SAAT media sibuk membicarakan para dokter yang “mogok kerja”, beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluh kepada saya. Dia selalu merasa lapar dan haus, seolah sedang puasa sepanjang tahun. Dia juga sering diserang kelelahan.

Saya menganjurkan dia pergi ke rumah sakit. Tapi, dia benci bertemu dengan dokter. Dia punya beberapa alasan untuk itu. Pernyataan cintanya pernah ditolak seorang dokter, salah satunya dan barangkali yang terutama.

Pengetahuan saya amat tipis ihwal dunia kesehatan. Saya cuma sedikit tahu perihal migraine dan maag. Dua penyakit sialan itu berkawan baik dan sering berkonspirasi menyerang pada saat saya sedang sibuk dan lengah.

“Tapi, Google,” kata saya, “mungkin bisa membantu kita.” 

“Meskipun tidak punya pengetahuan medis, Google selalu baik hati memberi rujukan yang bisa membantu kita.”

Teman saya tertawa membayangkan Google lebih manusiawi daripada dokter.

Hasil penelusuran melalui Google memberi kami pengetahuan awal. Dugaan, tepatnya. Dia barangkali mengidap diabetes. Teman saya, yang lebih senang main di Twitter daripada mencari informasi tentang penyakitnya tiba-tiba, mengutuk kemiskinannya karena ditolak dokter yang, katanya, mata duitan.

Sementara teman saya bergidik membayangkan beberapa bagian tubuhnya diamputasi, saya mencari tahu mengenai kencing manis. Penyakit itu sudah membunuh 4,8 juta manusia pada 2012, menurut International Diabetes Federation. Juga menyebabkan hilangnya penglihatan 5 juta manusia. Mengerikan.

Saya menemukan banyak hasil penelitian mengenai penyakit yang sekarang menyerang sekitar 246 juta penduduk bumi. Saya juga menemukan fakta-fakta mengejutkan lain yang jika saya paparkan akan mengubah catatan ini menjadi artikel kesehatan yang akan membuat anda berhenti membacanya. Jika anda mau tahu lebih jauh, datanglah ke dokter. Jika anda pernah ditolak dokter, seperti teman saya, telusurilah sendiri melalui Google.

Saya tidak bercanda. Saya dan anda butuh memiliki pengetahuan dasar mengenai dunia kesehatan: penyakit, obat-obatan, undang-undang kesehatan, dan hal-hal lain di sekitarnya. Salah satunya, karena bisa jadi dugaan teman saya betul: Google lebih manusiawi daripada dokter di negeri ini.

Jika perlu, saya dan orang lain yang bukan dokter harus lebih rajin membaca hasil penelitian terbaru dunia kesehatan daripada dokter. Sebagaimana umumnya kita, banyak dokter juga malas membaca, bukan?

MARI beranjak sejenak dari kisah teman saya yang bodoh. Saya punya cerita perihal Mahatma Gandhi, tokoh yang lahir di negeri dengan jumlah penderita kencing manis kira-kira 63 juta orang. Menurut data International Diabetes Federation, India hanya kalah oleh Cina.

Pada suatu hari, seorang ibu bersama anaknya menempuh perjalanan berhari-hari untuk bertemu Gandhi. Dia mengkhawatirkan kesehatan anaknya yang terlalu banyak mengkonsumsi gula.

“Tolong, Tuan,” katanya, “bisakah Anda menyuruh anak saya berhenti makan gula?” 

Gandhi menatap perempuan itu. Dia berpikir sejenak sebelum berkata, “Baiklah, tapi tidak hari ini. Bawalah anak Anda ke sini dua minggu lagi.”

Perempuan itu kecewa. Tetapi, dua minggu kemudian, mereka kembali.

“Kamu harus berhenti makan terlalu banyak gula,” kata Gandhi. “Hal itu membahayakan kesehatanmu.” 

Anak itu menghormati Gandhi dan, karenanya, berjanji akan mengurangi makan gula.

Perempuan itu bingung dan bertanya, “Tuan, tolong jelaskan, kenapa kami harus menunggu dua minggu?”

“Karena sebelum saya bisa memberitahu anak anda untuk mengurangi makan gula, saya terlebih dahulu harus mengurangi makan gula,” kata Gandhi.

Saya belajar beberapa hal dari cerita tersebut yang saya temukan — atas bantuan Google — dalam buku James Altucher, Choose Yourself.

TIDAK ada yang bisa menyelamatkan nyawa anda dari kematian karena kencing manis, kata Altucher, selain anda sendiri. Gandhi tidak bisa. Sejumlah dokter yang sering dikritik karena merasa diri mereka sebagai dewa penyelamat juga tidak bisa. Google juga tidak mampu.

Google hanya bisa bilang, “Saya tidak tahu apa-apa mengenai kencing manis. Tetapi, baiklah, ini ada 7.370.000 pranala yang barangkali bisa membantu meredakan rasa penasaran anda. Sila baca sendiri.”

Di dunia di mana semua orang ingin terlihat lebih pintar dari siapa pun, kian susah menemukan orang yang baik hati seperti Google. Jika anda ingin mencari tahu tentang diebetes meletus, Google bahkan dengan santun mengoreksi kesalahan anda. “Mungkin maksud anda ‘diabetes mellitus’.” Google tidak menyebut anda bodoh seperti yang saya lakukan terhadap teman saya.

Google juga tidak meminta anda membayar mahal hanya karena bertanya mengenai kencing manis.

Saya ingin belajar dari Gandhi dan Google untuk tidak memberikan saran kepada orang lain mengenai sesuatu yang saya tidak tahu betul duduk perkaranya. Kadang-kadang saya mendapatkan pertanyaan dari orang lain mengenai sesuatu — politik, misalnya — dan menemukan diri saya tidak bisa berhenti bicara seolah-olah amat paham. Saya melakukan itu hanya karena tidak ingin terlihat bodoh. Dan, sungguh, hal bodoh semacam itu mudah dilakukan, tetapi amat susah dihentikan.

Dunia ini tampaknya tercipta untuk diisi dengan perselisihan dan perselisihan dan perselisihan. Teman saya, yang akan segera saya bujuk untuk pergi ke rumah sakit, masih benci bertemu dokter. Dia juga masih melihat para dokter sebagai sekelompok elit yang mata duitan.

Sejumlah dokter masih angkuh dan kerap menganggap diri mereka paling tahu segala hal mengenai kesehatan orang lain. Sementara itu, saya masih sering bersikap kasar dan menganggap orang lain lebih bodoh daripada saya.

Gandhi tahu bahwa perselisihan semacam itu tidak perlu ada andai setiap orang mau jujur dan belajar rendah hati. Gandhi tidak sekadar memberitahu kita. Dia bahkan memilih dirinya untuk menghentikan pertikaian-pertikaian yang jauh lebih besar. Google, tentu saja, bisa membantu anda jika ingin mengetahui perhal ini lebih jauh.

“Anda harus terlebih dahulu menjadi perubahan yang ingin Anda lihat di dunia ini,” kata Gandhi.

Saya sungguh bodoh dan malu karena selalu gagal mengamalkan kata-kata Gandhi. Saya berharap anda tidak lebih bodoh daripada saya.

Sebelum menutup tulisan ini, saya harus memberi tahu anda bahwa sesungguhnya Google tidak betul-betul baik hati. Semakin sering anda mengunjungi Google, semakin kaya para pemiliknya. Google juga tidak jujur memberi tahu anda mengenai hal itu — tapi, jika anda tidak percaya, anda bisa mencari sendiri alasan-alasanya.

Saya meminta maaf karena menggunakan judul yang tidak berhubungan dengan isi tulisan hanya agar anda mudah menemukan tulisan tersebut melalui Google. Saya berjanji untuk tidak melakukan kebodohan semacam itu lagi.

Tapi, tunggu dulu, betulkah judul tulisan di atas tidak berhubungan dengan isinya sama sekali?