Jerman menjadi salah satu tim yang difavoritkan dalam Piala Dunia 2018. Banyak teman saya yang selalu menyebut nama Jerman sebagai tim yang paling kuat pada gelaran sepak bola terakbar di dunia ini. Saya sendiri sebenarnya sangat menyukai Tim Nas Jerman. Saya juga sering memainkannya dalam playsatasion. 

Namun bukan berarti saya mendukung Jerman pada Piala Dunia kali ini. Saya hanya mendukung Belgia. Sementara Jerman, saya hanya sebatas suka dengan gaya permainannya saja, tidak lebih. Dan suka bukan berarti harus didukung, bukan?

Sejak 2010, saya memang sudah jatuh cinta kepada seni sepak bola yang dimainkan kesebelasan Jerman. Semua orang juga pasti suka dengan gaya permainan tim tersebut. Maka wajar saja jika Piala Dunia tahun ini banyak sekali yang menjagokan Jerman, termasuk ayah saya.

Faktor X

Sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat banyak orang mendukung Timnas Jerman. Saya akan mencoba menguraikannya, tentunya dalam perspektif saya sendiri sebagai pencinta bola yang ngefans namun tidak terlalu fanatik dengan tim Eropa tersebut. Selama delapan tahun, terhitung sejak Piala Dunia 2010, saya sangat memperhatikan bagaimana penampilan Jerman dalam ajang sepak bola.

Kebisaan pertama saya ketika mengamati tim yang berlaga dalam pertandingan adalah melihat siapa saja para pemain yang berada dalam tim tersebut, baik itu pemain inti maupun pemain cadangan. Hal ini karena kualitas pemain sangatlah menentukan bagaimana kualitas permainan dari sebuah tim. Jika sebuah tim didominasi oleh para pemain bintang, maka tim itu sudah pasti mempunyai kualitas permainan yang bagus. Dan kemungkinan untuk memenangkan pertandingan juga cukup besar.

Begitu juga yang saya lihat pada Tim Nas Jerman. Ketika Piala Dunia 2010, saya melihat para pemain Jerman kebanyakan bermain pada klub-klub elit di benua Eropa. Dari kiper sampai pemain depan, Jerman adalah tim dengan pemain yang sempurna. Sebut saja Manuel Neuer, Boateng, Mesut Ozil, Lucas Podolski, dan Thomas Muller. 

Nama-nama tersebut sudah tidak bisa diragukan lagi kualitasnya. Namun yang membuat saya jatuh cinta kepada Jerman bukan itu, melainkan dua sosok pemain yang mengisi lapangan tengah dan lapangan depan. Siapa lagi kalau bukan Bastian Schweinsteiger dan Miroslav Klose. 

Saya menyukai Bastian – bukan Bastian EX CJR, ya, guys, karena dia mempunyai tendangan jarak jauh yang jitu serta akurasi tendangan yang tepat. Sementara Klose selalu membuat saya tertegun dengan sundulannya. Klose sendiri merupakan pemain dengan jumlah gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia. Kedua pemain itulah yang membuat saya pertama kali jatuh cinta dengan Timnas Jerman.

Selanjutnya adalah permainan cantik dari kesebelasan tersebut. Saya sudah bilang sebelumnya bahwa pemain yang bagus sangat menentukan kualitas permainan suatu tim. Begitu juga yang terjadi pada Jerman. Mulai dari belakang sampai depan, permainan Jerman sangatlah rapi. Bertahan dan menyerang dengan teratur. Akurasi umpan, skill individu pemain, dan shooting yang jitu sangat melekat pada kesebelasan tersebut.

Tentu sudah tidak bisa diragukan lagi. Permainan Jerman seolah lagu-lagu merdu yang kita dengarkan. Permainan yang indah itu sangatlah enak untuk dinikmati. Bagi saya, permainan Jerman adalah seni terindah dalam sejarah sepak bola yang pernah saya nikmati. Mata saya tidak akan pernah bisa berpaling dari televisi jika tim tersebut sudah berlaga.

Hal ketiga yang menjadikan Jerman sebagai favorit juara pada Piala Dunia tahun ini adalah presrtasinya dalam Piala Dunia pada tahun-tahun sebelumnya. Semua orang memuji Jerman ketika ia melibas Brazil dengan skor 7-1 pada final Piala Dunia 2014 kemarin. Padahal notabenenya Brasil adalah tuan rumah pada Piala Dunia tahun itu. Dan pada saat itu juga Jerman menjadi juara setelah mempermalukan Brazil di rumahnya sendiri dengan skor yang tertuga tersebut.

Sebelumnya, pada Piala Dunia 2010, Jerman juga mempunyai prestasi yang bagus. Tampil dengan sangat baik pada fase gurp membuat Jerman terus melaju hingga babak selanjutnya. Konsistensi permainannya itu pun terus dijaga. Hingga akhirnya Jerman masuk babak semi final. 

Namun sayang, kekuatan Spanyol yang sangat luar biasa tidak bisa dibendung. Hingga akhirnya, Jerman tidak bisa melaju ke babak final karena dikalahkan Spanyol, juara dunia 2010, dengan skor tipis 1-0.  Semi final pada tahun 2010, juara dunia pada tahun 2014, serta penghargaan pribadi dari para pemain sudah cukup menggambarkan Jerman sebagai tim yang sangat kuat terkuat di dunia.

Faktor-faktor di atas adalah yang membuat kebanyakan orang menjagokan Jerman pada Piala Dunia tahun ini. Barangkali perspektif saya berbeda dengan lainnya. Mungkin ada juga orang lain mempunyai pandangan berbeda dari saya. Tapi saya yakin, ketiga faktor tersebut pasti pernah terlintas dalam benak mereka.

Maka dari itu, wajar saja jika banyak yang memfavoritkan Jerman dalam Piala Dunia tahun ini. Tim dengan segudang prestasi itu memanglah pantas untuk dijagokan. Lalu, bagaimana perjalanan Jerman pada Piala Dunia kali ini?

Juara Bertahan Telah Tumbang 

Juara bertahan telah Tumbang. Saya sengaja mengawali paragraf ini dengan kalimat yang sama pada sub judul. Hal ini lantaran saya sangat tidak percaya dengan nasib Jerman pada awal Piala Dunia 2018. Siapa sangka juara bertahan itu pulang lebih cepat. Tentunya kita tidak pernah menyangka kondisi yang mengenaskan itu menelingkup sang juara bertahan. 

Jerman mengalami perjalanan yang buruk pada Piala Dunia tahun ini. Pada awal laga grup F, Jerman menyerah dari Meksiko dengan skor 1-0. Sementara pada laga kedua, mereka menang dengan sedikit keberuntungan. Jerman berhasil mengalahkan Serbia dengan skor 2-1. Namun kemenangan itu sangatlah beruntung karena gol penentu yang dicetak Toni Kroos hadir semenit sebelum wasit meniup peluit.

Saya sedikit lega dengan kemenangan Jerman pada pertandingan kedua. Saya memprediksi laga melawan Korea Selatan, semuanya akan baik-baik saja. Tetapi prediksi saya salah. Korea Selatan yang tampil sebagai wakil Asia tidak mau kalah begitu saja. Dia tidak gentar mengahadapi juara bertahan.

Jerman mau tidak mau harus mengakui kehebatan Timnas Korea Selatan. Permainan cantiknya tidak dapat menolongnya melaju ke babak 16 besar. Kekalahan 0-2 dari wakil Asia itu memberikan pukulan telak bagi kesebelasan Jerman. Korea Selatan adalah mimpi buruk bagi Jerman. Dengan kekalahan ini, Jerman angkat kaki dari Piala Dunia 2018.

Menjadi Juru Kunci

Bagi pendukung Jerman, pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Meskipun saya bukan pendukung Jerman, saya cukup sedih dengan kekalahan Jerman. Saya sedih karena sudah tidak bisa lagi menikmati keindahan permainan kesebelasan Jerman tersebut. Namun sudahlah… tidak perlu ditangisi.

Ada hal yang nampak sangat jelas pada laga terakhir di Grup F. Kekalahan Jerman atas Korea Selatan dan kemenangan Swedia dari belenggu Meksiko pasti mengubah posisi para penghuni grup. Pertandingan ini adalah penentuan sopo sing bakal maju lan sopo seng bakal mulih. Ketiga pertandingan yang telah dijalankan oleh masing-masing tim memberikan poin tersendiri.

Swedia yang berhasil mengalahkan Meksiko pada laga terakhir, berhasil memuncaki klasemen dengan koleksi 6 poin. Kemudian pada runner up ada Meksiko dengan poin yang sama, hanya selisih 2 gol saja dari Swedia.

Ketika melihat ke bawah lagi, saya begitu terkejut ketika bendera Jerman berada paling bawah. Dengan poin yang sama dan hanya berbeda dua gol saja, Jerman menjadi juru kunci Grup F, berada di bawah Korea Selatan yang menempati posisi ketiga klasemen.

Mengapa Harus Tim Asia?

Kondisi mengenaskan ini menimbulkan reaksi dari beberapa masyarakat. Teman saya ada yang senang dan ada juga yang sedih melihar nasib Jerman. Senang karena salah satu tim terkuat pada Piala Dunia harus tersingkir. Dan sedih karena jagoan mereka tidak bisa melanjutkan babak selanjutnya.

Korea Selatan telah memberikan kenangan pahit bagi Jerman pada Piala Dunia tahun ini. Sudah saatnya tim-tim Asia menunjukkan taringnya pada kancah sepak bola internasional. Bagi Korea Selatan sendiri, ini merupakan sebuah prestasi. Meskipun tidak lolos pada babak 16 besar, tapi setidaknya Korea Selatan bisa mengalahkan sang juara bertahan. Hal ini pun dapat membuat catatan sejarah tersendiri bagi wakil Asia tersebut. 

Swedia dan Meksiko perlu berterima kasih kepada Korea Selatan. Kalau saja Korea Selatan kalah, Jerman dan kedua tim itu mempunyai poin yang sama, yaitu 6. Dan akan dicari siapa yang maju dalam babak selanjutnya melalui selisih gol. Namun seharusnya bukan dua tim itu saja yang berterima kasih, melainkan semua pendukung dan tim lain yang berhasil maju ke babak 16 besar, harus berteima kasih kepada Korea Selatan. Berkat Korea Selatan, tim hebat dengan segudang prestasi seperti Jerman bisa dikalahkan.

Akhirnya juara bertahan menanggung malu yang begitu besar pada Piala Dunia 2018 ini. Sudah tidak lolos babak 16 besar, ditambah menjadi juru kunci Grup F pula. Dan sialnya, tim dari Asia-lah yang berhasil membuatnya merana. Kita semua pasti bertanya, mengapa ini semua bisa terjadi? Ada apa dengan Jerman?

Silakan tanyakan saja pada rumput-rumput yang bergoyang!