Saya adalah orang Indonesia yang lahir dari seorang ibu keturunan Jawa-Sunda dan ayah keturunan Madura totok. Kedua orang tua saya yang muslim menjadikan saya sebagai pemeluk agama Islam sedari lahir hingga sekarang. 

Lahir di Malang, JawaTimur, saya tumbuh dengan budaya Islam-NU yang sangat kental dari lingkungan tempat tinggal saya. Sedangkan dari silsilah keluarga besar dari kedua orang tua, semua anggota keluarga saya adalah penganut agama Islam dengan beberapa sekte atau aliran, seperti NU (Nahdlatul Ulama), Muhammaddiyah, bahkan Islam Kejawen, khususnya Islam Abangan. 

Maka dari itu, walaupun sesama Muslim, kami sering merasakan banyak perbedaan dalam meyakini ajaran agama Islam, terlebih ketika menjalankan ibadah rutin maupun di hari besar.

Dahulu, ketika saya masih dalam usia di bawah 10 tahun, ibu saya yang lahir dan besar di tanah Jawa (Kediri, Jawa Timur) masih sering melakukan ritual kejawen seperti pasa mutih dan pasa weton. 

Menurut cerita ibu, keluarga kakek dari pihak ibu adalah penganut Islam Kejawen yang masih menganut kepercayaan dan aliran Islam Abangan. Islam abangan diartikan sebagai aliran yang memercayai keesaan Allah dan Nabi Muhammad sebagai pembawa pesan, namun penganut aliran ini tidak sepenuhnya menjalankan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan atau pergi haji.

Sedangkan ayah saya yang sedari kecil tinggal di lingkungan ajaran Islam yang kental menjadi sangat moderat sekarang ini. Tetap menjalankan kewajiban salat dan puasa, bahkan sering mengikuti pengajian rutin dengan ustaz tidak membatasinya untuk belajar agama lain. 

Masih senter di ingatan saya bahwa setiap pagi dan sore hari beliau menonton acara televisi tentang ilmu filsafat yang disampaikan oleh seorang Biksu dalam saluran TV lokal.

Pernah suatu kali saya memprotes kenapa harus menonton acara yang membahas budi dhamma dari Buddha daripada memperdalam ilmu agama sendiri dari ceramah dan kajian. Beliau hanya menjawab, “semua agama mengajarkan kebaikan dan tidak ada yang salah dari belajar agama lain.”

Belajar agama lain bukan berarti kita berhenti meyakini agama yang sedang kita anut sekarang. Belajar agama lain juga bukan berarti kita mengimani Tuhan atau kitab agama tersebut dan membuat kita berpindah agama. Tidak. Tidak sesempit itu. Perintah ayah kala itu, “Ambil yang baik menurut kita untuk bekal kehidupan.”

Sepemahaman ayah saya kala itu, Dhamma adalah cara manusia menjalani hidup dengan kebaikan dan pikiran yang tenang melalui meditasi. Mendengarkan biksu berseru seperti mendengar motivator katanya. 

Dan pada akhirnya, sedikit banyak, saya juga mulai mengikuti kebiasaan ayah saya untuk lebih terbuka dan banyak belajar tentang ajaran agama lain. Bukan hanya agama lain, tapi juga aliran lain dalam agama yang saya anut sendiri.

Sekitar tahun 2010, entah apa yang membuat keluarga besar saya berevolusi untuk lebih memperdalam keislamannya dan mulai meninggalkan ritual ritual kejawen. Yang jelas, perbedaan itu membuat keluarga saya yang dulunya beragam menjadi agak seragam. Agak seragam.

Dalam pertemuan keluarga, selalu disematkan sesi kajian dan ceramah tentang menjalankan kehidupan sebagai seorang muslim. Tapi tetap saja banyak perbedaan pendapat dalam penyampaian dan praktiknya.

Pernah suatu kali saat pengajian keluarga, pakde berkhotbah, “Kalau salam waktu salat tuh cuma Assalamualaikum, nggak boleh dilanjut Warrahmatullah apalagi sampe Wabarakatuuh.” 

Spontan saja saya menjawab, “Lah, kenapa gitu?”

“Ya gak boleh pokoknya,” jawab beliau singkat. 

Kemudian para orang tua menimpali, “Yowes aturane begitu. Gaboleh bantah. Wis ket jaman dulu ya begitu.” Tidak masuk akal bagi saya.

Mungkin bagi saya dan para sepupu yang masih dalam fase dewasa muda dan memiliki pemikiran yang kritis dan berontak, menjalankan suatu hal akan sangat berarti jika kami mengetahui dasar-dasar ilmunya dan sebab musababnya. Tapi berbeda dengan tetua di keluarga kami yang berprinsip bahwa yang diwariskan leluhur adalah yang paling benar. Kami tidak setuju.

Bagaimana jika yang diajarkan leluhur kita itu masih kurang sesuai dengan Alquran dan Hadis? Bagaimana jika yang diajarkan leluhur kita itu adalah ritual kebudayaan yang dipadukan dengan ajaran Islam? 

Bagi saya sendiri, mengikuti ajaran atau warisan leluhur tentang menjalankan ritual atau beribadah bukan merupakan perbuatan yang salah atau menyimpang.

Tetapi, yang harus dipahami di sini adalah manakah ritual atau ibadah yang berdasarkan budaya kesukuan dan manakah ritual atau ibadah yang berdasarkan ajaran agama. Di mana ada aturan yang jelas dan mendasar atau panduan yang sesuai untuk menjalankan ritual tersebut, baik ritual keagamaan maupun ritual kebudayaan.

Dalam pemikiran saya, ada dua tipe dalam menjadi seorang muslim: muslim yang pintar dan muslim yang cerdas. Muslim yang pintar akan mematuhi segala anjuran atau ilmu yang didapat atau yang pernah ia dengar, misal dari ustaz atau orang yang menurutnya ahli dan lebih lama dalam mempelajari dan menjalankan agama Islam termasuk tetua dalam keluarga; kemudian tidak dipertimbangkan dan tidak dipastikan kevalidannya.

Bagi saya, hal ini masih kental dan banyak dianut oleh keluarga saya karena merupakan bentuk dari norma penghormatan dan kepatuhan kepada tokoh yang strata sosialnya lebih tinggi. Sedangkan muslim yang cerdas akan mencari kebenaran dengan mengembalikan apa yang ia tahu dan yang ia dapat kepada Alquran dan Hadis kemudian mematuhi dan menjalankan ajaran tersebut dengan penuh kesadaran dan dorongan dari diri sendiri.

Menjadi muslim yang pintar atau yang cerdas merupakan sebuah pilihan. Sebagai muslim yang pintar, seharusnya kita banyak sadar dan belajar agar tidak mudah terprovokasi dan dimanfaatkan oleh orang orang yang memiliki kekuasaan karena dewasa ini seperti yang kita ketahui, agama pun dijadikan senjata untuk berpolitisi.

Sedangkan menjadi muslim yang cerdas juga tetap harus berada dalam haluan aturan agama sehingga tujuan untuk mencari mana yang benar akan tetap didapat, bukan menjadi yang paling tahu dan jadi yang paling benar. Manakah peran yang paling baik bagi kita akan bergantung pada kebebasan hati nurani setiap individu yang menjalankan.

Maka dari itu, seberaneka ragam keyakinan, aliran, dan agama di sekitar kita, sedikit banyak akan memengaruhi pola pikir dan pandangan kita dalam berperilaku dalam beribadah. Seragam atau tidak, akan tetap ada perbedaan pendapat. Selebihnya, semua bergantung pada diri sendiri untuk menunjukkan bagaimanakan jati diri kita sebagai umat beragama pada umumnya.