Sore ini seperti pagi. Sisa embun di ujung daun berjatuhan – meresap ke dalam tanah yang lembap. Cericit prenjak riuh – bersahutan – di pucuk pohon yang nyaris menyentuh langit. Wangi semerbak rerumputan turut menyertai keberadaanku dan lelaki – yang biasa kupanggil Mas – itu  pada sebuah bangku di sudut taman kota. 

Lampu-lampu taman yang menua belum jua menyala. Sementara, langit perlahan menghitam. Matahari bersembunyi tak tahu rimbanya. Aku dan Mas masih membisu. Sama seperti pertemuan kami kali pertama. Dulu sekali.

Sesekali daun-daun kering tersapu desau bayu. Akhirnya, kami asyik bercengkrama di samping rindang pohon beringin. Lelaki itu tampak canggung dan malu-malu ketika menatapku. 

Wajahnya masih seperti dulu. Tenang. Entah mengapa tiba-tiba suasana menjadi beku, ketika kedua tangannya lekat di jemariku.

Degup jantungku semakin tak beraturan. Tak karuan. Berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku mematung seperti Spinx. Kesepian. Cahaya matanya benar-benar telah membiusku. Teduh. Seperti sorot mata ayah saat memandangku. 

Meski ada yang berbeda pada dua bola mata indah itu. Ya, kutemukan sepasang kekasih tengah menari di balik anak-anak hujan yang berloncatan bagai kelinci.

Peristiwa itu memaksaku untuk terus menatap dan menikmati binar di matanya dengan lengkungan di tipis bibirku. Dia terlihat tampan sekali sore ini. Wajahnya putih bersih seperti gumpalan awan. 

Hidungnya mungil sepanjang lima senti. Aku bayangkan. Dia lebih menyerupai Antonio Banderas. Ah, aktor tampan itu selalu berkelana dalam kepalaku.

Kehadirannya sore itu, membuatku semakin terhipnotis dalam dawai-dawai rindu untuk lama-lama bersebelah tangan dengannya. Keberadaannya telah membuat debum seisi hatiku. Tak lupa sore itu, Mas selalu memujiku dari ujung helai hitam rambut sampai pucuk jemari kakiku. 

Sungguh, aku benar-benar ditempatdudukkan di singgasana yang Mas buat sendiri dari gumpalan-gumpalan potongan bulan. Lantas, Mas ikatr ekatkan dengan putih rotan dari teduh matanya.

Baiklah, aku persingkat kisahnya. Sore itu, dengan berani, Mas mengutarakan maksud hatinya menciumku untuk pertama (dan mungkin terakhir). Aku masih terdiam menikmati matanya. Sekali lagi, Mas ulangi niat pertemuan ini .

Dengan cepat, Mas mengelus rambutku. Tangan kanannya menyelipkan helaian rambutku di belakang telinga bagian kiri. Sontak, Aku tersadar. Aku tercengang kaget mendengarkan permintaannya. Sementara suasana taman ini semakin sunyi.

Aku menolak keras keinginannya. Persisi dengan apa yang pernah aku lakukan dulu. Dahulu sekali. Aku tahu semua perasaanku terhadap Mas hanyalah semu. Dan Mas juga tahu bahwa keberduaan ini akan sulit sekali kami lakukan lagi. Sebab memang begitu adanya. 

Meski rindu di hatinya kian menjalar di sekujur tubuh. Aliran darah yang semakin deras terpompa oleh jantungnya tak mungkin terasa hingga di jantungku. Kurasakan kegamangan luar biasa menyelimuti perasaannya. Tentunya, perasaanku.

Kami membisu. Saling bertukar mata. Suasana hatiku tak akruan. Begitu sulit untuk diterjemahkan dan digambarkan dalam bentuk kata-kata. Entah perasaan apa yang kini berkelana di hatiku. Kekagumankah, cintakah, kerinduankah, atau perasaan gugup ketika sudah lama tak pernah bertemu.

Segala kecamuk di dalam dada semakin menghilangketika daun-daun kering beringin itu berjatuhan satu-persatu di dekat kami. Mas menarik tubuhku untuk bersandar di bahunya yang bidang dan lapang. Kenyamanan yang lama hilang kembali kurasakan. Ia memelukku erat. Kepalanya bersandar di bahuku.

Kata Mas padaku, sudah lama ia mendambakan saat-saat seperti ini. Aku masih diam. Menikmati suasana sore yang sejuk seperti pagi. Gumpalan awan masih menghitam. 

Dingin angin menambah gairahku untuk berlama-lama di sampingnya. Wangi rerumputan dan parfum di tubuh Mas masih kurasa tentunnnya. Itulah alasanku berlama-lama di sampingnya. Dddipelukannya.

***

Tak kusadari, tinggal aku dan Mas di taman kota ini. Lama kami larut dalam pelukan. Bernostalgia akan kenangan indah yang pernah kami rajut bersama. Senja menjemput kami. Taman kota semakin sepi. Mas melepaskan pelukannya. Kami melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda.

“Sore ini mengingatmu saja di masa lalu sudah cukup bagiku. Apa yang terkenang memang hanya sebuah kenangan. Kenangan yang takkan mungkin kembali. Sebab roda sang waktu tak pernah menghendaki. 

Kenangan itu hanya milik kita Mas. Tak ada satupun orang yang mampu merenggutnya dari lubuk hatiku. Pun hatimu,” kataku.

Langit senja begitu jingga. Langit kelam menjemput jingga. Lampu-lampu taman menyala-nyala. Gemerisik angin menggelitik telingaku.Mas masih berada di sampingku. Begitu dekat. Begitu rapat. Menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang mengapung sejengkal di atas tanah.

Kutolehkan kepalaku kea rah kiri. Matanya menatap tajam ke atas langit. Ia singsingkan lengan kemejanya yang panjang sebatas siku. Lantas mengarahkan telunjuknya kea rah purnama.

“Kau lihat itu, Apa selama ini aku bisa menerangi hatimu seperti terang purnama?” tanyaya padaku.

Aku menganggukkan kepala. Tak bersuara. Tak tahu mengapa. Sulit sekali aku berkata. Ada apa gerangan dengan lidahku. Tiba-tiba ia kaku. Padahal, ingin sekali kujawab dengan kalimat-kalimat indah seperti yang ia lakukan padaku.

Kelam malam melahirkan suasana baru bagi kami. Tak ada gemintang. Pun kunang-kunang. Kemana mereka bersembunyi. Barangkali, hanya rintih jangkrik yang mengalun merdu. Dan angin malam, mencumbu rindu tubuhku dan tubuhnya.

Sepuluh tahun yang lalu. Di taman kota ini. Kami pernah mematri janji dan mengelus halus tubuh kunang-kunang. Kunang-kunang hijau dan malam. 

Kunang-kunang merah dan rindu di hati kami. Mas berkata lagi, Kunang-kunang hijau itu aku dan kunang-kunang merah itu adalah kau. Masihkah ada sepotong rindumu yang sederhana kepada kunang-kunang?”

Mas kembali menatapku. Aku pun kembali menatapnya dengan hati gemetar. Sebab, hanya itu kenangan yang selalu berputar-putar di kepalaku dan menemani tidur sepiku.

***

Sepertinya, Mas mulai berang dengan perlakuanku. Sikapku. Sedari tadi, aku lebih banyak diam. Menjawab pertanyaan pun seperlunya dan sesekali memberikan jawaban dengan bahasa tubuh. Mas bertanya lagi. Kali ini agak keras suaranya, “Apa kau masih mencintaiku?”

Aku semakin bingung dibuatnya. Terlalu sulit dan rumit bagiku menjawab pertanyaan yang amat sederhana itu. Aku masih diam. Menelan ludah. Butiran-butiran hujan tiba-tiba turun dari mataku yang semakin gelap. Sontak aku berdiri. Bermaksud meninggalkannya sendiri di sudut taman kota ini.

Belum sempat aku melangkahkan kaki, Mas menarik tanganku. Mengembalikan posisi tubuhku untuk tetap disampingnya. Dengan jemarinya yang lembut, ia mengusap Kristal-kristal yang mengalir di pipiku.

Wajahku merah padam ketika kedua tangannya tepat di kiri kanan telingaku. Aku masih sesenggukan. Matanya yang tajam dan teduh itu kembali kembali melayang pandang ke arah mataku. Berkaca-kaca matanya. Aku dapat membaca luka yang dialaminya. Hidungnya yang panjang kembang kempis. Dengan sedikit nada tinggi, Mas berkata lagi.

“Mengapa Kau tak mau menjawab pertanyaanku? Aku masih mencintaimu seperti dulu. Seperti matahari yang mencintai pagi. Sore yang merindukan senja. Dan malam yang bersemayam kelam. Ayolah tatap lebih dalam kedua mataku dan berikan jawaban itu sejujur-jujurnya. Aku mohon!”

Aku langsung tak berani menatapnya lagi. Hanya mampu menangis. Itu saja. Tapi ia memaksaku untuk terus menatapnya.  Kulihat, airmatanya berlinang. Dengan berat hati kutatap jua akhirnya. Dan aku tak mampu lagi berbohong.

“Semua rasaku padamu masih kusimpan rapi di sebuah ruang di dalam hatiku, maafkan aku Mas! Aku tak lagi mencintaimu,” ucapku lirih.

Mas menarik tubuhku agar melekat erat dengan tubuhnya. Kami menyatu dalam sebuah peluk dan airmata. Perlahan, Mas memberikan ruang diantara tubuh kami. Ia kembali mengutarakan niatnya untuk menciumku. 

Menghapus butiran-butiran air yang tersisa di pipiku. Aku tak kuasa melawan permintaannya itu. Dan memang entah tersebab apa, aku sulit sekali mengendalikan perasaanku. 

Aku terbius oleh keindahan raut wajah Mas yang telah lama lenyap dari kehidupanku. Yang selama ini membayang-bayangi kedua mataku.

Purnama telah padam. Menghilang tak tahu sebab. Langit malam bukan hanya kelam tapi juga hitam. Kubiarkan airmatanya jatuh membasahi tanah dan rerumputan. 

Sebelum memulai niatnya itu, kami kembali bersitatap satu sama lain. Angin malam semakin risau. Merasuki tubuh kami hingga menyelinaplindap ke tulang sum-sum kami. 

Jantungku semakin berdegup dahsyat. Tubuhku melemas. Mataku hanya fokus pada satu titik. Bibirnya. Dan ketika bibirnya tenggelam di merah bibirku, kami hanyut dalam buai-buai keindahan.

Akhirnya ia menciumku juga. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Tiba-tiba gerimis. Semuanya usai. Mas menyelipkan surat ke saku celana jeansku. Aku tersadar. Aku telah mengambil langkah yang salah. Sebuah penyesalankah atau kegundahan?

Semuanya berkelebat cepat dalam hatiku. Gerimis menjelma hujan. Aku bergegas meninggalkannya. Mas memanggilku. Berteriak keras, “Jangan tinggalkan aku! Inilah aku yang dulu mencintaimu.”

Aku tak memperdulikannya. Aku terus berlari menuju taksi di pinggir jalan yang sedari tadi menungguku. Basah kuyup juga tubuhku jadinya. Hujan mengantarkan perpisahan kami. 

Tepat di samping pintu taksi yang belum kubuka. Aku berteriak keras ke arahnya, “Mas, maafkan aku. Esok aku harus hijrah ke kota lain. Lupakan saja yang telah terjadi pada hari ini.”

Airmataku tergerus hujan. Kulihat mas dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Ia seperti harimau ompong tak bernyali. Orang tolol kehilangan kendali. Matanya begitu sayu dan rapuh.

***

Pagi ini udara begitu cerah. Matahari kembali menyinari langkah kakiku. Pesawat berlalu meninggalkan kota ini. Tanah Pilih Pesako Betuah. Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Kenangan yang tertinggal di sana takkan pernah hilang tergores waktu. Segala rindu dan keluh kasih tentang Mas telah kubuang jauh.

Kulihat, lelaki bermata biru yang nyatanya adalah suamiku tengah tertidur bersebelah tangan denganku. Bukan Mas yang pernah aku tinggalkan di taman kota itu. Kubuka surat dari Mas. 

Surat itu telah berumur tua. Sepuluh tahun lebih. Ada bagian kata-kata yang hilang ketika Kristal-kristal hujan menggenangi surat ini. Namun isinya masih dapat jelas kubaca. Isi surat itu tentang keinginan terdalamnya mengecup bibirku untuk kali pertama dan segala penyesalannya dari akhir hubungan kami dulu.

Kulihat tanggal surat yang tercantum, 09 September 1999. Masih teringat jelas di benakku tanggal bersejarah itu. Akhir dari segala akhir hubungan asmaraku bersama Mas. Kurobek surat tadi menjadi potongan-potongan kecil. Kumasukkan ke dalam tong sampah yang telah dipegangi pramugari.

Ya. Aku harus pindah ke Papua mengikuti arah langkah suamiku. Dokter spesialis bedah jantung yang dipindahtugaskan ke salah satu rumah sakit di sana.

Segala yang terkenang memang harus kubuang. Perasaan bersalah terhadap suamiku diam-diam datang.