Kalimat di atas sudah bisa menggambarkan bahwasannya jika anda ingin memperoleh kekayaan yang banyak, lebih baik anda tekuni profesi guru. Tapi memang sedikit terdengar aneh, dari berbagai media elektronik maupun media tulis hampir tidak ada yang mengatakan bahwa guru itu kaya ataupun sejahtera hidupnya, justru yang banyak terekam media adalah keterpurukan nasib para guru.

Sebagai penulis saya tidak menyalahkan tulisan di atas dan saya juga tidak menyalahkan pemberitaan yang ada di media. Karena maksud Guru diatas adalah Guru yang sifatnya sudah menjadi PNS. Guru yang telah resmi dilantik menjadi PNS mengalami perubahan finansial dan kesejahteraan yang drastis, karena semua unsur kebutuhan para Guru PNS tersebut telah dijamin oleh pemerintah yang tertulis dalam UU No. 8 tahun 1974 tentang Hak dan Tanggungjawab PNS, UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Akan tetapi bagaimana dengan nasib para Guru Honorer dan Guru-Guru yang ada di lembaga pendidikan swasta?

Dari segi tanggungjawab, baik guru PNS dengan guru swasta ataupun guru honorer memiliki tugas yang sama, yakni mencerdaskan anak bangsa guna memenuhi tugas negara dalam pemberantasan kebodohan. Eh bro, gini-gini saya alumni pesantren, dan pesantren itu sudah pasti swasta, tapi guru-guru saya di pesantren juga tetep mengabdikan dirinya penuh untuk mencerdaskan murid-muridnya kok, berarti sama kan??? Toh saya juga cerdas (kata ibu saya). Akan tetapi dari segi hak mereka sangat berbeda, terutama dalam hal penyejahteraan. Guru PNS per bulan bisa mendapatkan gaji sebesar dua hingga tiga juta, sedangkan guru honorer atau swasta hanya mendapatkan gaji sekitar 150 ribu hingga 400 ribu per bulan? Pemerintah ini pada kemana?

Pemerintah mau menyalahkan para guru honorer atau swasta yang tidak sanggup mengikuti sertifikasi guru? Enak banget kalian..!! hei bung, jika anda tahu, kebijakan yang dicanangkan pemerintah itu sangat bersifat diskriminatif. Karena guru yang belum bisa tersertifikasi hingga 2015 adalah akibat ketidak mampuan pemerintah dalam memprosesnya. Sementara UU. No 14 tahun 2015 menetapkan batas akhir sertifikasi adalah tahun 2015. Jadi kelalaian pemerintah dalam melaksanakan UU tersebut ditanggung para guru? Haloo?

Oh iya satu lagi, yang baru-baru ini masih hangat mengenai dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang hingga kini belum juga cair dan tak tau kapan akan cair. Oh guru.. malang sekali nasibmu. Baiklah kawan, demikian sedikit cerita mengenai nasib guru. Jadi kalo memang anda ingin jadi orang kaya, anda jadi guru saja.