Saat kita mengunjungi sebuah tempat baru yang bagus, pasti timbul niat untuk mengabadikannya. Salah satu caranya dengan memotret, baik swafoto maupun bersama kawan. Ritual tersebut sebagai penanda bahwa kita pernah berada di sana. Begitu pun ketika mencicipi sebuah makanan yang unik lagi lezat, momen ini tidak bisa hanya dinikmati oleh lidah saja.

Lantas, setelah memotret, perlu ada ruang penyimpanan untuk mengoleksi pengalaman tersebut. Untuk itulah media sosial hadir. Tak cuma disimpan, tetapi khalayak digital pun dapat melihatnya. Mereka bisa berinteraksi juga dengan memberi tombol ‘suka’ dan menuliskan komentar di unggahan tersebut.

Unggahan itulah yang kemudian bernama jejak digital. Sebuah rekam siber mengenai aktivitas warganet di ruang virtual, mulai dari tempat yang pernah dikunjungi, makanan apa saja yang pernah dicicipi, pandangan politik, hingga urusan agama dapat diketahui dari jejak digitalnya.

Jejak-jejak yang ditinggalkan itu abadi karena masuk ke dalam ingatan kolektif setiap khalayak digital yang melihatnya. Pemilik akun memang dapat menghapus suatu unggahan, tetapi kita tidak pernah tahu siapa saja yang telah mengunduhnya, dalam bentuk tangkapan layar misalnya.

Oleh sebab itu, perlu kehati-hatian dalam menulis atau mengunggah sesuatu di media sosial. Rekam digital yang buruk kerap digali untuk menjatuhkan nama baik kita di kemudian hari. Sering kali para pesohor atau pejabat yang menjadi sasarannya. Misal, pada kasus seorang musisi yang diangkat kembali cuitannya kala ia masih berusia 14 tahun yang viral justru ketika ia telah terkenal.

Begitu pula dengan para pejabat kita. Sudah terlalu banyak contohnya seorang politisi A mengkritik B karena dekat dengan C, lalu di kemudian hari mereka berafiliasi untuk mengalahkan C. Inkonsistensi dalam politik memang sering terjadi. Namun bila melihat jejak digitalnya, kita mungkin akan tertawa sendiri.

Jangankan jejak digital para pejabat, ketika kita melihat rekam media sosial sendiri di masa lalu pun mungkin akan tertawa geli. Betapa alay tulisan dan unggahan kita dulu yang baru kita sadari kini. Tetapi itu memberikan kesan bahwa kita memang pernah ikut-ikutan keren pada zamannya.

Jejak Digital, Manifestasi Masa Depan

Siapa sangka kehancuran diri kita di masa depan bisa dibentuk oleh media sosial? Di era keberlimpahan informasi ini, segala komentar maupun unggahan kita di media sosial menjadi acuan dalam melihat arah pandang seseorang. Tentu media sosial mudah untuk dikonstruksi, maka buatlah citra positif pada media sosial kita.

Semena-mena dalam mengomentari sesuatu dapat menjadi bom waktu yang akan menghancurkan diri kita di masa depan. Mungkin kini kita memiliki jumlah pengikut sedikit dan bukan seorang yang berpengaruh secara sosial, tetapi kita tidak pernah tahu nasib di masa depan, bukan?

Bisa saja lingkaran pengikut kita kini telah menyimpan jejak digital kita untuk digunakan sebagai serangan di masa depan.

Bijak dalam bermedia sosial merupakan langkah yang tepat untuk menyelamatkan kehidupan kita di masa yang akan datang. Beberapa tips yang mungkin dapat kita lakukan sekarang demi menghindari bom waktu di masa depan yang dikutip dari Badan Siber dan Sandi Negara.

Unggah Hal Positif

Tahan jari jemari kita untuk mengunggah atau berkomentar nyinyir yang berujung ujaran kebencian di media sosial. Bedakan kritik dengan ujaran kebencian. Jika kritik berdasarkan fakta, maka ujaran kebencian berlandaskan hati kita yang tidak suka pribadi seseorang.

Jangan pula bangga ketika mengunggah kenakalan kita di media sosial. Selain dapat berujung pidana, kita pun harus menerima kecaman dari warganet apabila kenalakan tersebut viral. Ingatlah bahwa komentar warganet itu lebih pedas daripada lidah ibu tiri, namun mereka bisa dipadamkan dengan jurus ampuh, klarifikasi.

Mari bentuk citra media sosial kita ke arah yang lebih positif. Jejak digital pun kadang kala menjadi bahan pertimbangan perusahaan dalam merekrut kita. Dengan citra yang baik pun tentunya kita akan merasa tenang di kemudian hari jika suatu saat menjadi pesohor ataupun pejabat.

Tidak Mengumbar Data Pribadi yang Sensitif

Berbicara mengenai data pribadi, saat ini memang rentan sekali keberadaannya di internet. Pemegang data pribadi kita, misal pemilik media sosial, tempat belanja daring, bahkan baru-baru ini data dari pegawai pemerintahan bocor di forum internet.

Kita mesti bijak dalam menitipkan informasi pribadi apalagi yang sensitif seperti nomor telepon, alamat rumah, dan Nomor Induk Kependudukan kepada suatu instansi. Jangan terlalu mudah untuk memberikan data-data tersebut, terlebih untuk situs yang tidak dikenal. Harta yang paling berharga saat ini ialah data pribadi.

Selalu Ingat, Informasi di Ruang Siber Bersifat Permanen

Berpikirlah sebelum mengunggah, karena apap un yang telah berada di ruang siber dapat diduplikasi dan disebarluaskan oleh orang lain. Menghapusnya saja belum tentu bisa benar-benar melenyapkan jejak digital. Pahami bahwa menghapus jejak digital lebih sukar dibandingkan menghapus jejak bersama mantan.