Riak-riak konflik masih terasa di berbagai irisan dunia selama kurun waktu terakhir. Di antaranya, gejolak yang merundung sejumlah negara Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia-Pasifik, dan lainnya. Termasuk ketegangan antara Palestina dan Israel di sekitar komplek Masjid al-Aqsa yang menewaskan beberapa orang dari kedua pihak belum lama ini.

Konflik yang melanda banyak wilayah mancanegara tentu menyentuh rasa prihatin masyarakat internasional. Terlebih saat perciknya kemudian mengobarkan perang berkepanjangan dengan rentetan tragedi kemanusiaan. Siluetnya membentangkan paradoks abad digital kekinian. Zaman bertambah maju, ragam teknologi semakin canggih, tetapi bangunan kedamaian universal pun serasa kian memprihatinkan.

Suriah, misalnya, semula negeri yang kehidupan domestiknya relatif damai, meski dipinggirkan negara-negara Barat sekurangnya pada rentang 2007-2008 silam. Warga negaranya yang meliputi bermacam etnis dan agama, juga hidup dalam harmoni keberagaman penuh toleransi. Rutinitas sosialnya berlangsung normal dengan laju pertumbuhan ekonomi berkisar 5,2% sampai 5,6% kala itu.

Musim berganti seiring hembusan Arab Spring yang semakin membadai, keadaan negeri ”Gerbang Sejarah” itu–bisa dibilang mendadak–berubah drastis mulai sekitar tahun 2011 lalu. Bermula dari tindakan aparat menangkap belasan siswa-remaja yang diduga telah membuat grafiti lantaran dianggap serangan terhadap rezim Asaad di Kota Dar’a. Penangkapan tersebut menyulut aksi demonstrasi berbagai kelompok.

Gelombang unjuk rasa imbas masalah yang sebenarnya masih bisa didialogkan secara adem itu lantas meluas, kabarnya digelar setiap Jumat dengan politisasi masjid. Terlebih sebab perkembangannya kerap diselipi agitasi berbau agama serta informasi dan berita abal-abal.

Eksesnya, perang saudara pecah, membuka ruang campur tangan negara-negara luar beserta koalisinya. Pada gilirannya, Suriah menjelma medan perang, ajang pelampiasan ambisi bermacam kepentingan penuh amarah.

Wajah dunia belakangan memang cenderung berlulur kemarahan. Gara-gara problem sepele dapat berbuntut salah paham, bahkan dipungkasi kekerasan secara massal. Jalur rembuk (diplomatik) seakan gagal fungsi untuk sekadar menghindari konflik yang lebih runyam. Entahlah, konfrontasi–dengan persenjataan berat–yang justru memperkeruh keadaan lantas sering dipilih sebagai ”penyelesaian” satu-satunya.

Hari-hari ini, kita pun tidak bisa sambil menyeruput wedang kopi hot berandai-andai, Vladimir Putin yang Presiden Rusia itu sedang melakukan lawatan ke satu negara. Lalu, di satu titik rute menuju tempat kopdar dengan Presiden negara bersangkutan, iring-iringan mobil rombongan Putin terhalang pengendara motor. Perempuan emak-emak yang mengendarai kendaraan roda dua, begitu santai mengambil posisi tengah jalan dan menyalakan lampu sen kiri terus-menerus.

Saat mendekati tikungan, mobil rombongan paling depan hendak menyalip dari arah kanan. Di luar dugaan, si emak-emak pengendara motor justru langsung berbelok ke kanan. Akibatnya, dia tertabrak hingga jatuh mencium aspal jalanan. Ketika pengawal khusus Putin memeriksa keadaan perempuan itu, juga menemukan kardus yang berisi kain-kain dengan motif bendera Amerika Serikat.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita sulit memastikan emak-emak pengendara motor itu tidak diamankan otoritas setempat untuk keperluan interogasi lebih jauh. Meski perempuan tersebut aslinya hanya seorang pekerja imigran asal Indonesia yang hendak mengirim paket sarung bantal dan guling bercorak simbol USA pesanan kesukaan anak-anaknya di tanah air.

Dari sini, dalam lingkup konflik global, penyebabnya bisa menyangkut ihwal yang kompleks. Sebagaimana pendapat sekalian kalangan pemerhati yang sudah jamak. Antara lain berkenaan faktor pemantik, akar persoalan, manifestasi peran pemimpin dan aspek perunyam masalah. Celakanya, selain diperkeruh propaganda bernuansa SARA, juga diperparah aksi terorisme kelompok ektremis semisal ISIS yang selalu mengatasnamakan agama.

Lebih dari itu, tesis provokatif Huntington tentang ”Benturan Peradaban” ditengarai banyak akademisi cukup sukses mempengaruhi lanskap mindset dunia mutakhir.

Padahal, jika dirunut lebih seksama, fakta empiris konflik global njekethek bukan mengenai agama sepenuhnya. Melainkan, lebih menandai kompetisi politik picisan demi mempertahankan pengaruh di tengah percaturan dunia, ketika lamat-lamat ancaman krisis ekonomi menggerogoti sendi-sendi barisan negara adikuasa sekalipun.

Bayangan gelap serupa ndilalah juga merembesi geliat sosial dalam negeri. Rembesan politik identitas layaknya Arab Spring, radikalisme bertaut ekstremisme transnasional dan hasutan SARA begitu terasa. Seuntai jelaga konflik maupun kekerasan atas nama agama yang berujung krisis kemanusiaan.

Taruhlah pengalaman ajang Pilgub DKI Jakarta lalu yang menyisakan catatan buram: hampir saja bangsa ini terperosok ke jurang perpecahan gara-gara perebutan kekuasaan yang bahkan hanya selevel lokal.

Pada sisi lain, betapa masyarakat gampang menjadi pemarah sekarang. Kita baru dihenyakkan kasus lelaki terduga pencuri amfli musala di Bekasi, yang dihakimi massa lalu dibakar sampai meregang nyawa.

Itu pun belum terhitung serentengan konflik dan aksi kekerasan sehari-hari yang mungkin luput dari sorotan media. Belum lagi, terbongkarnya Saracen sindikat penyedia dan penebar informasi hoax dan ujaran kebencian berkonotasi SARA di media sosial baru-baru ini.

Fakta miris demikian, terutama konflik maupun anarkisme dengan mengacungkan agama, berkelindan dengan musabab yang bisa jadi tidak tunggal. Menukil telaah almaghfurlah Gus Dur terdahulu, salah satunya bersumber pendangkalan agama. Dalam hal ini, Gus Dur kemudian menyodorkan pilihan solusi perlunya reinterpretasi agama (Gusdur.net).

Apa yang pernah diungkapkan Gus Dur satu setengah dekade lampau itu serasa mengaktual kembali. Tengok saja merebaknya fenomena ”meguru pada syaikh Google” di era milenia.

Pendangkalan agama melalui proses instan, bukan hanya resistan terhadap optimalisasi peran substantif agama, guna kemaslahatan manusia beserta lingkungan. Tetapi, juga turut menyuburkan klaim kebenaran absolut sepihak, kegemaran mengkafirkan sesama dan sebagainya yang menjadi bahan bakar konflik.

Implikasi lainnya ditandai matinya daya kritis dalam pembacaan teks-teks agama, terutama upaya kontekstualisasinya sejalan derap zaman. Jangan lupa pemahaman keagamaan hendaknya sublim dalam keselarasan akal dan budi.

Memang, peran dasar agama membumikan pekerti luhur, namun peneguhan nalar yang bugar juga niscaya. Dengan begitu, publik memiliki filter menyikapi pemelintiran agama oleh pihak tertentu yang mereduksi esensi agama itu sendiri.

Pada titik ini, jika boleh sedikit mengelaborasi pencermatan terkait konflik, tampaknya bersimpul pula dengan gejala standar ganda pada relasi antara pengikut dan pemuka agama terkait muatan wawasan keagamaan. Lebih-lebih ketika berkenaan dengan perilaku tokoh yang kadung amat diidolakan. Sebagian masyarakat lebih memandang sosok figur ketimbang narasi (dakwah) atau sepak terjangnya di ranah publik.

Bagian prinsip tuntunan ”lihat apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan” pun seringkali bias. Padahal, baik-buruk maupun benar-salah hanyalah ejawantah sifat-perbuatan yang melekat pada setiap individu. Apapun predikat sosial seseorang tak benar-benar lepas dari segala bentuk alpa, khilaf, bahkan nafsu angkara. Sementara, universalitas agama seharusnya terbebas dari persoalan tersebut.

Yang tak kalah penting sebagai renungan, kiranya soal kecenderungan serius melulu dalam memahami agama maupun praktik beragama secara empiris. Seolah agama menutup sense of humor sama sekali bagi insan pemeluknya. Keseriusan sebagian kelompok sedemikian rupa selama mendalami dan mengaktualisasi doktrin agama, parahnya senantiasa berbanding lurus dengan indikasi fakir humor.

Karena itu, menarik banget ketika meresapi pandangan elaboratif Gus Mus seputar kepribadian Nabi Muhammad saw yang humoris. Nabi tetap dipahami sebagai figur teladan agung yang penuh welas asih sebagaimana mestinya, tanpa menegasikan dimensi kemanusiaan beliau yang asyik. Nabi pernah bercanda dengan para anggota keluarga beliau, saling melempar joke bersama para Sahabat dan semacamnya.

Dikarenakan, semesta peran agama demi memanusiakan manusia, semestinya pula tanpa mencerabut sisi kemanusiaan, serta dari kearifan lokal yang melingkupinya. Gus Mus pun pernah memaparkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw iku wong, sing ngerti wong, nguwongno wong (Kanjeng Nabi itu manusia, yang mengerti manusia-kemanusiaan, dan memanusiakan manusia).

Humor telah sedemikian melekat pada eksistensi manusia. Ragamnya berkembang pesat khususnya di Inggris maupun wilayah Eropa umumnya pada sekitar abad 16-19 silam.

Bahkan, menurut Gauter (1988), bagi masyarakat Eropa dan sebagian Amerika, humor dipandang bagian dari kehidupan. Humor pun meruahkan faedah-faedah yang maknyus. Sensasinya bisa mencairkan kebekuan suasana, melumerkan komunikasi–sama halnya diplomasi–yang buntu dan seterusnya.

Sujoko (1982) menyatakan humor berfungsi di antaranya, pembelajaran memahami persoalan dari berbagai perspektif, mengurai keruwetan yang pelik, serta penyadaran bagi setiap orang bahwa dirinya tidak selalu benar.

Rasanya humor juga akan berguna mengimbangi beban hidup, begitu pun kiranya bagi (pemimpin) negara dunia untuk menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial-politik dalam negerinya akhir-akhir ini. Dan humor yang baik menurut Kartono Muhammad adalah menertawakan diri sendiri.

Ujung perbincangan kali ini, meniscayakan kembali pada mata air kearifan Nusantara. Kita selaku bangsa telah dibekali Pertiwi dengan nilai-nilai budaya tepa selira, welas asih, gotong-royong, musyawarah mufakat, rasa senasib sepenanggungan dan sebagainya di tengah fitrah perbedaan. Semua itu mengkristal dalam jiwa Pancasila, denyut kebangsaan kita, yang sewajibnya terus kita rawat dan segarkan bersama sepanjang masa.

Perlu digarisbawahi pula bahwa keteguhan berpegang pada tali agama, tidak dengan mengumbar egoisme primordial individu maupun kelompok, yang justru berpotensi menyembulkan jelaga konflik, mencerai-beraikan persatuan dan kesatuan, menyulut aksi kekerasan hingga krisis kemanusiaan apalagi hanya demi politik picisan.

Catatan kaki lainnya, cerdaslah bermedia sosial. Lalu, beragama memang kudu ganyeng, tetapi tidak harus melulu spaneng. Bagaimana menurut sampean?