Jihan terus mencari. Melangkah satu demi satu, melewati ribuan rintangan yang kian lama kian melebar. Terantuk jatuh beberapa kali. Ingin menyerah tapi urung. Ingin berpaling tapi rindu. Ingin menyangkal tapi penasaran.

Jatuh, bangun, ia hadapi dengan ketegaran tanpa sandaran. Kian hari kian berdebu. Mencoba untuk  bertahan demi pertemuan yang kerap dia rasakan meski lewat angan.

Orang-orang di sekelilingnya lebih sering menanamkan ambiguitas tentang arti sebuah kata sayang. Sementara Jihan kerap bertanya seperti apa sayang itu. Sayang yang nyata, suci, asli. Sayang dari seorang ibu.

Hingga ia tergolek ketika suhu tubuhnya memanas, namun dingin yang ia rasakan. Terlihat kuat padahal lemah. Orang-orang di sekelilingnya menolong agar suhu tubuh Jihan menjadi normal. Jihan dibelai, dipeluk, diberi obat. Hatinya diam-diam menolak.  Raga Jihan sembuh, tapi hatinya berlubang. 

Kemana sosok yang katanya disebut ibu itu? Ibu yang Jihan kenal bernama Bu Ratih. Bu Ratih memiliki dua orang anak. Mas Handi dan Mbak Tiar. Kedua anaknya menyayangi Jihan. Kata mereka, Jihan adalah adik kesayangan.

Perih ketika mengetahui Jihan tidak pernah berada di kandungan Bu Ratih. Kelu lidah Jihan ketika mengucap kata ‘Ibu’ untuk Bu Ratih. Meski Jihan telah mendapatkan kasih sayang berlimpah bagai air di samudera darinya, namun sudut hatinya menyangkal. Tidak ingin Jihan durhaka kepada Ibu yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih. Meski segenap kehadiran yang kerap membelenggu perasaan ini terus bergejolak demi menghindari sebuah pengakuan kasih dari Bu Ratih.

“Jihan ingin pergi,” kata Jihan suatu pagi. Sanggup menghentakkan lamunan Bu Ratih di pagi hari. Ia sedang beristirahat karena baru usai memasak makanan kesukaan Jihan.

“Boleh. Jihan mau pergi kemana? Ada keperluan apa? Dengan siapa?” pertanyaan Bu Ratih berentet. Wajar untuk ukuran Ibu yang senang menjaga anak perempuannya ketika ingin bepergian.

“Jihan ingin mencari ibu.”

Wajah Bu Ratih bisu. Warnanya pias. Dahinya mengeluarkan peluh yang tak diizinkan. Dia ingin mengusap tapi terlanjur lemas. Napasnya tersengal, menaburkan butiran karbon dioksida di sekeliling ruangan. Membuat Jihan ikutan sesak. Tapi Jihan bertahan. Ia tidak ingin meneteskan butir-butir cairan yang biasanya keluar dari mata.

“Ini Ibumu, Jihan,” Bu Ratih berusaha berucap. Meski debam di dadanya semakin kentara. Bu Ratih menunjuk dirinya sendiri.

“Jihan menemukan ini,” Jihan menyerahkan secarik surat adopsi yang sekarang terpampang di depan wajah Bu Ratih.

“Darimana kamu mendapatkan itu?!” Bu Ratih mendadak marah. Emosinya yang tidak stabil membuatnya mudah bergejolak. Dengan kasar Bu Ratih merebut kertas adopsi itu dari Jihan.

Reflek dia menampar Jihan. Jihan tersungkur. Semakin terluka. Kepercayaannya hilang. Hidupnya sejenak runtuh. Dalam senyap Jihan bangkit, berlari menuju pintu keluar, tidak menoleh ke belakang, dan tidak pernah kembali.

***

Ah, Jihan. Andai kamu tahu. Sejak itu Bu Ratih jatuh sakit. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dalam buaian terlembut yang dapat diberikan  Mas Handi dan Mbak Tiar, Bu Ratih memutuskan menyerah dengan kehidupan. Rahasia tentang Jihan hanya Bu Ratih dan suaminya, Pak Handoko yang tahu.  Sedangkan Pak Handoko sudah terlebih dahulu beristirahat di keabadian ketika Jihan masih bayi.

Ah, Jihan. Andai kamu tahu. Mas Handi dan Mbak Tiar telah berusaha keras menemukanmu. Berbulan waktu mereka luangkan untuk menjemput adik kecil kesayangan. Tapi kamu selalu bersembunyi, tertutupi kekecewaan dan luka yang kian hari kian dalam. Kamu menghindar dalam pertanyaan yang tidak akan kamu dapatkan jawabannya.

Ah, Jihan. Andai kamu tahu. Bu Ratih tidak pernah menganggap kamu berbeda dari Mas Handi dan Mbak Tiar. Kamu adalah bidadari kecilnya yang kerap ia belai ketika kamu kecil. Harapan kesucian akan kamu di kubangan kehidupanmu telah tersemat disela-sela doa yang ia minta kepada Yang Maha Kuasa. Kasih sayangnya kepadamu tidak terbatas. Ia tidak melihat siapa dirimu di masa lalu. Karena Bu Ratih membutuhkanmu sebagai penjaga hatinya di kehidupanmu dan kehidupannya.

Jihan, sejak kepergian lelaki yang seharusnya kamu sebut ayah, meski dia bukan ayah kandungmu, jiwa Bu Ratih pincang. Emosi kemarahan sering keluar tanpa ia minta. Padahal dia tidak ingin. Kepergian kekasih hatinya membuat kelembutan Bu Ratih ternodai. Padahal dia sosok yang tidak mungkin menyakitimu. Maafkan Bu Ratih, Jihan.

Jihan, pulanglah. Mas Handi dan Mbak Tiar masih menunggumu. Mereka merindukanmu. Ucapkan salam sederhana namun sanggup memberikanmu pelukan hangat dari kedua orang yang tersisa untukmu saat ini. Meski mungkin saat ini kamu menganggap dirimu sebatang kara. Tidak, Jihan. Kamu tidak sendiri seperti yang kamu kira.

Tapi Jihan tetap melangkah. Tubuhnya kurus. Dia mencoba mencari pekerjaan untuk mengganjal perut. Sehari-dua hari, kemudian dia berhenti. Jiwanya tidak tenang. Raganya semakin rapuh.

Kemudian dia kembali mencoba bekerja lagi. Seperti itu terus sampai dirinya bosan. Hingga ia memutuskan untuk tidak bekerja. Menyerahkan hidupnya untuk mencari sosok ibu. Bertahan dalam kenestapaan sendirian.

Malam-malam dihiasi oleh bunga tidur yang terkadang membuat Jihan terjaga. Bu Ratih sering hadir di mimpinya. Tapi ada juga sosok perempuan tak berwajah yang ada di belakang Bu Ratih. Jihan meyakini itu adalah ibu yang dia cari. Ibu yang dia cari dan tidak akan pernah ketemu.

Jihan, wajar jika kamu penasaran. Tidak ada yang menyalahkanmu. Kamu hanyalah satu dari banyak orang yang menjadi korban kekejian tahun ’65. Waktu itu kamu hanyalah seorang bayi tidak berdaya. Ibumu direnggut serdadu bersenjata. Tubuhnya jatuh di samping dirimu yang terus menerus meneriakkan tangisan meminta susu.

Ibumu bekerja demi bisa memberikan nutrisi dalam susu yang cukup untukmu. Pak Handoko dan Bu Ratih adalah majikannya ketika itu. Meski hanya seorang buruh, tapi ibumu tegar seperti karang. Tidak goyah meski desas-desus terus mengikuti kemanapun ibumu melangkah. Tetap menjaga dan melindungimu agar kamu selamat dan kelak tumbuh menjadi orang yang tidak munafik.

Jihan, ketika Bu Ratih dan Pak Handoko melihatmu untuk pertama kali, jiwa mereka remuk. Rasa sayang yang tidak diminta mendadak muncul terhadapmu. Menyergap dan melepaskan batas-batas antara  ikatan lahir dan batin.

Peduli benar apakah Bu Ratih pernah mengandungmu atau tidak. Apakah kasih sayang yang Bu Ratih berikan selama ini tidak cukup bagimu? Ataukah kamu hanya sekadar ingin melampiaskan nafsu penasaranmu terhadap sosok yang bernama Ibu itu?

Sekarang Jihan tergolek lesu. Sekarang hanya belaian angin malam yang ia dapatkan. Sekarang ia merasa kesia-siaan menyelimuti. Sekarang ia sadar, ego terkadang menyesatkan.

Suara lemah merobek keheningan malam. Suara itu datang dari Jihan. Suara dari sepotong kalimat tentang keinginan besar yang tidak terkabul dalam sekian juta permintaan.

Suara kejujuran dari seorang Jihan, “Ibu, aku merindukanmu.”

(*)