Akhir-akhir ini netizen dikejutkan sekaligus terhibur oleh jawaban polos anak Sekolah Dasar, ketika ditantang Presiden Jokowi untuk menyebutkan 10 nama-nama ikan.  Alhasil setelah empat nama ikan itu tersebut, tiba-tiba si anak mengalami slip tongue dalam menyebut nama ikan tongkol.

Mungkin hanya anak SD itu yang berani menyebut nama kelamin di hadapan Presiden secara langsung. Selebihnya caci maki  terhadap presiden biasa ada di demo dan unjuk rasa.

Setelah anak SD, muncul kembali video yang menampilkan Seorang Nelayan ditanya mengenai 10 nama ikan oleh Jokowi.

Tak kalah polos dari anak SD, sang nelayan tersebut menyebut ikan yang menjadi icon salah satu TV yang mendukung Jokowi pada Pemilihan Presiden pada 2014 lalu. Tak ada kemarahan yang tergambar dari raut Presiden Jokowi karena ucapan kedua peserta kuis kepresidenan tersebut.

Selain menghadirkan gelak tawa, sebetulnya presiden Jokowi seperti nampak ingin mengingatkan kepada suatu hal. Terlepas dari tingkat kreatifitas Presiden dan orang yang berada dibelakngnya. Presiden Jokowi seolah mengingatkan tentang muasal identitas Nenek-Moyang bangsa ini  yakni, seorang pelaut.

Secara tidak langsung pertanyaan Jokowi mengarah kepada pertanyaan mengenai  eksistensi bahari kita. Setidaknya sejarah mencatat, kerajaan Sriwijaya merebut Nusantara dan memperluas wilayah kerajaan melalui operasi-operasi maritim. Begitu juga kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan lainnya.

Bahkan, agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia saat ini juga datang dari Laut. Melalui ekspedisi perdagangan dan penyebaran agama tauhid, mereka rela menerjang ganasnya ombak samudera.

Lautan tidak saja menyumbangkan sumbangsih sekadar pemandangan dan hasil tangkapan nalayan saja.

Ternyata apa yang kita rasakan saat ini bermula dari riak ombak dan kencangnya angin samudera. Jika saya boleh menginterpretasikan Cerpen berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma. Melalui karangan surealisnya Seno bercerita mengenai tokoh lelaki bernama Sukab dan seorang pacarnya Alina yang ia kirimi senja.

Mungkin bagi saya Sukab tidak hanya memberikan debur ombak, senja, dan siluet batu karang dalam amplop. Tetapi juga Sukab memberikan potongan peradaban bagi pacarnya, Alina.

Kisah manusia dan pesisir juga tertulis melalui karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Pada buku berjudul Gadis Pantai, Bung Pram menggambarkan bagaimana kota merebut kedigdayaan pesisir. Seolah semua berasal dari meja kantor pekerja dan pijar jalan raya. Pendeknya mungkin Bung Pram ingin mengingatkan bahwa  wanita yang kita sebut gadis kota itu berasal dari pesisir jua.

Hari ini kita melihat bagaimana pemerintah berjibaku untuk mencukupi kebutuhan kota dengan mengeruk desa dan pesisir. Pembangunan pabrik semen di Rembang, pengalih gunaan lahan dari hutan menjadi sawah (MIFE) di Papua, dan masih banyak lagi. 

Ini yang disebut oleh bung Pramudya sebagai Java Centris, di mana Indonesia seolah hanya Jawa serta harus mencukupi kebutuhannya.

Bahkan hasrat menguasai  kota harus mengusik ketentraman masyarakat desa dan pesisir. Tetapi saya juga tidak mendukung adanya reklamasi di Teluk Benoa, Bali dan Teluk Jakarta. Keduanya hanya menjadi pundi-pundi bagi para pengusaha dan penguasa lalim, nukan menyuguhkan peradaban yang beradab. 

Masyarakat Indonesia patut berterimakasih kepada Presiden Jokowi. Karena pertanyaan Presiden mampu menjauhkan sebagian masyarakat dari jerat hiruk-pikuk kota (termasuk Pilkada), melalui pertanyaan 10 nama-nama ikan.

Juga masyarakat Indonesia yang harus balik menanyakan kepada Presiden: “apakah Bapak bisa menyebutkan 10 kebijakan mengenai kesejahteraan warga pesisir serta kelautan yang telah terlaksana?” Jika benar, Bapak berhak mengayuh roda kepemimpinan Bapak lebih lama lagi.