dari pada dunia nyata. Sedangkan kalau dikaitkan dengan dengan jomblo juga erat dengan yang dikatakan oleh Marx.

“Pacaran adalah candu rakyat” mungkin kebanyakan tidak setuju dengan ini, banyak yang bilang saya terlalu menyudutkan orang pacaran, atau apalah. Tapi inilah kenyataan, dimana kita terlalu cinta dengan dunia khayalan kita untuk menikah, beranak, hingga sekuburan. Sedangkan dunia nyata terkadang menjadi terlupakan dan manusia larut dalam kesedihan dan kebahagian dunia khayalan ini. 

Walaupun anggapan bahwa cinta atau pacaran itu di dunia nyata, tapi bukankah semua itu berada dalam tataran khayalan manusia. Sama saja kita ditidurkan oleh rayuan-rayuan kapitalis yang membuat realitas ekonomi seluruhnya berpihak kepada mereka. Jadi perjuangan klas hanya akan maksimal dilakukan oleh para jomblo.

Nah begitulah kehidupan para jomblo, cukup menyedihkan bukan?. Tapi di Indonesia mereka seharusnya dilindungi karena diatur oleh Undang-Undang Dasar 1945, tapi prakteknya masih jauh panggang dari api. Selain itu seharusnya isu sensitif itu bukan hanya SARA tapi harus ditambah dengan J menjadi SARAJ (Suku, Agama, Ras, Antar golongan dan Jomblo).

Sedangkan Jomblo Indonesia sudah menjadi kelompok minoritas seperti yang lainnya. Perlunya pelindungan minoritas karena minoritas selalu terdiskriminasi oleh mayoritas. Seperti contoh sederhannya kalau mayoritas bicara mengenai minoritas maka minoritas harus diam, tapi sebaliknya jika minoritas yang bicara maka bersiaplah untuk semakin dihancurkan oleh mayoritas. 

Itulah keadaan toleransi yang dirajut di Bhineka Tunggal Ika Indonesia. Dan berhentilah untuk menyudutkan jomblo dan berhentilah berpacaran karena akan ada HIV, Kekerasan, prilaku menyimpang, bunuh diri dan yang pasti patah hati dibalik pacaran. sebaiknya jika ingin memiliki langsung saja halalkan dia.