Kemarin aku membaca tulisan di Qureta dengan judul Berkebaya Tidak Menjadikan Kita Murtad, yang mengkritisi pemberitaan tentang flyer Awas Murtad, yang menuliskan: kampanye berkebaya tiap Selasa adalah kampanye pemurtadan terselubung. 

Aku pikir ide Kebaya-Murtad ini (mungkin) dari kelompok hijrah. Di mana ada pakaian yang dianggap lebih muslimah, benar-benar pakaian ber-Islam. Namun aku belum pasti mengetahuinya. 

Dan di media sosial khususnya Facebook lagi ramai juga teman-teman yang sealiran denganku (Islam yang ber-Nusantara) menyeruakan untuk memakai baju adat daerah masing-masing dengan berswafoto memakai baju adatnya.

Walau ada juga posting ide dan gagasan menanggapi isu berkebaya yang dianggap murtad dengan membagikan gambar perempuan Indonesia (aktris) yang cantik dan lebih cantik lagi dengan memakai kebayanya. Dengan redaksi yang seperti ini, "Jika anda bernafsu melihat kebaya yang indah ini, berarti kelamin andalah yang harus ditatar."

Ada posting, "Nenek saya yang hajjah memakai kebaya dipadukan dengan kerudungya." Dan, "Sekarang banyak kebaya modern yang dipadukan dengan hijab. Budaya leluhur bisa (tetap) dipertahankan." 

Juga, "Silakan mempromosikan hijab, tapi jangan menganggap kebaya adalah kesesatan." 

Nah, ketika berkebaya saja bisa murtad, bagaimana denganku yang masih sering membuka dan menutup kepala dengan kerudung?

Berkebaya Murtad, Membuka Hijab Kafir?

Aku akan sedikit bercerita tentang awal mula aku berkerudung (aku lebih suka mengatakan kerudung dibanding jilbab yang terkesan sebagai penutup kepala yang besar dan lebar).

Aku mulai berkerudung di kelas tiga SMU. Sebelum itu, aku memang sering didorong keluarga untuk berhijab (menutupi aurat rambut). Namun bukan didorong sebenarnya, tepatnya disuruh berhijab, terutama oleh ayah. 

Ayah adalah seorang guru, guru agama. Di mana dia mungkin selalu mendoktrin siswanya untuk memakai hijab. Sedangkan ibuku, walau seorang pendidik juga, namun lebih slow padaku; aku mau memakainya atau tidak, yang penting aku jadi perempuan yang baik.

Ketika duduk di bangku SMP, untungnya aku bersekolah di sekolah umum. Teman yang berhijab masih bisa dihitung jari. Sehingga aku masih bebas memamerkan rambutku dengan aksesori topi kesukaanku. 

Tiga kakak-kakak perempuanku, semuanya berhijab. Karena mereka sekolah agama di Pesantren, Tsanawiyah/Aliyah. Walau ada kakak yang satu bersekolah di sekolah umum, ayah menyuruhnya memakai hijab.

Di SMU, aku lagi-lagi sekolah di sekolah umum. Sehingga aku bebas berekspresi dengan rambutku. Aku memakai bando dan jepit rambut. 

Namun, ketika kelas duduk di kelas tiga, kakakku yang sekolah di sekolah umum itu rajin ikut kajian muslimah dan memberikan buku tentang HIJAB padaku untuk kubaca. Buku ini membuatku takut untuk tidak berhijab. 

Aku pun memutuskan memakai hijab sebelum ujian kelulusan SMU. Sesuatu yang tanggung karena aku harus mengganti seragam sekolahku. Dari putih abu-abu yang pendek menjadi panjang. Begitu pula dengan seragam cokelat.

Kemudian, di bangku kuliah. Aku sempat kuliah D2. Aku tertarik pada seorang laki-laki yang suka tampil bernasyid (menyanyi tanpa alat musik, bergrup dengan menyanyikan lagu-lagu religi). Laki-laki itu berkulit putih, cakep, masih muda namun dipanggil "Pak". Bukan karena sudah menikah, tapi teman-teman perempuan menghormati dirinya yang senior setahun di atasku dan ikhwan dari unit kegiatan mahasiswa muslim ini.

Aku pun memilih unit kegiatan ini; awalnya karena suka akhi (saudara laki-laki dalam bahasa Arab) itu ada di sana. Dan aku pun belajar jadi ukhti (saudara perempuan dalam bahasa Arab) yang baik. 

Di kegiatan mahasiswa ini, kami selalu kajian, atau pengajian liqo dan banyak berkegiatan misal: mengafakan pengkaderan, mengundang tokoh agama untuk ceramah, nginap di kampussampai tadabbur alam (perenungan ke gunung) semacam melakukan kegiatan pencinta alam.

Dari sini aku menjadi perempuan yang menutup diri rapat-rapat. Mulai dari tidak mau rambutku sehelai pun dilihat oleh laki-laki. Tidak mau bersalaman dengan pria. Memakai kaos kaki ke mana-mana, sampai tidak mau pacaran; inginnya taaruf saja langsung menikah. 

Lulus D2, aku pulang ke kampung halaman. Aku lupa dengan kajianku, liqo-ku. Sehingga aku menjadi pribadi yang biasa lagi. Aku tidak berhijab, jilbab cuma berkerudung. Itu pun di buka-tutup, antara pakai dan tidak pakai. 

Aku bilang hijab karena ketika aku D2, kerudungku rapat dan lebar. Ketika di rumah hanya sekadar kain atau selendang di kepala.

Aku kembali berkuliah strata satu. Walau aku datang mendaftar dengan gaya tomboi, jins, kaos, dan topi. Aku akhirnya harus memakai kerudung lagi karena jilbab di sini adalah wajib. Kampusku adalah kampus organisasi Islam besar di Indonesia.

Di kampus, aku dan beberapa teman sering melilitkan kerudung atau selendang ke leher, sehingga bapak dosen yang mengajarkan fikih munakahat selalu berkata, "Besok saya gunting jilbabnya yang dililit ke leher."

Di mata kuliah tertentu, kami juga tidak bisa memakai celana, apalagi jins. Kami harus pakai rok. Sehingga teman-teman yang mengendarai motor membawa rok ke kampus untuk diganti dengan celana untuk dosen yang punya aturan berrok di kelas.

Kampus kami sampai memajang besar-besar baliho aturan berpakaian islami, baik bagi pria dan wanita. Dan yang wanita tentu saja yang berhijab besar, memakai jubah, kaos kaki.

Di strata dua, mungkin karena kampus umum dan jurusan yang kupilih juga agak rebel. Teman-teman yang berhijab bervariasi. Mulai dari jilbab besar, kecil, hanya ikat kepala atau penutup kepala, sampai pada yang membuka hijabnya. 

Mereka membuka hijabnya setelah sekian lama memakainya. Mungkin dari jurusan kami mereka malah dapat banyak "pencerahan" berhijab, beragama. 

Aku ingat kata teman, "Pakaianmu bukanlah representatif keimananmu." Makanya, memakai jilbab hanyalah seperti budaya berpakaian. Walaupun ada juga yang setuju sebagai adab berpakaian.

Hari ini, aku memakai kerudung, walau masih bongkar pasang karena (mungkin) telah jenuh memakainya. Atau mungkin karena miris melihat fenomena berhijab sekarang. Kalau besok aku melepas kerudung, bukan berarti aku kafir atau mungkin murtad. Tapi, terserahlah kalau itu pendapatmu.